Fiat Lux

Minggu, 10 Februari 2013

Prolog: Seri Setengah Pantura Jawa Tengah

00.08 Posted by Arasy Aziz 7 comments

"The World is a book, and who those do not travel read only a page."
St, Augustine

Titik Awal. Kalo tak salah ingat, amat jarang rasanya saya mejeng di blog sendiri.

1..2..3..saya alpa menghitung berapa kali tengkuk saya meremang. Vakansi dalam mode meransel lima hari ini luar biasa dan memaksa bulu kuduk saya berdiri berulang. Kami memilih rute jalur pantura dengan lanskap hutan gunung sawah lautan sepanjang jalan, tambak-tambak garam, semangat pluralitas di Lasem, jejak-jejak Kartini, penghargaan keberagaman a la Sunan Kudus dan heroisme Palagan Ambarawa.

Jalur pantura membentang sepanjang 1.316 km dari Merak ke Banyuwangi, melintasi lima provinsi di pulau Jawa. Hitungan kasar saya, kami menjelajah seperenamnya. Berdasarkan catatan yang saya kumpulkan, wisata jalur pantura didominasi oleh destinasi pantai dan religi. Yang saya sebut belakangan tak lepas dari sejarah penyebaran agama Islam di tanah Jawa dan kisah Wali Sanga. Selain itu pantura diwarnai pula oleh cerita kebudayaan peranakan tionghoa dengan latar sejarah panjang. Terhitung tujuh kali rombongan Laksamana Cheng Hoo alias Ma He alais Sam Poo Kong menyandarkan armada di pantai-pantai utara Jawa dalam ekspedisi menyuarakan kebesaran eksistensi Dinasti Ming. Sebagian kru kapalnya memilih tidak melanjutkan perjalanan, menetap, beranak-pinak, membangun peradaban.

Perjalanan ke setengah bagian pantai utara Jawa Tengah ini awalnya merupakan rencana cadangan dalam mengisi waktu liburan. Momentumnya sangat tepat. Sebelumnya saya cukup direpotkan dengan urusan KRS yang konon online, namun harus diakhiri dengan validasi di kampus. Trip kali ini saya ditemani dua orang kawan, sebut saja Novada dan Marvey. Kami bertiga memiliki modus berbeda. Saya fokus pada wisata arsitektural, budaya dan alasan-alasan personal lainnya. Novada yang berniat menemukan gadis-gadis layak simak dari berbagai belahan Indonesia dan Marvey yang (konon) berburu ragam kulinari. Tujuan kami satu persatu terpenuhi, dengan silang-campur pada prosesnya. Belakangan, misalnya, saya dan Marvey ikut-ikutan Novada menyimak gadis-gadis SMA Semarang yang bergerak pulang sekolah. Sindroma jomblo akut.

Saya harus berterima kasih kepada menara-menara suar yang turut membantu perjalanan kami. Perjalanan kami dibuka dengan momen salah turun dari bus, yang memaksa kami merepotkan Launa. Launa kemudian bersedia menjemput kami, menyediakan makan siang yang lezat, dan menjadikan rumahnya titik tolak keberangkatan.Selanjutnya Zahir yang menyediakan kontrakannya untuk kami bermukim selama menjelajah Semarang, Raras dengan sumbangan destinasinya dan Veda dengan informasi berharga tentang jam pulang SMA di Semarang. Tak luput setiap individu di pinggir jalan yang berkenan menunjukkan arah.

Ibarat gadis kecil yang menjahit bonekanya dari kain perca, saya sedang berupaya menyulam pecahan-pecahan penyusun Indonesia, yang dalam bayangan saya akan bermanfaat guna meretas jalan negarawan saya sendiri. Mereka bebas kalimat Soe Hok Gie bahwa 'Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat'. Jika kamu masih menerka bagaimana keindahan negara kita sesungguhnya, kami melihat dengan mata kepala sendiri alasan-alasan mengapa tanah air merdeka kita layak dirawat dan dibanggakan. Mulailah iri.

7 komentar:

  1. Wuhuu! Backpack lagi? Asiknya
    pertama kali mejeng di blog sendiri ya? Wah, coba deh pake bando ras, mungkin lucu, haha :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. ngga iri kok ndrong. because I walk in the same path also :p

    BalasHapus