Fiat Lux

Rabu, 31 Januari 2018

Bukittinggi: Kesan-kesan Pertama

06.52 Posted by Arasy Aziz , , , 2 comments
Saya mengecek ponsel pintar saya sebelum turun dari bus Bengkulu-Bukittinggi. Jam saya menunjukkan pukul 9 lebih sedikit. Sisa-sisa penumpang di dalam bus turun perlahan-lahan, memastikan diri tidak terjerembab ke aspal keras terminal. Sesekali kernet bus membantu orang-orang yang lebih tua dan renta, sebelum dimintai tolong mengambil barang di bagasi. Kerumunan telah berpindah dari lorong ke lambung kanan bus, memastikan barang bawaan mereka lengkap dan baik-baik saja.

Saya sendiri tak membawa bagasi. Bekal saya hanya satu tas ransel kuliah. Yang saya lakukan pertama kali ketika menjejak tanah adalah minum air sebanyak-banyaknya. Di hari-hari biasa, saya bisa menghabiskan air seliter dua dalam sehari. Dalam perjalanan 18 jam Bengkulu-Bukittinggi, kebiasaan itu terpaksa saya tinggalkan sejenak untuk memastikan agar tidak berkali-kali harus buang air kecil. Walaupun di dalam bus tersedia toilet, namun bolak-balik ke sana jelas merepotkan. Toilet itu terletak di pojok belakang badan bus, sementara saya kebagian kursi hanya dua baris di belakang pengemudi.

Setelah segala urusan dahaga dituntaskan, saya mulai merenggang-renggangkan badan yang terasa patah-patah. Rasanya, saya belum pernah duduk berkendara selama ini. Waktu tempuh kereta Matarmaja Malang-Jakarta pun sama panjangnya. Namun kereta api masih memungkinkan kita berjalan-jalan sesekali. Sementara di bus, kita dituntut untuk diam semata-mata.

Diam-diam, saya mulai membayangkan kasur yang empuk.

Saya bergegas membuka aplikasi penyedia jasa travel, dan mulai mencari-cari hotel.  Sejak semula, perjalanan ini saya rancang tanpa itenerary yang kaku. Semuanya saya biarkan dilakukan dengan spontan berdasarkan pikiran sepintas lalu. Tujuan-tujuan dan akomodasinya direncanakan dan dieksekusi dalam waktu yang bersamaan. Pada mulanya, model seperti ini tampak menawarkan keseruan-keseruan yang tak terduga. Apalagi perkembangan pesat teknologi digital hari ini semakin memudahkan perjalanan-perjalanan. Namun ada sisi-sisi pahit yang muncul kemudian, dana akan saya ceritakan pada bagian yang lain.

Aplikasi saya segera menunjukkan hotel murah bernama NZSW yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari terminal Aur Kuning. NZSW menyewakan ruangan berkasur tunggal, dengan kamar mandi berair panas dan kipas angin. Peranti yang disebut belakang rasanya tidak benar-benar diperlukan, mengingat dingin telah menyergap saya sejak menjejakkan kaki di kota ini. Hawa dingin mejadi identik dengan Bukittinggi karena letaknya yang menyempil di dataran tinggi Minangkabau, diapit gunung Singgalang dan Marapi, 909-941 meter di atas pemukaan laut. Tanpa ragu, saya mengambil tawaran NZSW itu.

Saya sempat mengalami disorientasi ketika mencoba menentukan arah mata angin dan nama jalan yang menjadi alamat NZSW dari titik mula saya. Saya hampir berbelok ke arah yang salah, sebelum seorang bapak yang tengah mengaso memperbaiki kekeliruan saya. Pencarian lokasi selebihnya  saya serahkan kepada asistensi Google Maps.

Tak kurang dari 10 menit, saya telah tiba di depan hotel itu. Dari luar, tidak ada identitas apapun yang menandai eksistensi NZSW. Papan namanya baru terpampang besar-besar di belakang meja resepsionis, segera setelah kita memasuki lobby hotel: NZSW, dengan tambahan anak nama “Khusus Sales”. Belakangan saya ketahui bahwa anak nama itu berarti harfiah. Hotel ini, termasuk sejumlah fasilitas pendukungnya, mulanya hanya disediakan khusus pedagang keliling yang tengah singgah di Bukittinggi. Termasuk motor rental yang tidak disewakan untuk tamu umum. Entah apa alasannya.

Yang juga cukup mengecewakan, hotel ini rupanya tidak membolehkan tamu untuk check in sebelum waktu yang ditentukan, yaitu pukul 14.00. Artinya, saya masih harus menunggu beberapa jam lagi untuk merebahkan diri.  Beruntung, mereka masih berbaik hati untuk meminjamkan toilet, sehingga saya bisa menunaikan hajat. Di lobby juga tersedia sejumlah port listrik yang bersebelahan dengan bangku-bangku jati. Saya memanfaatkannya untuk mengisi ulang baterai gawai-gawai yang hampir habis, sebelum memutuskan untuk langsung mengelilingi Bukittinggi terlebih dahulu.

Bukittinggi merupakan salah satu kota modern tertua di bumi Andalas. Sejarah keramaiannya telah dimulai sejak periode yang amat lampau, ketika orang-orang Minang yang permulaan menjadikannya pusat perdagangan. Lokasinya sangat strategis, terletak pada irisan-irisan Luhak Nan Tigo: Tanah Datar, Agam dan Lima Puluh (Lima Puluah). Luhak nan Tigo sendiri menandai ruang-ruang hidup tertua dalam sejarah masyarakat Minang. Dari ketiganya, peradaban Minang dimulai dan menyebarluas ke wilayah yang lebih rendah. Saya mebayangkan, Bukittinggi pada masa itu menjadi wadah silaturahim antara saudara sesuku yang terpisah jarak.

Pecahnya perang Padri pada 1803 secara langsung semakin menguatkan fungsi Bukittinggi sebagai kota modern. Konstelasi perang yang dimulai oleh kaum padri (ulama) dan kaum adat itu segera berubah ketika Belanda mulai dilibatkan. Awalnya diundang untuk membantu kaum adat melawan kaum padri, Belanda justru menjelma menjadi musuh bersama. Seiring dengan persatuan masyarakat Minang di bawah panji bersama, Belanda mulai memindahkan pusat militernya ke tempat baru, yang menjadi kota Bukittinggi pada hari ini. Sebagian besar peninggalan dari era itu kini tersebar di penjuru kota, dan menjadi pusat-pusat perhatian pariwisata.

Saya mengarah ke tengaran (landmark) Bukittinggi yang paling terkenal: Jam Gadang. Resepsionis NZSW mengarahkan saya untuk menaiki angkot merah. Ia tak lupa mengingatkan bahwa salah satu provider ojek daring telah tersedia jasanya di kota ini. Saya memilih naik angkot.


Mulanya saya mengira bahwa Jam Gadang akan tampak begitu saja dari dalam angkot, sehingga saya akan segera tau harus turun di mana. Bangunan ini harusnya tampak mencolok dengan ketinggiannya. Namun bermenit-menit kemudian saya mulai meragukan keyakinan saya sendiri. Pada salah satu pusat keramaian, secara instingtif saya memutuskan bertanya ke salah satu penumpang. “Di mana harus turun kalau mau ke Jam Gadang, uni?” Ia menjawab bahwa saya harusnya turun di sini, sekarang juga, sembari meminta angkot menepi. Saya berterima kasih kepadanya, dan memberikan selembar lima ribuan kepada pengemudi angkot. Si pengemudi menyerahkan selembar dua ribu sebagai kembalian.

Pusat keramaian ini dikenal sebagai Pasar Ateh atau Pasar Atas. Di tengah-tengahnya, pada sebuah plaza yang cukup luas, berdiri Jam Gadang yang mahsyur itu.

Dibanding Pasar Ateh, usia Jam Gadang sesungguhnya relatif lebih muda. Pasar Ateh telah didirikan sejak 1858 oleh administrasi kolonial, seiring dengan pertumbuhan Bukittinggi pasca perang Padri. Adapun pembangunan Jam Gadang diselesaikan pada tahun 1926, sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, kontrolir Bukittinggi pada masanya.  Menariknya, menara ini dibangun tanpa adukan semen sama sekali. Strukturnya tersusun atas campuran pasir, batu, kapur dan putih telur. Mesin jamnya dipesan dari sebuah pabrik di Jerman.

Perubahan rezim yang terjadi di nusa antara sepanjang abad 20 turut berimbas pada rona-rona wajah Jam Gadang, terutama pada ornament yang melingkupi pucuknya. Pada mulanya, Jam Gadang mengenakan “topi” runcing dengan patung ayam jantan di puncaknya.  Ketika Jepang masuk dan menggantikan administrasi Hindia Belanda pada 1942, ornamen itu segera berganti dengan bentuk atap yang khas, terinspirasi dari kuil-kuil Shinto di Jepang. Barulah setalah Indonesia merdeka, pemerintah meletakkan atap bergonjong di puncaknya, meniru bentuk rumah adat Minangkabau.

Pada siang yang mulai menerik itu, plaza di seputaran Jam Gadang sedang ramai-ramainya. Ribuan manusia menyemut dalam sekali waktu. Namun suasana yang riuh tak melunturkan kharisma sang menara. Jam Gadang yang seputih pualam berdiri tegak, berpendar-pendar kontras memantulkan cahaya matahari.

Puas mengambil gambar, saya kemudian bergeser ke bagian dalam pasar, mengamati aktivitas jual beli yang berlangsung riuh. Sebagian besar pedagang di dalam memilih berjualan tanda mata khas Bukittinggi dalam beragam bentuk. Dari pernik dan aksesoris-aksesoris mini, tees dengan ungkapan-ungkapan jenaka dalam bahasa Minang, hingga miniatur Jam Gadang dalam beragam ukuran. Selain oleh-oleh, para pedagang yang lain juga menawarkan berbagai produk garmen untuk dikenakan di rumah. Mereka adalah pengungsi dari bagian Pasar Ateh yang terbakar setahun silam dan hingga kini belum direnovasi kembali. Beberapa pelancong tampak berhenti sejenak untuk melihat-lihat dan terlibat tawar menawar.

Alih-alih berbelanja, saya sendiri lebih tertarik untuk mencari makan siang. Salah satu segmen kawasan pasar Ateh memang dikenal sebagai pusat kulinari nasi kapau terbaik di Bukittinggi. Ketika saya menemukannya, puluhan lapak nasi kapau tampak berdiri berderet-deret, menguarkan bau ke udara yang langsung memancing produksi saliva. Saya memilih salah satu yang sudah sangat terkenal kelezatannya. Di papan namanya, tertulis nama “Nasi Kapau Uni Lis”. Mata saya setengah berbinar demi mengamati jejeran baskom-baskom berisi masakan kaya bumbu di dalamnya. Saya masuk dan memesan satu porsi dendeng lado ijo. Kesan tentangnya agaknya harus saya ceritakan di segmen berbeda, bersama ragam kulinari lain yang saya coba di bumi Minang.

Ketika urusan dengan logistik telah selesai, saya kembali mengayunkan langkah ke destinasi lain. Kali ini saya menuju ke Fort de Kock, di belahan kota yang lain. Kota Bukittinggi yang kecil memungkinkan perpindahan antara dua tujuan dijangkau dengan berjalan kaki. Tantangan terbesarnya adalah lanskap kota yang berbukit-bukit. Kadang saya dipaksa mendaki, sebelum menuruni jalan kembali.


Benteng Fort de Kock sendiri memiliki sejarah yang berkelindan erat dengan Bukittinggi tempatnya berdiri. Benteng ini didirikan di tengah periode perang Padri pada tahun 1825, atas inisiatif Kapten Bouer. Nama de Kock diambil dari nama belakang Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada masa itu, Hendrik Merkus de Kock. Keberadaannya menjadi monument bagi perluasan kekuasaan kolonial, yang memanfaatkan retakan-retakan oleh perang saudara di bumi Minang. Belakangan, nama, Fort de Kock justru diabadikan sebagai nama resmi dari Bukittinggi. Fakta ini seolah menggambarkan bahwa bukan Fort de Kock yang sejatinya menjadi basis pertahanan terkuat bagi bangsa Belanda, melainkan topografi Bukittinggi yang berlereng-lereng dan berbukit-bukit. Bukittinggi pun terlindungi oleh parit maha raksasa yang tak dapat dibangun oleh kekuatan manusia manapun. Pagar itu adalah ngarai Sianok, membentang sepanjang 15 kilometer di timur kota.

Dugaan ini tampak relevan apabila kita menengok struktur fisik Fort de Kock. Ia adalah sebuah bangunan persegi dengan tinggi sekitar 6 meter dari permukaan tanah. Puncak-puncaknya memberikan gambaran leluasa ke penjuru kota. Walaupun berat badan bertambah, saya berhasil naik ke sisi ini. Ia tampak berbeda apabila dibandingkan dengan bentuk-bentuk benteng yang pernah saya temui di sisi lain Nusantara. Tidak ada dinding tebal dari batu cadas atau bata yang berkeliling. Tidak ada bastion-bastion dengan moncong meriam tembaga mengarah ke luar. Fort de Kock lebih tampak sebagai menara jaga ke segala ada. Anehnya dengan struktur yang tampak ringkih itu, tiada satupun yang berhasil mengganggu gugat keberadaannya, setidaknya hingga Belanda menyerah ke tangan Jepang pada 1942.




Saya tak berlama-lama di atas Fort de Kock. Di kawasan yang sama juga terdapat suaka marga satwa mini serta taman budaya Minang. Uniknya, kedua sisi ini terletak berseberangan, terbagi dua oleh jurang yang di dasarnya terdapat jalan raya. Satu-satunya akses yang menghubungkan sisi-sisi ini adalah jembatan Limapeh. Dari tengah jembatan, kita dapat mengamati puncak Jam Gadang.

Ketika matahari semakin membakar, saya berjalan kaki sekali lagi untuk mencapai tujuan saya yang lain. Menziarahi masa kecil dia yang namanya hanya saya kenal dari buku-buku sejarah, dari masa lalu bangsa ini. Saya berlalu menuju Rumah Masa Kecil Bung Hatta. Sayangnya ketika saya tiba di sana, pagar rumah tampak terbelit rantai dengan gembok besar menggantung di sela-selanya. Tidak ada aktivitas yang tampak di dalam. Seorang pemilik warung disebelahnya segera member tahu bahwa sang penjaga sedang beristirahat siang. “Kembalilah sekitar jam 2 nanti.”

Saya menengok ponsel pintar saya. Jam digital di antar mukanya menunjukkan waktu yang belum jauh meninggalkan tengah hari. Ke mana saya harus menunggu? Saya iseng membuka browser HP saya, dan mencari kedai kopi menyenangkan di sekitaran Bukittiinggi. Di antara beberapa rekomendasi, saya memilih Taruko. Ia tampak menggoda dan tak biasa karena terletak di dasar ngarai Sianok. Saya beralih ke aplikasi ojek daring, menunggu beberapa detik, sebelum muncul notifikasi bahwa order saya diterima. Di layar tercantum nama Zulfadli. Sang empunya nama segera merapat sekejap kemudian, dan bersiap mengantar saya ke Taruko di dasar Sianok. Belakangan, dari Zulfadli saya mendapat cerita-cerita sederhana namun menarik dari ngarai yang spektakuler itu. (*)

Sekelumit tentang Pusat Kota Bukittinggi:
Selain menjadi tengaran, Jam Gadang juga berfungsi sebagai titik nol kilometer dan penanda pusat kota Bukitinggi. Tidak ada biaya yang dipungut untuk memasuki kawasan ini. Dari Jam Gadang, berbagai destinasi wisata lain relatif dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Semisal Fort de Kock yang hanya berjarak lima menit. Untuk memasuki kawasan Fort de Kock yang merangkap Taman Margasatwa Kinantan, pengunjung harus membeli tiket seharga Rp15.000. Pengunjung akan kembali dipungut tiket seharga Rp10.000 apabila hendak memasuki Rumah Adat Baanjuang.

Saya memilih hotel NZSW untuk menginap di Bukittinggi. Apabila memesan melalui biro perjalanan daring, tarif menginap berkisar Rp150.000. Harga tersebut mencakup fasilitas yang relatif lengkap, yaitu kasur tunggal, kamar mandi dengan air panas, kipas angin, WiFi, televisi, dan air isi ulang bersama. Selain NZSW, tersebar juga beragam penginapan lain dengan harga bervariasi.

Selasa, 30 Januari 2018

Dari Van Der Wijk ke Bukittinggi

10.46 Posted by Arasy Aziz , , , 6 comments

Saya diam-diam menyimpan asa untuk mengunjungi ranah Minang sejak masa Madrasah Aliyah. Pada awal tahun 2018, tepat sehari setelah tahun baru, saya akhirnya berhasil mewujudkannya. Dalam perjalanan panjang di atas bus Bengkulu-Bukittinggi, saya mengingat-ingat kembali mengapa tanah yang melahirkan banyak perumus keindonesiaan kita hari ini layak diziarahi.


Saya membaca Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk untuk pertama kalinya di bangku kelas 2 Madrasah Aliyah. Buku itu bersampul biru gelap dengan sejumput warna putih yang seolah tumpah di atasnya, ibarat buih-buih yang disisakan sapuan gelombang laut.  Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk terselip di antara rak sastra perpustakaan madrasah kami, di antara puluhan judul novel-novel lain. Saya tak benar-benar ingat alasan mengapa memilih membacanya. Barangkali saya tergoda oleh nama penulisnya yang mahsyur, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), atau atas judulnya yang tersusun dari lima kata. Keduanya tercetak di punggung buku, yang segera tampak sepintas lalu ketika ia berdiri dijejerkan.

Yang benar-benar saya ingat kala itu adalah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk tak tuntas saya baca dalam sekali duduk, di sela waktu istirahat pertama kami yang hanya 30 menit. Di akhir waktu yang singkat itu, saya memutuskan meminjam Van Der Wijk untuk dibawa pulang ke asrama.

Ringkasnya, kisah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk berpusat pada kemalangan Zainuddin. Sejak lahirnya, ia dianggap tak berbangsa dan tak beradat karena lahir dari kawin silang yang tak jamak antara seorang putra Minang dan perawan Bugis. Kita tahu bahwa orang-orang Minang adalah suku terbesar di dunia yang masih mempertahankan sistem matrilineal. Artinya, garis keturunan seseorang ditentukan berdasarkan siapa ibunya. Sementara orang-orang Bugis adalah kontrasnya yang berkebalikan, dimana pihak ayah yang menjadi landasan perunutan latar kesukuan seseorang. Dalam situasi berayah Minang beribu Bugis, asal-usul Zainuddin dianggap ganjil dan serba kabur. Ia merantau jauh-jauh ke Batipuh, kampung halaman ayahnya di barat Andalas, hanya demi mendapati penolakan dari keluarganya.

Kesedihan itu sedikit terobati ketika Zainuddin bertemu dengan Hayati. Berawal dari pinjam meminjam payung sepulang mengaji, kedunya terlibat dalam hubungan surat-menyurat yang mendayu. Kebiasaan itu berlanjut sekalipun Zainuddin telah dipaksa pindah ke Padang Panjang. Ini sejenis konspirasi yang dirancang denga sengaja untuk menjauhkan Zainuddin dan Hayati. Ketika memisahkan keduanya tampak tak menghentikan masa-masa manis dan bergairah itu, ninik mamak Hayati mengambil langkah lebih lanjut. Hayati dipaksa untuk menikahi Aziz, seorang pemuda mapan putra ambtenaar kolonial. Tragedi kedua ini tampak lebih berat untuk ditanggung oleh Zainuddin, membikin ia lupa akan masalah ketunabangsaannya.

Belakangan, butuh berhari-hari hingga halaman demi halaman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk benar-benar saya tandaskan. Bagi saya di bangku kelas 2 Madrasah Aliyah, gaya bahasa yang dipilih HAMKA relatif rumit dan sulit dicerna. Ia tampak  bertutur di atas pengaruh naratif hikayat Melayu. Kita mafhum, mengingat pada saat roman itu ditulis, HAMKA menjabat sebagai redaktur di sebuah surat kabar di Medan, pusat kebudayaan Melayu Deli. Ada bunga-bunga kalimat di sana-sini, yang dihela-hela agar tampak puitik. Struktur bahasanya mengikuti ejaan zamannya, pada tahun-tahun ketika roman itu ditulis, 1938. Kadang-kadang, saya membaca satu dua paragraf berkali-kali, sebelum mencermati segmen-segmen cerita yang lain.

Di antara kesulitan-kesulitan itu, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk menyisakan banyak hal yang membekas di benak saya. Yang terbayang-bayang adalah gambaran mengenai keindahan sisi-sisi dataran tinggi Minangkabau yang diapit oleh gunung-gunung berapi. Kadang-kadang, dapat saya dengar sayup-sayup nyanyian dari seruling pada pagi yang dingin di tepian danau Singkarak, atau pemandangan mata elang rumah-rumah gadang yang berdiri di tengah sawah-sawah muda.

Kadang-kadang, saya merasa sebagai orang Minang yang lahir di tempat lain. Ragam bahasa jerman memiliki kosa kata yang menandai fenomena itu: fernweh. Kerinduan kepada tanah-tanah yang belum pernah kita pijaki.

Dalam Van Der Wijk, beberapa kali keindahan yang layak dirindukan itu menemui bentuk dalam diri Hayati. Hayati adalah “lambaian gunung Merapi, yang terkumpul padanya keindahan adat istiadat yang kokoh dan keindahan model sekarang.” Hayati adalah kembang yang berpendar di dalam rumah gadang ninik mamaknya.

Beberapa tahun kemudian, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk diangkat ke layar lebar, memberi gambaran visual yang semakin tajam dan lengkap tentang kecantikan alam Minangkabau. Air permukaan danau di subuh yang dingin menjadi latar tempat bagi kegelisahan Zainuddin. Di tepiannya, Zainuddin kerap digambarkan menulis syair-syairnya, curahan kegelisahannya. Matahari belum naik hingga sepenggalan, dalam terang yang masih samar, menampilkan lanskap memukau dan tragis sekaligus.


Ketika cakrawala saya semakin meluas, rasa "rindu" kepada tanah Minang tak lagi sekadar tentang kehendak untuk menziarahi realitas Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Semakin banyak saya membaca, semakin saya menyadari bahwa tanah ini juga merupakan rahim dari tokoh-tokoh bangsa yang saya kagumi. Menyebutnya satu per satu tak akan habis. Dari Tan Malaka, Muhammad Yamin hingga Bung Hatta. Dari HAMKA sendiri, AA Navis, hingga Raudhal Tanjung Banua yang saya gemari cerpen-cerpennya. Pun, masing-masing mewakili bias politik yang berbeda-beda.

Demokrasi untuk Indonesia, biografi pemikiran politik Hatta yang ditulis Zulfikri Suleman, menautkan muasal dari tradisi intelektual ini pada nilai-nilai dan pepatah-petitih yang diwariskan masyarakat Minang sendiri. Suleman menilai, terdapat kecenderungan egaliter dalam dinamika sosial masyarakat Minang. Orang-orang Minang telah lama membentuk perspektif kesetaraan antara satu manusia dengan manusia yang lain. Sekalipun di dalam setiap individu ditemukan
“perbedaan fungsional … tidak menghilangkan kesamaan nilai masing-masingnya, seperti dijelaskan dalam ungkapan: Nan buto paambuih lasuang, nan pakak palapeh badie, nan lumpuah pauni rumah, nan kuek pambao baban, nan binguang di suruoh-suruoh, nan cadiek lawan barundiang (yang buta penghembus lesung, yang tuli penembak bedil, yang lumpuh penunggu rumah, yang kuat pembawa beban, yang bingung disuruh-suruh, yang cerdik untuk lawan berunding).”

Setiap manusia dianggap memiliki keunggulan yang memungkinkan mereka berhimpun dalam masyarakat guna melengkapi kekurangan satu dengan yang lain. Saling hormat-menghormati, tanpa praduga yang merendahkan kemampuan masing-masing. Situasi ini, sebagaimana didalilkan Habermas puluhan tahun silam, adalah kondisi ideal agar diskursus dalam berlangsung dengan kondusif. Dengan terbentuknya ruang diskursif, pembentukan wacana dapat diselenggarakan dengan memadai. Memudahkan literasi anggota-anggotanya.

Di dalam alam sosial Minang, giat literasi itu mewujud secara fisik dalam pranata surau. Sejak muda, anak-anak Minang didorong untuk mengaji dan mempelajari kitab-kitab klasik. Beberapa orang yang saya temui nantinya di dalam perjalanan saya mengamini fungsi penting surau hingga hari ini. Semisal Amzal, sosok pegawai yang menjaga rumah kelahiran Bung Hatta. Pria paruh baya itu mengaku masih mendorong ketiga anaknya untuk mengaji di surau, dan diam-diam sibuk memikirkan penyelenggaraan khataman Quran si sulung. Di Minang, kelulusan dari surau tampak dirayakan sama meriahnya dengan momen-momen kegembiraan yang lain.

Orang-orang Minang pun memegang prinsip “baa di urang, baa di awak”: apabila seseorang mampu, kita pun pastilah bisa melakukannya. Mereka dididik untuk terus berusaha demi mencapai kemajuan individu. Kemajuan ini didapat dari proses belajar yang terus menerus, dari sumber ilmu di seluruh penjuru bumi. Seiring sejalan dengan kredo “alam takambang jadi guru”, alam semesta sebagai guru seumur hidup.

Tentu saja sekadar menjadi pejalan dalam hitungan hari tak akan membuat saya tuntas mempelajari nilai-nilai luhur itu. Namun kesemuanya lebih dari cukup sebagai alasan untuk berziarah ke Minangkabau minimal sekali seumur hidup. Ziarah kepada gambaran molek di dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, hinga kekaguman saya kepada sosok-sosok terbaik yang mungkin tak dapat dilahirkan untuk kali kedua di Indonesia hari ini.

Ketika perjalanan di Bengkulu saya tuntaskan, arah kompas saya arahkan ke utara. Ke alam Minangkabau yang permai. Rencana awalnya, pengeluyuran saya akan dimulai dari Bukittinggi, terus ke utara menuju danau Maninjau, sebelum mengakhirinya di Padang, ibukota provinsi Sumatera Barat.

Baca juga cerita-cerita dari Bengkulu:  
Marlborough, Marlborough
Sekuens Merah

Sisa-sisa pesta tahun baru 2018 masih tertinggal di jalanan Bengkulu, ketika saya bergerak meninggalkan Hotel Bidadari. Dari sana, saya berpisah dengan Fani, kekasih saya, yang pada hari yang sama akan kembali ke Jakarta. Dia akan pulang kepada rutinitasnya sebagai unit kreatif sebuah perusahaan pemasaran digital, sementara saya melanjutkan liburan yang masih sangat panjang. Saya diantar oleh salah satu pegawai hotelnya, yang secara kebetulan, merupakan putra Bukittinggi. Fani memanggilnya Om E. Darinya pula saya mendapatkan banyak informasi penting soal kota Bukittinggi yang luput teramati di internet.

Bengkulu ke Bukittinggi dapat diakses secara langsung dengan kendaraan darat. Saya memilih menaiki salah satu armada bus yang yang rutin digunakan Om E apabila hendak mudik ke kota asalnya. Walaupun terletak bersisian atas bawah di peta Indonesia, perjalanan Bengkulu ke Sumatera Barat rupanya memakan waktu yang cukup lama. Dalam situasi normal, bus harus bergesekan dengan panas aspal selama 18 jam. Bus-bus tersebut memang memilih rute yang sedikit memutar. Mereka akan menuju ke kota Lubuk Linggau di Sumatera Selatan terlebih dahulu, kemudian Jambi, baru bergerak ke Timur Laut, memasuki wilayah Sumatera Barat. Pukul 11 lewat sedikit, di bawah terik matahari Bengkulu yang memanggang, bus berarak meninggalkan kota.

Lepas Curup, ibukota kabupaten Rejang Lebong, laju bus mulai tampak tersendat. Kemacetan yang awalnya tampak satu dua, mulai kelihatan mengular dan berkilo-kilo panjangnya. Walaupun menggelisahkan, waktu tak benar-benar terasa terbuang oleh pemandangan di kanan-kiri jalan. Bus kami terjebak di tengah sebuah kawasan dataran tinggi dengan hamparan kebun sayur mayur yang menjangkau kaki-kaki Bukit Barisan. Ketika bus berjalan, pemandangann berganti dengan kebun-kebun bunga yang tengah mekar. Saya terkagum-kagum diam-diam, Butuh dua jam hingga kami tiba di ujung simpul kemacetan, yaitu sebuah kawasan danau buatan yang tampaknya tengah ramai. Danau elok itu terletak di tepian jalan lintas Bengkulu-Linggau. Tak terhitung jumlah kendaraan yang berhenti sekenanya untuk menikmati panorama.



Bus kami akhirnya beristirahat sejenak di Lubuk Linggau untuk makan malam. Sisa perjalanan yang masih berjam-jam lagi saya habiskan dengan tidur yang tak benar-benar lelap. Keesokan paginya, saya terbangun oleh alarm HP saya yang lupa dimatikan. Waktu menunjukkan hampir setengah 6 lewat, lepas waktu subuh di wilayah Sumatera Barat. Bus singgah sekali lagi di salah satu masjid, sebelum kembali melaju. Kami telah memasuki wilayah Solok.

Bus kami lalu berkelok-kelok sedikit, hingga lepas salah satu tikungan, pemandangan bukit dan perumahan berganti dengan muka air yang meluas. Sepanjang mata memandang hanya ada air, kemudian air lagi, hingga ke ujung-ujung yang berbatasan dengan gunung-gunung di sisi seberang. Permukaannya tampak tenang dan tidak beriak, memantulkan sisa-sisa gelap malam yang hampir berganti. Dari jendela bus, sisa gelap itu tampak membungkus sampan-sampan yang bergerak di atas danau. Bus masih melaju perlahan di jalan sempit yang masih berkelok, sebelah menyebelah dengan tepi-tepi air. Kadang-kadang, jalan itu beririsan dengan rel-rel kereta yang telah mati dan ditinggalkan,

Kami telah memasuki kawasan danau Singkarak. Kami telah memasuki latar yang bisu dari tragedi cinta Zainuddin dan Hayati.

Mata saya terpaku pada ketenangan Singkarak di pagi yang dingin itu. Sepanjang 30 menit, bus berjalan bersisian dengan muka airnya yang luas. Perlahan, sisa-sisa malam ditelan cahaya malu-malu matahari pagi. Langit beganti dalam layer yang memukau, bersusun-susun antara biru gelap, jingga yang semburat, dan hijau. Hijau dari gunung-gunung di sisi Singkarak yang lain. Cahaya pagi yang hangat membuat gunung-gunung mulai tampak mendetil.

Kadang-kadang, pemandangan tepian Singkarak diselingi dengan permukiman-permukiman rakyat. Atap-atap runcing rumah gadang tampak menyembul di sela-sela rumah-rumah yang lebih modern. Awalnya satu dua, lalu semakin semarak. Sebagian berdiri lapuk, namun sebagian besar sisanya masih tampak terawat dengan baik. Dinding-dindingnya dilumuri dengan warna-warna dan ukiran khas Minang. Lepas subuh, jendela-jendelanya dibiarkan terbuka untuk menyilakan udara sejuk datang bertamu. Saya membayangkan udara itu berputar-putar sejenak di dalam rumah, sementara mamak-mamak di dalamnya memandang keluar dengan secangkir teh yang hampir dingin.

Dari dalam bus, vista yang saya lihat dalam mimpi-mimpi saya menemui wujud materialnya, Danau Singkarak, dataran tinggi, rumah-rumah gadang yang elok itu. Agaknya saya tak dapat menikmatinya dengan cara yang lebih-lebih lagi, kecuali terdiam dan memaku pandangan saya sedalam-dalamnya ke lanskap memukau itu.

Bus masih bergerak, belum sepenuhnya meninggalkan Singkarak, ketika ia melalui sebuah papan penanda wilayah yang segera saya kenali: Batipuh. 

Batipuh hari ini telah menjelma menjadi dua kecamatan yang membentang dari tepian Singkarak hingga ke dataran yang lebih tinggi. Pemandangan tanpa terasa telah berganti, antara muka air yang habis, dengan lahan-lahan pertanian warga yang dikerumuni padi-padi siap panen, bersusun-susun di kaki bukit membentuk unit-unit terasering. Dari puncak jalan yang mendaki, danau Singkarak semakin tampak mengerdil, menjauh.

Apa yang saya lihat hari ini, dari puncak-puncak tanjakan ini, saya bayangkan sebagai pemandangan yang juga disaksikan Zainuddin ketika tiba di Batipuh pertama kali. Bedanya, Zainuddin harus menerima kenyataan pahit yang tak sejalan dengan apa yang dibayangkannya sebagai sebuah tempat peraduan, kampung halaman yang hilang. Alih-alih menjadi kampung, Batipuh justru bersikap sudi tak sudi menghadapi sang manusia yang tuna bangsa itu.

Penelusuran lebih lanjut kemudian menemukan bahwa Batipuh tidak hanya menjadi latar bagi kesunyian Zainuddin. Sejak lama, wilayah ini telah menjadi saksi bagi banyak peristiwa penting dan berdarah-darah dalam sejarah Minangkabau.

Batipuh menjadi salah satu arena pertempuran dalam Perang Padri yang kompleks dan trigunal; dimulai oleh kaum padri (ulama) dan adat secara berhadapan, sebelum militer kolonial terlibat dan mengubah peta kekuatan. Kehadiran Belanda, yang awalnya diharapkan akan membantu kaum adat dalam menghadapi kaum padri, justru menjadi musuh bersama yang mempersatukan keduanya. Perang Padri pada akhirnya memang berhasil diredam pada 1833, namun sisa-sisa duka dan kebencian masih tersisa di hati masyarakat Minang. Apalagi kemenangan itu diikuti dengan perubahan besar-besaran dalam sistem sosial ekonomi masyarakat.

Pada 1841, pecah pemberontakan di Batipuh yang notabene merupakan residu dari Perang Padri. Ada setidaknya dua motif yang melatari perlawanan ini; kehendak Tuan Gadang, regent Tanah Datar, agar diangkat sebagai raja baru kerajaan Pagaruyung, serta kebijakan tanam paksa yang amat menyengsarakan rakyat. Sisa-sisa kebijakan itu adalah kebun-kebun kopi yang tersebar di beberapa sudut wilayah ini.

Lokasi Batipuh dan daerah sekitarnya memang serba strategis, dijepit oleh hawa dingin dan tanah subur limpasan gunung Singgalang dan ruah air dari Singkarak. Inilah anugerah alam dan paradoks Batipuh yang berulang kali digambarkan HAMKA terpersonifikasi dalam diri Hayati, dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Menyulitkan Zainuddin untuk sekadar pindah ke Padang Panjang dan meninggalkan gadis yang dipujanya.

Mulanya saya membayangkan bahwa jarak Batipuh-Padang Panjang tentulah memang jauh. Ternyata, kedua wilayah ini berbatasan satu sama lain. Sebelum saya tersadar dari khayalan saya yang bercampur baur antara alam fiksi dan realitas Batipuh, bus kami telah memasuki gerbang kota Padang Panjang. Sebagaimana ditulis HAMKA dalam Van Der Wijk, jarak yang menganga antara Batipuh-Padang Panjang memang semata terbentuk dari budi pekerti dan tabiat Zainuddin sendiri, alih-alih menggambarkan satuan yang aktual.

Bus kami singgah di terminal Padang Panjang untuk menurunkan penumpang. Saya semakin dekat dengan Bukittinggi. Jarak keduanya memang hanya sepelemparan batu. Kurang dari sejam kemudian, hampir pukul 9, bus kami mulai menemukan kemacetan lagi. Pemandangan perkebunan berganti dengan jejeran ruko yang solid dan riuh di tepian jalanan. Saya mulai memasuki kota Bukittinggi. Dengan badannya yang besar, bus kami meliuk di jalanan yang dipenuhi kendaraan pribadi dan angkutan dalam kota. Saya segera tersadar bahwa saya sedang berbagi waktu liburan dengan ribuan anak sekolahan. Pada hari yang belum terlalu siang itu, jalanan Bukittinggi relatif semarak, terutama oleh mobil dengan plat nomor asing.

Sesuai pesan Om E sehari sebelumnya, saya baru turun ketika bus tiba di pemberhentiann terakhirnya, Terminal Aur Kuning Bukittinggi. Udara dingin khas pegunungan segera menyergap saya, di tengah suasana terminal yang riuh oleh kernet bersahut-sahutan. Beberapa tukang ojek juga berusaha menawarkan jasanya kepada saya, namun saya tolak dengan halus. Di terminal yang sama berjejer beragam jenis kendaraan umum lain dengan tujuan yang berbeda-beda pula, dipanaskan, bersiap membawa penumpang ke sisi-sisi lain ranah Minang. Kernet-kernet itu beradu dengan kerongkongannya masing-masing.

Saya minum air banyak-banyak, mengisi dahaga yang saya tahan-tahan untuk mencegah buang air kecil berlebihan di dalam perjalanan, sebelum memulai petualangan di Bukittinggi. (*)

Sekelumit tentang Perjalanan Bengkulu-Bukittinggi:
Kota Bukittingi dapat dijangkau dari Bengkulu dengan perjalanan darat. Saya memilih menggunakan bus SAN dengan biaya Rp200.000. Tiket bus harus dipesan sehari sebelumnya demi mendapatkan nomor kursi yang nyaman serta menghindari kehabisan tiket. Tidak perlu khawatir jika harus buang air kecil di tengah jalan, karena armada SAN umumnya dilengkapi dengan toilet. Beberapa titik layak simak yang dilalui dalam perjalanan ini adalah Danau Dendam Tak Sudah, Liku 9, Dataran Tinggi Curup, dan Danau Singkarak. Bus akan berhenti dua kali untuk istirahat dan makan. Makanan berat per porsi rata-rata dihargai Rp25.000, dengan pilihan lauk beragam.

Selain itu, penerbangan Jakarta-Padang tersedia setiap hari. Di bandara umumnya tersedia jasa travel yang melayani perjalanan menuju Bukittinggi. 

Jumat, 12 Januari 2018

Sekuens Merah

22.37 Posted by Arasy Aziz , , , No comments

Menghabiskan sore dengan berburu foto di Kampung Cina, Bengkulu. Pembenahan yang menarik dan kekinian membuat kawasan tua ini mulai semarak kembali.


Dalam sistem kepercayaan asali orang-orang Tiongkok, kehidupan diyakini tersusun atas lima unsur utama: air, api, kayu, logam, dan tanah. Hubungan kelimanya saling terpaut satu sama lain, bercampur dan beririsan dalam relasi siklikal. Yang satu dapat melemahkan yang lain, atau justru menguatkannya. Masing-masing elemen kemudian direpresentasikan dengan warna yang berbeda-beda. Air dengan hitamnya, api dengan merahnya, kayu dengan birunya, logam dengan hijaunya, dan tanah dengan kuningnya.

Diantara kelimanya, api agaknya paling mencuri perhatian. Ia adalah unsur yang dinamis dalam bentuk antara. Perlambang gairah dan daya hidup, keberuntungan yang hakiki. Jilatan api yang menghangatkan seolah menjadi simbol bagi energi yang direproduksi terus menerus. 2000 tahun silam, orang-orang Tiongkok mulai mengadopsi warna merah sebagai warna kebesarannya. Warna merah dibalurkan ke permukaan berbagai ornamen, ke lampu-lampu, ke dekorasi dinding. Gedung-gedung penting di cat dengan warna merah menyala. Tiongkok hari ini pun masih menggunakan merah sebagai warna kebangsaan.

Hubungan erat dengan warna merah tetap dibawa ke tanah-tanah yang jauh, perantauan-perantauan mereka, termasuk ke nusa antara yang kelak menjadi Indonesia.

Ada banyak argumen yang berkembang mengenai titik mula migrasi orang-orang Tiongkok dengan merahnya, ke Indonesia. Pun demikian dengan alasan dibaliknya. Konon, orang-orang Tiongkok datang pertama kali dengan tujuan untuk menyebarluaskan ajaran agama Buddha. Tarikh kehadiran mereka telah tercatat sejak abad ke-5, oleh nama-nama seperti I Tsing. Pendeta-pendeta yang terkenal itu melakukan pendekatan kepada raja-raja lokal, hingga agama Buddha diadopsi sebagai agama resmi kerajaan.

Banyak pula yang meyakini bahwa mereka datang bergerombol dengan armada Laksamana Cheng Ho yang mengunjungi Jawa pada 1416 M. Ma Huan, juru tulis armada itu mencatat bahwa ketika kapal-kapal berlabuh di pantai utara Jawa, mereka telah disambut oleh kaum mereka sendiri. Orang-orang Tiongkok yang permulaan ini akhirnya bermukim di pesisir, dan terus berlipat ganda.

Keberagaman argumen itu membawa kita pada sebuah simpulan penting: alih-alih dalam satu gelombang besar, orang-orang Tiongkok datang ke Indonesia dalam tahapan demi tahapan yang amat panjang. Melintasi beragam rentang waktu sesuai sejarah perkembangan bangsa ini. Selama periode itu, terjadi pembauran alami antara sang asing dengan penghuni nusa antara. Semisal yang berkelamin laki-laki diantaranya memilih menikah dengan penduduk setempat, menghasilkan keturunan-keturunan dengan label sosial baru; Peranakan Tionghoa.

Namun kolonialisme Eropa menyendat upaya asimilasi itu. Ketika era kolonial Belanda dimulai, diberlakukan hukum perdata baru yang membagi masyarakat nusa antara dalam tiga kelas sosial. Di pucak struktur masyarakat ada orang-orang Eropa. Orang-orang Tionghoa bersama keturunan Timur Tengah ditempatkan di tengah-tengah piramida sosial, sementara masyarakat pribumi didudukkan sebagai kelas terendah. Konstruksi hukum ini sukses besar menarik garis batas antara orang Tionghoa dengan kelas sosial yang lain. Sekalipun tak kasat mata dan seolah hanya mewujud dalam teks, namun batas-batas itu semakin mengisolasi kemungkinan pergerakan sosial sejak dalam bentuk yang paling sederhana, seperti perkawinan.

Penyekatan antar kelas sosial di Hindia Belanda terus dilakukan. Orang-orang Tionghoa dan keturunannya kemudian diberikan previlase sebagai ganti kepatuhan atas pembatasan aktivitas mereka di lapangan politik. Di level penataan kawasan urban, orang-orang Tionghoa semakin terasing dengan tinggal di dalam enclave-enclave yang disediakan kolonial, melahirkan kawasan-kawasan pecinan yang tersebar di seluruh Indonesia. Menghasilkan pemukiman-pemukiman berwarna merah.

Di Bengkulu, encvlave itu jamak dikenal sebagai Kampung Cina.

Letak Kampung Cina di Bengkulu bersebelahan dengan Benteng Marlborough, dan hanya sepelemparan batu dari bibir pantai Panjang. Keduaya dapat diakses dengan berjalan kaki 5 hingga 10 menit. Kampung ini bertumbuh seiring dengan lesakan pertumbuhan orang-orang Tionghoa di Bengkulu pada akhir abad 17. Mereka direkrut secara khusus oleh East Indie Company (EIC), perusahaan dagang inggris, untuk menyokong aktivitas perdagangan lada di Bengkulu. Sebagian besar ditugasi sebagai kuli, dan hanya ada sedikit yang menjalankan aktivitas jual beli.




Warna-warna merah yang dibawa dari Tiongkok daratan segera menjadi unsur dekoratif yang dominan. Menyebar dari klenteng, ke genting dan kusen pintu rumah. Sejalan dengan filosofi dasarnya, warna-warna merah itu memaksa keberuntungan terus menaungi Kampung Cina. Karena kedekatannya dengan Fort Marlborough yang menjadi pusat administrasi kolonial di Bengkulu, kawasan itu segera bertumbuh sebagai poros perputaran uang.  Kampung Cina menjadi pintu ekspor-impor hasil bumi Bengkulu ke luar daerah. Bau lada semakin pekat di tengah transaksi dan pertukaran. Orang-orang Tionghoa perlahan meninggalkan status kuli, dan semakin meramaikan lapangan perniagaan.

Pasca kemerdekaan, Kampung Cina bertahan sebagai pusat perekonomian Bengkulu. Wilayah Kampung Cina semakin semarak dengan toko-toko. Kebijakan Orde Baru yang diskriminatif di bidang politik terhadap orang-orang Tionghoa agaknya memiliki andil terhadap proses pemapanan situasi ini. Perdagangan semakin menjadi profesi stereotip bagi orang-orang Tionghoa.

Namun situasi berubah cepat bagi Kampung Cina pada awal 1980an. Mengutip artikel Aditya Ramadhan, hal ini disebabkan oleh pembangunan sepasang jalan lingkar di seputaran Bengkulu, di sisi barat maupun timur. Keduanya memberikan medan menggiurkan baru bagi calon investor. Toko-toko baru dibuka di sempadannya, masyarakat mulai memperoleh alternatif terhadap kebutuhan dasarnya. Perlahan-lahan, denyut nadi ekonomi bergeser. Kampung Cina ditinggalkan, kehilangan rona merahnya.

Pada hari ini, rona merah telah berganti dominasi warna abu-abu. Satu-satunya aktivitas yang tampak signifikan di Kampung Cina adalah walet-walet yang beterbangan di sore hari. Mereka menghuni rumah-rumah beton yang sengaja dibangun untuk mendulang sarang-sarang mereka. Bentuknya relatif seragam, kotak-kotak dan dingin. Dri kejauhan, rumah-rumah walet tampak mencuat kukuh dari belakang rumah-rumah nelayan di sekelilingnya. Struktur ini menggantikan lunas-lunas lengkung atap rumah berlenggam Tiongkok yang khas.






Adapun manusia-manusia penghuni Kampung Cina tampak lebih menutup diri. Hari masih sore, namun sebagian besar pintu-pintu rumah dan toko ditinggalkan tertutup. Rumah-rumah yang berusia lebih tua dibiarkan tak terurus. Beberapa sudutnya ditumbuhi tanaman gulma dan rumput liar. Pintu-pintu meranggas dan berubah kecokelatan, pada fasenya yang segan hidup, mati pun enggan.

Sore itu, saya dan Fani mengunjungi Kampung Cina. Kami berkendara dari arah pantai Panjang, lalu memasuki salah satu gang di Kampung Cina. Motor kami berhenti di depan salah satu rumah yang hampir rubuh. Menyisakan dinding bata dan tanaman liar yang merayap di hampir semua sudutnya. Pintu dan daun jendela tak lagi ditempatnya. Atapnya hilang tak berbekas, memberikan pandangan leluasa ke langit. Ke lanskap burung-burung walet yang berlalu lalang riuh di udara, menuju peristirahatan artifisialnya.

Saya dan Fani sesekali mengambil gambar, sesekali memerhatikan sisa-sisa kejayaan dalam detil arsitektur Kampung Cina. Suasana sore itu menjadi serba sinematik. Fani mengenakan outfit merah menyala, tampak sebagai satu-satunya yang berpendar-pendar di tengah dominasi abu-abu Kampung Cina. Kehadirannya di tengah-tengah kawasan itu tampak kontras dan ironis.

Namun nuansa muram itu agaknya tak akan berlangsung lebih lama lagi. Secara bertahap, pemerintah kota Bengkulu mulai berusaha mempercantik Kampung Cina, dimulai dari sisinya yang beririsan dengan jalan raya. Rumah-rumah dicat warna-warni, mengikuti tren yang berkembang di kota-kota lain. Trotoar pun diperlebar agar pejalan kaki dapat bergerak lebih leluasa. Di beberapa sisinya dipasang bangku taman cantik untuk rehat sejenak. Kampung Cina mulai menarik perhatian muda-mudi Bengkulu, perlahan-lahan mengembalikan warna merahnya ke dalam bentuknya yang lain. (*)




Sekelumit tentang Kampung Cina, Bengkulu:
Kawasan Kampung Cina terletak di Jl. Panjaitan, Kel. Malabero, Kota Bengkulu. Lokasinya berdekatan dengan Benteng Marlborough. Tidak ada biaya masuk untuk mengunjungi kawasan ini.  Singgah pula ke Kampung Nelayan Marabelo yang terletak berdekatan untuk berbelanja ikan asin dengan berbagai varian.

Kamis, 11 Januari 2018

Marlborough, Marlborough

05.49 Posted by Arasy Aziz , , , 2 comments

Purna mengunjungi Makassar, saya melanjutkan liburan dengan perjalanan setengah tak terencana ke Bengkulu, kota asal kekasih saya, Fani. Ia berkali-kali mengatakan bahwa di Bengkulu “ngga ada apa-apanya.” Namun tak butuh waktu lama bagi saya untuk menemukan sisi-sisi menarik kota ini dan kepiluan-kepiluannya yang terpetrifaksi dalam tubuh Benteng Marlborough. Menyebut nama Marlborough dua kali, menggambarkan dua sisi cerita itu.

  
Bandar Udara Soekarno Hatta, pukul 5.38 pagi.

Mata saya masih terbuka setengahnya, terkantuk-kantuk namun berusaha keras agar tidak terlelap. Kadang-kadang diselanya, saya tertawa-tawa sendiri.

Rasa kantuk itu menjadi alarm alamiah agar saya tidur dengan durasi yang sedikit lebih panjang. Malam sebelumnya, saya baru saja tiba dari Makassar setelah perjalanan hampir seminggu, hanya untuk singgah sekejap di asrama. Semata-mata mengganti logistik perjalanan saya dengan lembar-lembar pakaian yang lebih baru dan meninggalkan barang-barang yang relatif tidak diperlukan. Buku-buku baru pesanan saya dari toko buku online yang telah tiba tak lupa saya masukkan ke dalam tas. Bergantian dengan pendahulu mereka yang telah tuntas saya baca.

Saya kemudian tidur jelang pukul satu, dan terbangun kembali jelang pukul empat. Bersiap-siap, lalu mengejar bus Damri paling pagi menuju bandara kembali. Puluhan menit kemudian, saya tiba di pintu keberangkatan terminal 1B, tempat pesawat-pesawat menuju Sumatera datang dan tinggal landas.

Kali ini, saya hendak menuju ke Bengkulu.

Fani tengah berada di sana untuk menghabiskan jatah liburan akhir tahun dari kantornya. Ia sama sekali tak mengetahui rencana kunjungan saya. Yang ia tahu, saya baru saja tiba dari Makassar dengan letih dan bingung dengan cara menghabiskan sisa liburan yang masih berhari-hari. Padahal di detik yang sama, saya sedang menunggu pesawat menuju kotanya.

Membayangkan reaksinya ketika semerta-merta mengetahui bahwa saya berada di kotanya membuat saya tak bisa menahan geli. Agar kejutan semakin rapi, saya mengiriminya pesan teks berisi keluhan demi keluhan tentang Jakarta yang membosankan.

Di pesawat, saya mulai merancang skenario terbaik untuk memberitahukan kedatangan saya. Ada beberapa pilihan, sejatinya. Pertama, mengekor agenda ziarah ke makam Ayahnya dengan diam-diam. Namun pilihan ini saya urungkan, karena muncul tiba-tiba di komplek pemakaman sepertinya kelewat kurang ajar. Pun, saya khawatir dikira mahluk dari dimensi antara, sejenis siluman jadi-jadian. Pilihan lainnya, saya akan duduk manis di depan resepsionis hotel miliknya, menunggu dia pulang. Pilihan ini saya nilai kurang etis, karena tiada satupun orang di sana yang saya kenal. Akhirnya saya memutuskan berfoto saja di depan landmark kota. Pilihan yang tampak paling moderat, aman dan nihil risiko.


Seketika pesawat mendarat di bandara Fatmawati Soekarno, saya bergegas menuju ke Pantai Panjang. Pantai ini bisa jadi merupakan pantai paling terkenal di seantero Bengkulu, membentang lebih dari 7 kilometer dari utara ke selatan. Ia menghadap langsung ke Samudra Hindia tanpa penghalang apapun, menjadikan ombaknya bergulung-gulung dan terlarang untuk dimainkan. Di sana-sini dipancang tanda larangan mandi atau berenang. Sesekali, petugas SAR dengan pakaian oranye menyala akan berpatroli dengan motor-motor trail.

Yang berlalu lalang di tepian pantai siang itu bukan saja petugas-petugas berbaju oranye menyala. Beberapa delman hias disewakan bagi pengunjung yang hendak menyusuri garis pantai namun malas berpeluh-peluh.

Kusir yang belum kebagian penumpang memarkirkan delmannya di dekat bibir pantai, terantuk-antuk dilamun semilir angin pantai dan suara ombak. Setengah tertidur, kemudian terbangun kembali, utamanya oleh deru mesin motor. Kali ini tukang cendol yang membelah kesunyian antar sadarnya, lalu penjual es tebu.


Pantai Panjang siang itu relatif ramai. Sekolah-sekolah tengah meliburkan diri pasca penerimaan rapor. Turis-turis lokal menyemuti kota Bengkulu dari wilayah-wilayah yang lebih pelosok, dari dataran tinggi di Curup atau Lubuklinggau di pedalaman Sumatera Selatan, demi menghirup udara bergaram. Panas yang mencabik tak menghalangi antusiasme mereka. Anak beranak berlalu dalam rombongan-rombongan kecil di bawah terik matahari. Saya pun memilih salah satu sudut yang relatif lengang dan representatif untuk berswafoto, lalu mengirimkan hasilnya lewat aplikasi pesan instan.

Ponsel saya bergetar sedetik dua, saya mendapat pesan balasan dari Fani. Ia kemudian menelepon saya dengan Facetime, menunjukkan wajah manisnya yang selalu kemerah-merahan itu. Kali ini ia merengut, mengomel sebentar, mencuap serapah-serapah, namun berjanji segera menjemput. Diujung saluran yang lain saya tertawa sepuas-puasnya.

Beberapa menit kemudian, ia tiba dihadapan saya. Kami berpelukan sejenak, lalu pulang dengan beriringan. Sepanjang jalan saya tak bisa berhenti menggodanya. Di hotelnya, saya bertemu dengan keluarganya, sebelum undur diri untuk mengisi siang yang tersisa dengan tidur.

##

Sore hari, saya terbangun oleh ketukan pelan di pintu kamar saya. Sayup-sayup, saya dapat mendengar Fani memanggil-manggil nama saya. Saya diminta bangun dengan segera. Ia rupanya mendapat kunjungan kejutan yang lain. Tantenya sekeluarga baru saja tiba dari perjalanan panjang Pekanbaru-Bengkulu, dan mereka hendak mengajak saya berkenalan. Saya bergegas mencuci muka, berganti baju, lalu menemui mereka; Tante Ema, Om Darwan dan kedua anaknya. Kami bercuap-cuap sebentar. Sejurus kemudian saya sudah diajak untuk berkeliling kota. Tujuan utamanya adalah ikon Bengkulu yang lain, Fort Marlborough. Sebelumnya ketika mengatakan hendak ke Bengkulu kepada Fani, benteng ini selalu saya sebut berkali-kali. Keindahannya memang telah tanggung kesohor.

Perjalanan menuju Fort Marlborough adalah perjalanan menelusuri garis Pantai Panjang. Semakin sore, pantai itu semakin padat oleh pengunjung. Jalan yang tadinya lengang kini disemuti oleh aneka rupa penjaja di bahu-bahunya. Sebagian menawarkan makanan, yang lain menawarkan tanda mata khas Bengkulu. Kendaraan lalu lalang dan berhenti seenaknya mencoba parkir, menimbulkan kemacetan hitungan menit. Saya mengamatinya dari jendela mobil yang terus melaju. Sepanjang perjalanan, saya banyak mengobrol dengan Om Darwan yang punya selera humor yang menyenangkan dan cenderung gelap.

Kami tiba pada seksi Pantai Panjang lain, pada sisi dimana tepian jalan bersebelahan langsung dengan pasir pantai. Pada bagian ini, pondok-pondok kecil didirikan menghadap laut lepas, memberi tempat tetirah bagi pelancong yang hendak menghabiskan sore. Sementara sisi jalan yang lain disesaki oleh aneka ragam restoran. Pintu-pintunya yang menghadap laut menjadikannya eksotik, menjanjikan keleluasaan bau garam masuk ke ruangan-ruangan. Mobil kami kemudian berhenti di salah satunya, sebuah restoran bernama Marola. Kami diminta memilih sendiri ikan-ikan yang akan kami makan. Saya, Fani dan adiknya sepakat memilih seekor kakap merah untuk disantap bertiga. Kami memilih duduk lesehan di salah satu saung, dengan pandangan yang memadai ke kaki langit. Saya memerhatikan dekorasi restoran itu. Beberapa pepatah dalam bahasa setempat dicetak besar-besar dan digantung tersebar.

Usai bersantap, kami kembali kepada perjalanan kami, menuju Marlborough yang telah dekat. Jelang benteng itu, hamparan pasir dan samudera segera berganti dengan lapak-lapak ikan asin berbau pekat. Dari kejauhan, struktur bangunan Marlborough mulai kelihatan. Ia berdiri kukuh membelakangi samudra Hindia, di atas sebuah bukit buatan.


Dari atas tempatnya berdiri, sang benteng agaknya telah menyaksikan banyak hal. Cermin dari paranoia terhadap sang liyan, ekor dari kehendak akan penguasaan absolut atas sumber daya alam. Pada mulanya lada, lalu beranjak kepada emas dan batu bara.

Konteks pendirian Marlborough dapat ditarik jauh sejak masuknya kekuasaan Inggris di Bengkulu pada 1628. Inggris menjadi pihak yang terusir dari pulau Jawa, setelah Belanda berhasil memonopoli pasar. Yang disebut belakangan menjalin persekutuan dengan Kerajaan Banten yang menguasai akses-akses perdagangan di selat Sunda dan laut Jawa. Inggris menjadi pihak yang terusir dan perlu mencari markas baru. Setelah mengelana di utara, pilihan akhirnya dijatuhkan kepada sebuah wilayah di pantai barat Sumatera, bernama Bengkulu. Sejak saat itu, Bengkulu resmi menjadi koloni Inggris, menyempil di antara kekuasaan Belanda yang meluas di seluruh nusa antara.

Memilih Bengkulu, yang notabene terisolasi dari wilayah-wilayah sekitarnya, menunjukkan betapa berat keterdesakan yang tengah dialami Inggris. Sejak gegar kolonialisme dimulai, Bengkulu sama sekali luput dari peta laut perdagangan dunia. Membangun pelabuhan-pelabuhan raksasa menjadi sulit oleh deru samudra Hindia yang berhadap-hadapan tanpa pelindung alami. Situasinya amat timpang dengan pantai-pantai di timur yang bersebelahan dengan selat Malaka. Di Malaka, perairan Karimata dan sekitarnya, kapal-kapal terus berlalu-lalang dari hari ke hari.

Namun dengan segala keterbatasan itu, Inggris berhasil mempertahankan kekuasaan dalam kurun 140 tahun. Sebagai penanda kekuasaan itu, Inggris mendirikan benteng pertamanya, Fort York, di muara sungai Serut. Pemilihan lokasi yang buruk menyebabkan penghuninya menjadi korban rentan wabah disentri dan malaria. Fort York pun didera pelapukan akut, sehingga ketika hujan turun, air akan menggenangi ruangan-ruangannya. Pada awal abad 18, administrator kolonial Inggris kemudian mengajukan proposal pembangunan benteng baru, sembari bernegosiasi dengan feodal-feodal setempat demi lokasi yang lebih strategis. Padal 1714, pembangunan Fort Marlborough dimulai. Tak hanya mendirikan benteng, Inggris bahkan menguruk tanah untuk membuat bukit baru agar posisi mereka menjadi lebih tinggi. Lima tahun kemudian, Marlborough mulai dihuni.


Selama ratusan tahun kekuasaan Inggris di Bengkulu, Marlborough menjadi titik pusat bagi jalannya penjajahan di semua dimensi, terutama politik dan ekonomi. Struktur bangunanannya yang disebut-sebut menyerupai kura-kura seolah menjadi sampel metaforis bagi tempat berlindung yang kokoh. Di sekelilingnya digali parit-parit sebagai jebakan. Beberapa pertempuran kecil kerap pecah dan memakan banyak korban. Yang terkenal adalah Thomas Parr dan ajudannya, yang dimakamkan di dekat pintu masuk benteng.

Kekuasaan Inggris atas Marlborough baru berakhir pada 1824 melalui jalan damai. Dengan perjanjian hitam di atas putih, Inggris dan Belanda saling bertukar Bengkulu dan Singapura. Namun pada saat itu, agaknya problem keterisolasian Bengkulu dari dunia disekelilingnya belum benar-benar selesai. Belanda yang datang belakangan pun tampak alpa mengatasi masalah itu. Berbagai potensi sumber daya alam lain ditemukan. Eksplorasi emas dimulai pada 1890, namun relatif nihil memberikan dampak. Marlborough yang masih berdiri, menjadi saksi kegetiran itu.


Bengkulu hari ini masih menjadi provinsi termiskin di Sumatera. Di banyak bagiannya, presentase  penduduk miskin mencapai lebih dari 20 persen. Permasalahan daerah ini demikian kompleks, sebagian besar dilatari oleh problem infrastruktur dan korupsi yang akut. Wilayah Bengkulu tidak menjadi jalur favorit dalam perjalanan lintas Sumatera. Sebagian kerusakan di jalan rayanya bahkan dibiarkan tak diperbaiki. Bahkan untuk mencapai Padang dan Bukittinggi, bus-bus memilih memutar melalui Sumatera Selatan, Jambi, sebelum masuk ke Sumatera Barat. Bengkulu pun mencetak rekor sebagai satu-satunya daerah yang gubernurnya tiga kali beruntun tersangkut kasus korupsi. Dalam percakapan kami sebelumnya, Om Darwan tanpa ragu menyebut Bengkulu sebagai “kota mati”.

Marlborough saya kelilingi sekali lagi, menebak-nebak kemalangan mana lagi yang telah disaksikannya. Cerita-cerita getir dan masalah-masalah yang perlu dipecahkan.

Saya kemudian memutuskan naik ke salah satu puncak bastionnya, dan segera mengingat kembali sisi lain cerita ini. Cinta yang sedang saya kejar. Dari sana, hamparan biru samudera Hindia segera tampak, meluas ke ujung yang entah. Menghempaskan buih di puncak-puncak gelombang. Pemandangan yang sungguh memanjakan mata. Burung-burung walet terbang bergerombol di atas kepala saya, meyeberang dari satu lingkar langit ke lingkar langit yang lain. Saya menengok ke belakang, kepada Fani, kepada keluarganya, orang-orang baru yang memberikan kehangatan di negeri yang jauh. Lalu tersenyum sendiri. Sekurang-kurangnya dalam kosmos yang lebih sederhana, saya telah memberikan suka cita yang lain bagi benteng ini. Melewati malam-malam dingin.


Saya menatap samudra Hindia sekali lagi, menyadari bahwa masih banyak hal yang perlu dilakukan pemimpin-pemimpin kita untuk membangun negeri ini; Sebuah negeri pasca kolonial yang masih terus berbenah mengejar ketertinggalannya. Memastikan bahwa komunitas maha raksasa ini memang layak untuk dibayangkan, sebagai satu kesatuan saudara yang saling bersolidaitas. (*)

Sekelumit tentang Pantai Panjang dan Fort Marlborough:
Pantai Panjang dan Fort Marlborough adalah dua obyek wisata paling terkenal di Bengkulu, dengan letak yang berdekatan. Masuk pantai Panjang tidak dipungut biaya, sementara Fort Marlborough dikenai tiket masuk seharga Rp. 5000. Keduanya dapat diakses dengan kendaraan online yang kini telah beroperasi di Bengkulu.

Restoran Marola merupakan salah satu restoran seafood paling terkenal di Bengkulu. Biasanya harga ikan di sana dihitung per 100 gram. Terletak di Jalan Pariwisata. Untuk tempat menginap, saya merekomendasikan Hotel Bidadari yang terletak di ruas jalan yang sama. Room rate-nya berkisar pada harga Rp. 150.000-Rp. 250.000, dengan keistimewaan akses langsung ke pantai Panjang. Terima kasih kepada Fani sekeluarga yang telah menerima saya dengan sangat baik.