Fiat Lux

Kamis, 04 April 2013

Chavez

21.41 Posted by Arasy Aziz No comments
source: nationalgeographic.co.id

Sudah sebulan, kalau saya tidak salah menghitung, sejak Hugo Chavez mangkat. Pada 5 Maret lalu maut menggiringnya ke haribaan Illah, meninggalkan jutaan rakyat yang memenuhi jalanan, tersedu sedan.

Pada akhir perang dingin, ketika Gorbachev akhirnya memutuskan membubarkan Sovyet dan segala sistemnya (kemenangan terselubung Amerika Serikat) Francis Fukuyama menuturkan sebuah nubuat, begini kekira bunyinya: bahwa kapitalisme pada akhirnya menjadi sistem paripurna, tujuan dari segala daya upaya, revolusi sosial manusia. Beberapa tahun kemudian kata-katanya seolah beroleh justifikasi dari tanah yang tidak diduga. Kuba yang pernah menjadi personifikasi perlawanan atas hagemoni barat mengeluarkan kebijakan seorang hamba atas modal. Dibawah rezim Raul Castro, Kuba memberlakukan dua macam mata uang, CUC dan CUP, yang menggambarkan jurang kelas yang menganga. Memiliki CUP berarti akses atas segala kebutuhan hidup ketiga: restoran mewah, perbelanjaan mewah, lukisan mewah, mewah, mewah dan mewah. Rakyat berlomba-lomba untuk menjadi bagian dari gerombolan yang haus. Tapi masih ada beberapa negeri yang menimba dari masa lalu Kuba, bertahan sebagai slilit, antitesis.

Venezuela sebelum Hugo Chavez adalah gambaran semiskin-miskinnya negara, kandidat failure state. Inflasi merajarela, kemiskinan merebak ibarat panu di punggung mereka yang jarang mandi. Iya, kemiskinan dalam arti seluas-luasanya. Masyarakat tidak hanya sulit menghidupi jasmani pribadi dan kerabat anak pinaknya, namun ruang-ruang kebatinan mereka kosong dan dingin. Negara tidak mencintai mereka. Negara sibuk memperkaya kerabatnya. Chavez, seorang perwira yang telah banyak berguru mazhab kiri di Kuba, jengah. Sebuah upaya kudeta dilakukannya, dan gagal. Jadilah dia pesakitan.

Lalu Chavez memenangkan pemilihan umum beberapa tahun sesudahnya, merekonstruksi gagasan kenegaraan Venezuela, menginjeksi semangat revolusi sosialisme kedalamnya, sebagaimana Bolivar, Guevara dan gurunya Castro.

Venezuela dewasa ini menjadi satu dari sedikit negara yang tidak menjadikan pajak sebagai sumber pendapatan utama. 80% kas negara diperoleh dari pengolahan emas hitam dan disalurkan sepenuhnya untuk kemakmuran rakyat. Kutukan sumber daya alam diterabas. Chavez bahu membahu bersama Castro, Ahmadinejad, Gaddafi, menjadi sisa makanan bandel di sela taring kapitalisme Amerika Serikat. Chavez menjelma pula menjadi karib rakyat, berpidato selama berjam-jam di televisi, menyediakan layanan telepon khusus untuk bertegur sapa dengan siapa saja. Rakyat bersuka cita dan jatuh hati. Siapa peduli, bahwa di akhir hayatnya pemerintahan Chavez mewariskan utang 95,6 miliar dollar AS, inflasi 20 persen, kriminalitas, serta kekurangan pangan. Angka-angka ini tidak mampu menghalangi ribuan manusia mengarak jenazahnya dari rumah sakit ke akademi militer, hingga jarak 8 kilometer harus ditempuh dalam 7 jam. Jalanan dipenuhi hati yang terlihat kaya.

Jose Mujica berujar bahwa orang miskin adalah mereka yang bekerja hanya untuk menjaga gaya hidup mewahnya dan selalu menginginkan lebih.

Dan lawan Chavez sesungguhnya adalah “orang-orang miskin” ini. Mereka katai Chavez otoriter, tiran, tidak berperi kemanusiaan. Lebih kongkrit lagi, pada April 2002 Caracas dibuat mencekam oleh upaya kup gabungan militer dan borjuis. Garis bawahi borjuis. Sebuah dokumenter, Inside the Revolution: A Journey Into the Heart of Venezuela sempat menyentil sejumlah nuansa yang tidak terjamah mata selama kudeta terjadi. Ada sekelompok orang yang tengah berpesta karena yakin bahwa rezim Chavez telah tumbang, bahkan lebih jauh mereka telah mengangkat seorang presiden baru sebagai pengisi jabatan (mereka ini, yang kehilangan banyak oleh kebijakan-kebijakan pemerintah pro akar rumput).  Puji syukur, Chavez kelewat dicintai rakyatnya. Upaya pemakzulan hanya berusia dua fajar, segera berakhir ketika rakyat turun ke jalan guna mengembalikan sang commandante ke tempatnya. Pada pemilu keduanya Chavez menang sekali lagi, dominan dengan 56% suara. Pada pemilu ketiganya juga.

Dan kini Tuhan mengakhiri kepemimpinannya dengan caraNya, melalui sebuah fitrah, keniscayaan. Chavez dan rezimnya tumbang oleh sisa zarah-zarah pemberontak yang menggerogoti jasad. Lepas wafat Chavez, “orang-orang miskin” itu barangkali tengah bersiap berpesta lagi.

Tapi revolusi belum usai, duhai “orang-orang miskin”. Kehidupan sejati Chavez justru baru dimulai, dalam tataran batiniah, dipupuk oleh gagasan-gagasannya. Wakilnya Nicolas Maduro berujar “Saya bukan Chavez, tapi saya adalah anaknya, dan kita semua adalah Chavez”.

Maka Tuhanku, di pemilu Venezuela nanti, menangkanlah Maduro (saya agak ragu dengan doa yang terakhir ini, entah mengapa).

Sabtu, 23 Maret 2013

Efek Rumah Kaca: Merayakan Intelektualitas

06.11 Posted by Arasy Aziz , No comments

Foto kurang baik, diambil via kamera hp.
Saya bukan penggemar Efek Rumah Kaca (selanjutnya saya sebut ERK) yang giat. Cerminnya, tidak banyak lagu mereka yang bisa saya eja dengan benar. Paling-paling Cinta Melulu, sebuah anthem yang kami gunakan untuk menangkal banjir lagu melankolik di zaman madrasah dulu. Tapi berita konser mereka di Malang terdengar amat menyegarkan. Tak boleh dilewatkan. Beberapa hari belakangan saya cukup disibukkan dengan urusan pra-kompetisi adu gagasan tingkat nasional. Bantu sana, bantu sini. Menyusun dan mengadu argumen. Menyenangkan, namun manusia tetap manusia. Pelarian. Lagipula kota kita rasanya, sepanjang saya bermukim disini, amat jarang disinggahi musisi sekelas ERK. Andaipun ada, diadakanlah dia di venue yang jauh dari kontrakan dan sulit dijangkau angkutan umum. Kali terakhir saya menonton konser terjadi setahun lalu. Iya, setahun lalu, dan di ibukota negara. Maka terpujilah anak-anak Psikologi UM.

Di Graha Cakrawala, deret gerbong pagelaran dimulai oleh A Strong Boy yang mengajak cicak berjalan dilantai dan nyamuk seolah terbang terbalik. Selanjutnya elektronika ATLESTA yang genit (terima kasih untuk additional vokalis dari Kobra) dan pop menyenangkan My Beautiful Life. Sebuah band ska yang paling memancing keringat justru saya lupa namanya. Unit ini memaksa saya berdansa buta. Seorang wanita kemudian menegur saya bercanda: kalau lari, kamu udah nyampe Rampal kali. Maklum mahasiswa, udah lama gak olahraga, balas saya. Kami tertawa bersama. Sayang tidak ada perkenalan. Dansa berlanjut.

Unit paling ditunggu akhirnya kebagian giliran. Konon ERK selalu tampil santun, tidak berlebihan. Malam itu juga. Muncul dari balik panggung sembari bersedekap, sumbu dinamit yang telah disulut sejak awal acara langsung meletup binal. Tanpa kata ERK mengawali jatah tampil mereka dengan Desember. Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember, di bulan Desember. Crowd menjadi kesulitan mengontrol diri untuk tidak membantu Cholil menyanyi sepanjang set. Suaranya hilang diantara histeria.

ERK tampil tanpa setlist, dan tanpa banyak sapa pula. Sesekali Cholil tertangkap menengok ke belakang untuk bertanya pada Akbar yang duduk dibalik drum. Irama demi irama berlalu, Cinta Melulu, Insomnia, Hilang, hingga Di Udara tiba, ode untuk senior Munir Said Thalib. Saya tak kuasa mengepal-ngepalkan tangan ke atas, menirukan gestur demo, mambangun bola semangat Dragon Ball. Hampir 10 tahun Munir mati diracun arsenik namun keadilan belum sampai. Ku bisa tenggelam di lautan, ku bisa diracun di udara, ku bisa terbunuh di trotoar jalan. Setelahnya saya kehabisan tenaga, kecuali untuk bergumam. ERK sempat membawakan sebuah lagu baru, namun tidak terdengar jelas judulnya. Suara vokalis memang tidak terdengar baik sejak awal acara.

Pukul 23.40 ERK memutuskan mengakhiri konser. Jatuh Cinta Itu Biasa Saja masih belum dibawakan dan kiranya akan jadi penutup yang manis. Namun keputusan yang dipilih Cholil cs jauh diluar dugaan. Intro Desember kembali dimainkan. Hati yang dingin semakin gila.

ERK dan Intelektualitas

Gramsci meyakini bahwa setiap orang memiliki potensi sebagai seorang intelektual, namun hanya sedikit yang mampu menjalankan fungsinya. Terjadi perluasan makna disana, kala 'intelektual' kemudian digunakan untuk menyebut individu maupun individu-individu yang mampu menjadi organisatoris, dinamo, domino pertama dari semua lapisan masyarakat. Tesis yang meyakini bahwa akar rumput dengan peran teknis juga memiliki kemungkinan ini. Gramsci menolak batasan ortodoks bahwa hanya filsuf, sarjana, negarawan, sastrawan, hingga seniman yang dapat berperan intelektual. Dimana letak ERK? Gramsci membagi intelektual model tradisional yang masih mengenyampingkan peran akar rumput dalam dua kelompok besar: intelektual politik dan intelektual budaya. Hakikatnya, ERK berada pada posisi yang saya sebut kedua. Namun beberapa formula lirik mereka kemudian menjadikan identitas ERK mengawang.

Bob Dylan berujar tentang lagunya dalam sebuah wawancara dengan Rolling Stone, “Orang-orang akan berkata, ini tidak sesuai kenyataan. Tapi seorang penulis lagu tak peduli dengan apa yang nyata. Dia peduli dengan apa yang seharusnya terjadi”. Bisa jadi benar, namun analisis kacangan saya mengatakan bahwa ERK bukan sepenuhnya penganut teori ini. Yang dirumuskan ERK dalam lagu-lagu mereka adalah refleksi dari apa yang berlalu-lalang di masyarakat. Mari menyimak Hilang, singel lepas yang bertutur penantian untuk manusia yang raib dari muka bumi pada masa reses. ERK juga tidak melulu mengkritisi pemerintah. Kenakalan Remaja di Era Informatika, misalnya. Siapa saja akan segera sadar bahwa substansi lagu ini adalah sindiran gila-gilaan atas keberanian pamer tubuh remaja kita dewasa ini (dan jika berpikir cukup progresif, naif rasanya jika tidak mengakui bahwa lagu ini ditujukan untuk kita penikmatnya juga. Narsisme selalu membutuhkan perhatian, dan menjadi hidup atasnya). Ada pergeseran muatan entri apabila kita menelusuri kata 'SMA' di mesin pencari internet: 3gp yang amat banyak. Semuanya disampaikan dengan gaya ERK, dengan pilihan kata mereka.

Dalam konsepan ultrademokratis dikenal sebuah model dunia cita-cita bernama masyarakat madani (civil society). Model ini dibangun atas sinergi dan simbiosis trigunal antara pemegang kuasa, pemilik modal, dan obyek (korban) keduanya, masyarakat umum. Diluar itu, terdapat kelompok yang dianugerahi kewenangan sebagai pranata ekstra-model untuk fungsi pengontrol kesetimbangan ketiga unsur tersebut. Pressure Group, kelompok penekan. Dalam tataran ini kemudian intelektualitas politik ERK dan banyak band protes lain mekar. Musik protes menjadi katalis, kompor, bujuk rayu sekaligus jembatan antara intelektual tradisional dan intelektual organik yaitu kelas-kelas masyarakat sipil yang memiliki potensi organisatoris tertidur. Berlebihankah? Sekali lagi Dylan menunjukkan skeptisme atas potensi peran ini “Ini bukan lagu protes sosial atau sejenisnya, karena menulis lagu semacam itu bukan urusan saya”. Namun sejarah mencatat, Rage Against the Machine pernah mengambil peran sebagai pemantik badai huru-hara di Seattle tahun 1999. Musik, layaknya produk budaya literasi, selalu memiliki potensi sebagai media propaganda dan kritik. Masalahnya, apakah setiap penyimak ERK, atau setidak-tidaknya mereka yang hadir di Graha Cakrawala malam itu pulang dengan sekeranjang saripati semangat ini? Jika tidak, keyakinan sejumlah orang bahwa musik kritik tak lain merupakan dagangan cemilan dalam bungkusan baru telak memperoleh pembenaran.

Dan, andai lahir dibawah rezim godam paku Orde Baru, masihkah ERK bertutur sebaik kini?

Esai ini setidak-tidaknya saya tujukan untuk menjawab pertanyaan mengenai semangat intelektual apa yang hendak kita bawa. Hal ini berangkat dari adanya kecenderungan membatasi makna 'intelektual' berdasarakan sudut pandang tradisional yang dikemukakan Gramsci. Dan mengapa kadang kita butuh konser musik, dalam koridor yang sesuai.

Minggu, 17 Maret 2013

Makam

20.49 Posted by Arasy Aziz 2 comments
Berapa banyak tanah yang manusia butuhkan? Di Bashkirs, para tetua desa mengimingi siapa saja dengan tanah seluas-luasnya mereka mau. Syaratnya: calon tuan harus mengukur sendiri dari sebuah titik, dan kembali sebelum terbenam matahari. Mudah sekali, kira Pakhom si tuan tanah. Dia berlari, berjalan, hingga titik mula-mula hilang dari pandangan. Aku akan menjangkau sejauh-jauhnya, hingga serusak-rusaknya sendi. Pakhom berhasil kembali, dengan luka. Luka dalam luka luar. Sesegera kemudian mati dia serupa babi, serakah.

Para tetua memberi hak terakhir Pakhom. Sepetak bilik tanah enam kaki untuk tempatnya berleha menanti pengadilan tinggi. “Itulah sebanyak-banyaknya tanah yang dapat kau peroleh”. Selesai perkara? Rasanya belum. Pakhom, bagaimanapun, telah tuntas menunaikan misinya. Kembali sebelum matahari tandas. Jika Pakhom pada akhirnya tidak dapat menikmati peluh yang dia alirkan, bagaimana dengan pewarisnya?

Tolstoy tidak cukup tertarik menambah beberapa karakter sebagai pendamping Pakhom dalam kisahnya Hanya ada pekerja-pekerja terkejut yang tiba-tiba muncul di akhir. Tapi Pakhom seorang manusia. Andai bisa serakah, harusnya dia punya birahi juga. Patut diduga si tuan tanah memiliki istri dan anak, atau setidak-tidaknya orang tua, atau keluarga semenda. Di Bashkirs lepas maghrib, sekelompok manusia patut diduga itu tergopoh menyusul. Lalu mendapati isyarat duka. Dia sudah tiada, ujar para tetua. Benarkah. Bagaimana dengan tanah yang kalian janjikan? Tetua-tetua menggerutu memble, dan menyerahkan tanah maha luas itu. Tiba-tiba kebingungan menyergap para pewaris. Pakhom kelewat kalap meluaskan dan meluaskan tanah hingga lupa mengajari siapapun cara menggarap dan memanfaatkan. Hendak diapakan tanah ini?

Ada pengetahuan tua yang diajari gagak-gagak kepada nenek moyang manusia, sama tuanya dengan seni menghabisi nyawa. Memakamkan. Pengetahuan asli yang menjadi rahim bisnis properti hari akhir menggiurkan. Makam menjadi aset, seperti blok-blok apartemen di utara ibukota. Jangan jauh-jauh membayangkan San Diego Hills jika sepetak di Tanah Kusir dewasa ini dihargai jutaan. 

Baiklah, ujar salah seorang pewaris memutus hening. Tanah maha luas ini, kita jadikan mega proyek pemakaman saja, amat banyak petak enam kaki, biar Pakhom punya banyak kawan.

Yang elit sekalian, tandasnya.


Terinspirasi dari cericit Goenawan Mohamad @gm_gm. Dan cerpen 'Seberapa Banyak Tanah yang Manusia Butuhkan' oleh Leo Tolstoy.

Kamis, 14 Maret 2013

Dari Sebuah Jamuan Hukum Islam

05.11 Posted by Arasy Aziz No comments
Saya bangun dengan cara biasanya pagi ini. Maksud saya, agak terlambat seperti hari-hari sebelumnya, tidak tergesa Pagi yang menyenangkan semestinya disesap dengan pelan, menurut saya. Ibarat  menikmati gorengan pisang yang baru dirajang dari periuk sembari mengawinkannya dengan teh hangat. Perlahan. Bibir dan lidah kamu bisa melepuh jika kelewat nafsu.

Ada tugas jamuan pagi ini, mata kuliah hukum islam. Kami menghidangkan tema sumber hukum islam dan Al Quran. Jamuan berjalan kelewat lancar dan tidak menarik. Mahasiswa-mahasiswa yang malas-malasan menyimak dipaksa bertanya. Enam pertanyaan, dua sesi. Namun ada satu yang benar-benar mengusik.

"Kita mengenal dua macam sumber hukum, sumber hukum materiil dan sumber hukum formil. Apakah hukum Islam juga mengenal pembagian ini?"

Awalnya saya mengira jawabannya sederhana: "Tidak, pemahaman kita atas hukum Islam dengan menggunakan kacamata doktrin hukum barat telah sampai pada tahap memuakkan. Intinya, pembagian ini tidak bisa dipakai". Sekelebat kemudian saya bertanya lagi, masa' sih?

Beberapa pemikir berpendapat bahwa setiap agama, Islam termasuk tentu saja, memiliki dua dimensi yang  berbeda namun melekat, dimensi esoterik dan eksoterik. Dimensi esoterik terkait dengan sifat agama yang transdental, malampaui ruang waktu, abstrak, melangit. Yang satunya sebagai dimensi kebalikannya: agama memiliki struktur, kongkrit, relatif, membumi. Kedua dimensi ini, menurut hemat saya, kemudian dapat digunakan untuk menjawab masalah pembagian sumber hukum Islam berdasarkan sumber hukum materiil dan formil a la barat tadi. 

Sumber hukum materiil secara sederhana dapat dipahami sebagai tempat dimana nilai-nilai hukum itu digali mula-mula, umumnya bersifat abstrak. Dalam konteks hukum Islam, nilai-nilai ini adalah nilai-nilai universal yang diajarkan oleh semua agama, (saya mencomot pendapat Faetullah Gullen) antara lain kasih sayang dan cinta kasih. Bisa jadi hal ini berlaku pula dalam sistem hukum Kanonik dan lain-lain yang berasal dari kedaulatan Tuhan. Hukum Islam kemudian menambahkannya dengan nilai tauhid.

Nilai-nilai abstrak ini kemudian diturunkan dalam bentuk sumber hukum formil, sumber hukum yang berupa. Mewujudlah partikel-partikel nilai tersebut dalam kristal-kristal primer Al Quran, Al Hadits, hingga atribut sejenis Al Urf. Kristal-kristal ini menyusun mineral eksoterik hukum Islam, membumikannya, dan dalam lapangan sisi yang lebih luas, menciptakan dikotomi bernama agama.

Jamuan kami tiba-tiba jadi menarik beberapa detik. Ada yang berdansa-dansi di kelas yang lain. Wallahu'alam.

Selasa, 26 Februari 2013

Deviana Safara (Sonata) - Masa Lalu

00.58 Posted by Arasy Aziz No comments
Inilah anthem dibalik layar Brawijaya Law Fair 3: sebuah lagu koplo akar rumput. 

Pada bulan-bulan awal perkuliahan semester ganjil lalu, kami disibukkan oleh persiapan sebuah acara penting besutan fakultas, umum dikenal dengan BLF. Akibatnya selain kuliah, bangku nyaman ruang kemahasiswaan menjadi tempat menghabiskan sebagian besar waktu luang. Mendesain beberapa perlengkapan, menyiapkan berkas, atau menjawab mention, misalnya. Setiap hari, dari pagi hingga malam larut.

Dan ini bagian menyenangkannya. Sebuah komputer di kemahasiswaan secara menerus memutar sebuah tembang koplo pantura milenium selama jam kerja aktif, berbulan-bulan. Saya gagal paham bagaimana hukum gossen 1 tidak berlaku pada pengguna komputer tadi. Akibat sering terpapar, beberapa bagian lagu ini pelan-pelan melekat di jidat.

Simaklah penggalan liriknya yang sederhana dan mudah dihapal, seperti:

Kau kira tak menyakiti aku disaat dia menelfonmu
Meskipun kau telah jadi milikku
Karena dia bekas pacarmu…

Dan bagian reffrainnya yang quotable:

Masa lalu biarlah masa lalu
Jangan kau ungkit jangan ingatkan aku
Masa lalu biarlah masa lalu
Sungguh hatiku tetap cemburu

Pengetahuan saya akan skena dangdut Indonesia dewasa ini tidaklah cukup baik. Pengecualian untuk para pegiatnya yang tampil di acara musik pagi dalam satu sesi bersama JKT 48. Dan menurut pengetahuan saya ini, lirik-lirik tersebut amat asing dan tidak masuk radar TV nasional. Padahal huru-hara tidak hanya melanda ruang kemahasiswaan. Pada trip saya ke Semarang tiga pekan lalu, beberapa kali saya dapati lagu ini diputar di bis kota, di bis ekonomi AC, di warung-warung, dimana-mana. Underrated. Jadi siapa sosok-sosok dibalik lagu candu pendobrak hukum gossen ini? The real idol dangdut vocalist of East Java, Indonesia, who is the most expetit(expected?) one always: Deviana Safara, bersama Orkes Dangdut Sonata dan Samudra Record dalam lagu Masa Lalu! 



Sabtu, 23 Februari 2013

Semarang: Asemi!!

22.48 Posted by Arasy Aziz No comments

Akhir seri setengah Pantura Jawa Tengah yang..(sedikit) mengecewakan. Super subyektif, super udik, saya ingatkan.

Jatuh cinta adalah masalah menyeragamkan ketukan, setidaknya dalam persepsi saya. Saya sempat coba memulainya sejak akhir tahun lalu, dan berakhir tidak cukup baik #salahfokus. Serupa di Semarang, sejak awal saya gagal melakukannya. Saya belum pernah berkunjung ke ibukota Jawa Tengah ini sebelumnya dan tiba-tiba tur di Semarang menjadi bagian paling tidak menarik dalam serangkai trip ini. Entahlah. Selain lagi-lagi kurang riset dan berinteraksi dengan manusia yang paham, sepertinya dengan suasana kota besar, saya sudah tidak akur. Sejak awal menginjakkan kaki, saya cukup kaget dengan kondisi terminal yang kalah menarik dibanding bandar bus serupa di Kudus. Sebagai kota terbesar di bagian tengah Jawa dan salah satu titik terpenting pembangunan kawasan Pantura, agaknya pemerintah kota lupa membenahi salah satu beranda rumahnya. Dan denyut-denyut ketidak-sepahaman semakin terasa ketika bus umum yang saya tumpangi mulai membelah urat-urat kota.

Ikon. Lawang Sewu, Tugu Muda, dan mobil
Dalam momen ini saya tersadar akan sifat udik yang barangkali dibangun oleh waktu. Terakhir kali mengecap kehidupan kota besar, saya masih duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar. Selebihnya hingga detik ini, saya terbiasa dengan atmosfer pusat-pusat peradaban berukuran menengah. Saya bahkan sempat menghabiskan masa aliyah di tengah pedesaan yang hanya ramai oleh panggilan sujud. Dan urban-urban bising sepertinya mulai tidak seirama dengan kuping. Pun dengan jalan-jalan Semarang yang besar dan penuh, serta gedung-gedung tinggi. Hukum ini rasanya tak cuma berlaku di Semarang. Contoh lain, Bandung, kota masa kecil (dan cinta pertama) saya terkadang mulai terasa menyebalkan oleh jalanan yang gagal menampung volume besar kendaraan berplat nomor B, juga sampah.


Ada hal-hal yang dapat dikritik dari tata kelola pariwisata kota ini. Satu obyek yang layak dijadikan fokus adalah kawasan kota tua. Sadarkah kita yang pernah berkunjung kesana bahwa tidak tersedia jalur pedestrian di hampir seluruh area? Kota tua, diluar dugaan saya, tidak menyediakan trotoar dan zebra cross, sementara sela bangunan-bangunannya masih dapat dilalui oleh kendaraan bermotor. Teror. Keinginan saya akan suasana era kolonial diperkosa oleh deru mesin. Hal ini patut disayangkan, mengingat dibanding kawasan Jakarta Kota, bangunan-bangunan kota tua Semarang masih terawat cukup apik. Di kawasan ini berdiri pula beberapa gedung penting dan bersejarah, semisal stasiun Tawang sebagai salah satu stasiun kereta api tertua di Indonesia. Informasi yang saya peroleh belakangan, umumnya pengunjung menghabiskan waktu di kawasan kota tua sebatas untuk mengaso di taman Gereja Bleduk. Kami dibuat cukup kesal pula oleh pengelola museum Mandala Bhakti di seputaran Tugu Muda. Sempat diminta menunggu lama, kami dipaksa gigit jari oleh petugas yang tidak kunjung kembali dan membukakan pintu. Museum tutup di hari kerja, menarik. Jangan tanya pula soal Lawang Sewu. Setelah dihitung-hitung berwisata ke landmark kota ini tergolong cukup menguras kantong (Hampir mirip dengan kondisi harga makanan (bahkan disekitar kampus) yang sulit dipahami oleh sekelompok anak kos dari Malang ini. Bayangkan Rp 9.000 untuk Tahu Gimbal a.k.a Tahu Telor). Rasionalisasinya, bea relatif besar dihabiskan guna pelestarian bangunan berusia seabad lebih ini. Dugaan usil lain, pengelola menikmati citra yang dibangun oleh kisah-kisah para-fisik. Akhirnya kami menikmati kemegahan bekas kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij dari balik terali pagar. Pelit? Bisa jadi. Saya masih harus mengirit tabungan untuk sebuah event yang juga penting di lain bulan. Mohon maaf.

Diluar itu Semarang patut dipuji oleh konsep transportasi massanya yang berjalan baik. Jelang akhir trip kami menyempatkan diri berkeliling kota menggunakan layanan Trans Semarang. Kami juga cukup terbantu dengan kehadiran dua haltenya di depan balai kota. Pada sekitaran jam 2 hingga 3 siang ruang sempit ini disesaki oleh remaja-remaja dari dua buah SMA berisisan yang tuntas belajar harian. Cita-cita Novada terkabul, saya dan Marvey terimbas baik. Asemi!!

Raksasa Jamu

Terdapat dua perusahaan jamu besar dan berumur yang menjadikan Semarang sebagai lokasi markas utama, PT Industri Jamu Cap Jago alias Jamu Jago dan PT Jamu Cap Potret Nyonya Meneer. Selain secara bersama-sama memegang temali penting dalam industri herba nusantara, keduanya memiliki kesamaan lain yang menggembirakan: membuka museum.




Museum Jamu Jago terletak di daerah Srondol, Semarang. Selain menampilkan memoar aktivitas perusahaan, museum ini dikenal pula sebagai pusat pengabadian rekor-rekor yang dibuat masyarakat Indonesia. Kita patut berbangga, karena beberapa diantaranya turut pula memecahkan raihan dunia. Selain potret raksasa Ciputra yang dibangun dengan paku, atau gincu raksasa untuk Buto Ijo-wati, sebagian besar dokumentasi rekor berwujud foto. Kisah yang lebih detil tentang sejarah usaha jamu kami peroleh di museum Nyonya Meneer yang lokasinya kami temukan secara insidental. Nyonya Meneer cukup terkenal dengan anekdot sebagai wanita terkuat di Indonesia, karena “berdiri sejak 1919”. Fakta yang lebih penting, wanita bernama asli Lau Ping Nio ini mulai meracik jamu sebagai wujud cinta kepada sang suami. Pada masa penjajahan sang suami mengalami radang lambug yang tak kunjung sembuh hingga Nyonya Meneer menemukan formula yang tepat. Pada 1919, Nyonya Meneer mulai mengkomersilkan racikannya kepada masyarakat. Konon, masyarakat hanya mau mengonsumsi jamu dari tangan dingin sang nyonya. Hal ini diakali dengan menggunakan potret dirinya sebagai logo perusahaan. Di akhir tur museum kami ditawari sejumlah produk. Kami berkelit, kemudian pulang ke rumah untuk rehat dan berkemas. Esoknya kami kembali ke Malang, kota dengan seribu alasan untukmu bersemu merah.

Sekelumit tentang Semarang (Bea):
Semarang dapat dijangkau dari Surabaya menggunakan bus ekonomi AC dengan bea Rp. 45.000. Masuk museum Nyonya Meneer dan Jamu Jago (MURI) gratis. Waktu satu setengah hari menjelajahi kota ini pada dasarnya tidak cukup.

Jumat, 22 Februari 2013

Ambarawa: Sebuah Sisa Arena Palagan

17.20 Posted by Arasy Aziz 1 comment

“Kemenangan di palagan Ambarawa menuntut kita memenangkan dipalagan pembangunan.”
Soeharto, pada sebuah dinding di museum Isdiman.

“Kamu harus percaya, insting saya selalu benar”, ujar Novada. Saya mengangguk. Beberapa menit sebelumnya, kami terduduk didepan sebuah jaringan mini market, sedikit kelelahan, hampir penat menunggu, hingga tiba-tiba si mesum mengajak berdiri. Sebuah bus merah yang kami cari kemudian melintas pada detik yang sama. Bus yang kemudian membawa kami menuju Ambarawa. Barangkali kebetulan, namun insting Novada memang seolah terbukti.

Salah satu bagian relief monumen Palagan Ambarawa
Sedikit yang terlintas tentang Ambarawa, awalnya, adalah museum kereta apinya yang legendaris oleh lokomotif-lokomotif dan rel bergerigi. Atau Rawa Pening yang dewasa ini dipenuhi gulma, atau senyap komplek candi Gedong Songo. Belakangan, semua gambaran awal saya tentang Ambarawa tidak mewujud. Trip ke Gedong Songo dan Rawa Pening yang kehilangan padu antara jarak dan alokasi waktu kami batalkan. Dan yang lebih menyebalkan: museum kereta api yang tutup. Lepas berjalan kaki diantara panas yang membakar, kami hanya bisa meringis di hadapan gerbang yang ditutupi bambu melintang. Museum sedang direnovasi. Setidaknya, kami bisa menyimak sembilan lokomotif tua dari balik pagar. Lumayan.

Lokomotif Uap sepuh yang masih aktif beroperasi. 
Hal lain yang layak ditertawakan adalah, semua gambaran yang saya punya tadi mendistorsi sebuah fakta penting mengenai sejarah kota ini. Hari sebelumnya, Novada mengajak saya dan Marvey menyambangi sebuah pusat perbelanjaan di Semarang untuk bersua dengan seorang kenalannya. Kami memutuskan menunggu di sebuah toko buku. Diantara deret-deret kalam terjilid, saya menemukan sebuah tulisan menarik terbitan Kompas Gramedia mengenai sisi lain seorang Jenderal Besar Soedirman. Pada 12 November 1945 beliau dipilih melalui voting, amat berbeda dengan model promosi jabatan dewasa ini. Sebulan kemudian, sang panglima baru langsung dihadapkan pada salah satu pertempuran paling heroik dalam sejarah: Palagan Ambarawa.

30 menit lepas bus meninggalkan Semarang, kami mulai memasuki kota Ambarawa. Satu per satu penumpang turun, menyisakan kami yang menengok ke kanan ke kiri, sedikit khawatir kehilangan destinasi. Di sebuah pertigaan kami meminta berhenti. Mata kami menangkap monumen Palagan Ambarawa di salah satu pojokknya. Siang terik membuat monumen terlihat lengang. Hanya ada seorang petugas tiket yang terduduk malas di balik loket, dan beberapa anak-anak berseragam di depan gerbang. Kami bergegas membeli tiket.

Kolonel Isdiman dan peringatan dari Soeharto.
Di sudut kiri, sebuah bangunan berdimensi mini berdiri. Museum Isdiman namanya, mengenang seorang tokoh kunci yang tewas pada awal Palagan Ambarawa. Museum ini menyimpan memoar-memoar seputar peristiwa saling serang di bulan desember itu. Seragam-seragam militer, senjata, alat perbekalan dipamerkan. Sayangnya tidak banyak keterangan yang diserak. Informasi Palagan Ambarawa justru banyak saya temukan di internet, melengkapi sisa ingatan masa sekolah. 12 Desember 1945, para perwira TKR menyerbu Ambarawa yang dikuasai sekutu. Empat hari tembak menembak, pada 15 Desember mereka berhasil merebut kembali kota ini. Beberapa versi menyebutkan, adalah tentara sekutu yang kehabisan perbekalan menyebabkan mereka menyerah dan memilih mundur ke Semarang.

Vandal. Apalagi coretan tentang hubungan-hubungan, terkampunglah kalian.
Pesawat yang berhasil di tembak jatuh TKR
Matahari yang menyengat diimbangi dengan baik oleh taman seputaran monumen yang asri. Beberapa kendaraan sisa perang ditata apik, semisal bangkai pesawat yang konon sukses ditembak jatuh oleh para TKR pada hari-hari perang. Ambarawa barangkali perlu juga menasbihkan diri sebagai kota lokomotif uap. Sejarah menutur, Ambarawa di masa kolonial Belanda adalah sebuah kota militer. Stasiun kereta api kemudian didirikan (tertua ke tiga di pulau Jawa) untuk memudahkan mobilitas tentara. Pada 1976 stasiun dialih fungsikan menjadi museum oleh PT KAI untuk melestarikan lokomotif-lokomotif uap. Dan salah satu mesin kepala kereta ini terparkir pula di halaman monumen. Buatan Jerman. Dan ini yang mengecewakan, sebuah gerbong kayu dibelakangnya yang pernah mengangkut para kusuma generasi awal dipenuhi noda marker, pulpen, tipe-x yang tercecer di mana-mana. Beruntung relief palagan tidak bernasib sama. Belajarlah tata krama, manusia-manusia wau.

Sekelumit tentang Ambarawa (Bea):
Ambarawa dapat dicapai dari Semarang dengan waktu tempuh 30-45 menit menggunakan bus. Biaya dalam kisaran Rp 6.000 (saya agak khawatir kami ditipu, sila mencoba). Tiket masuk monumen Palagan Ambarawa Rp 4.000. Beberapa destinasi di Ambarawa butuh biaya ekstra (seperti wisata kereta berloko uap, Rp 50.000), kapan-kapan saya harus membawa lebih banyak uang, barangkali.


Senin, 11 Februari 2013

Kudus: Pusaran Semesta Sunan Kudus

05.59 Posted by Arasy Aziz No comments

Tentang ikon toleransi berabad di pusat kretek Jawa.

Jafar Shoddiq, seorang bumiputra yang tengah menjaring ilmu di timur dekat, menyelamatkan tanah Palestina dari sebuah wabah pada abad ke-16 M. Atas usahanya ini, oleh amir tanah perjanjian beliau diberi wewenang untuk menguasai wilayah yang diinginkannya, sebagai bentuk penghargaan. Jafar Shoddiq belakangan meminta wewenang ini dipindah ke tanah kelahirannya. Tanah Jawa. Beliau kemudian mendirikan sebuah mesjid bernama Al-Aqsa, meniru mesjid legendaris bernama serupa, untuk mengenang eksistensinya di Baitul Maqdis. Daerah tempat mesjid ini berdiri kemudian disebut Kudus, terinspirasi dari julukan Yerusalem, Al-Quds, kota yang suci. Semua momen ini berputar pada kisaran tahun 1549 M. Siapa Jafar Shoddiq? Belakangan beliau lebih dikenal sebagai Sunan Kudus, salah satu tokoh kunci penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Bersama delapan juru dakwah lainnya lebih dikenal sebagai Wali Sanga, wali yang sembilan. Sadar tidak sadar, kota Kudus berputar dalam eksistensinya, dari zaman ke zaman.

Mendung menggelayut diatas komplek mesjid Al-Aqsa.
Mesjid Al-Aqsa terletak di perkampungan Kauman, tengah kota Kudus. Kami cukup beruntung karena sempat mengejar sholat dzuhur tepat waktu di mesjid ini. Sejak bisa membaca, mesjid Al-Aqsa, yang lebih dikenal sebagai Mesjid Menara Kudus, saya masukkan dalam daftar favorit. Menaranya yang menganut langgam arsitektural Hindu menjadi penciri kota. Merunut sejarahnya, menara ini merupakan salah satu cara bagi Sunan Kudus guna membumikan ajaran Islam bagi masyarakat lokal yang umumnya menganut agama Hindu. Versi lain menambahkan, sang wali demikian terkesan oleh kebaikan seorang juru Weda yang memberinya beberapa teguk air. Jejak panjang toleransi beragama memang telah lama terpatri dalam sejarah kota ini. Selain menara mesjid yang ikonik, ragam tradisi kuliner turut pula terimbas. Alkisah, Sunan Kudus melarang kaum muslimin untuk menyembelih sapi, pun dalam momen hari raya ied kurban. Motifnya tak lain untuk menghindari luka di hati umat Hindu yang mengkultuskan hewan ini sebagai kendaraan suci salah satu trimurti. Kerbau direkomendasikan kemudian sebagai pengganti sumber protein hewani. Implikasi yang paling nyata adalah tidak adanya menu tradisional Kudus berbahan daging sapi. Belakangan Kudus menjadi legendaris oleh Soto Kerbaunya, dan tentu saja, Soto Kudus yang menggunakan potongan daging-daging ayam sebagai komponen utama. 

Gerbang menuju tempat kanjeng sang pelopor terbaring abadi.

Semangkok Soto Kudus yang disajikan lepas hujan itu ...
Satu cela dalam trip ini adalah tidak terpenuhinya tujuan awal dan utama kami. Kami menyambangi Kudus dalam niat melihat dari dekat denyut industri sigaret di kota ini. Kudus memang terkenal sebagai kota kretek, dan cukup bangga dengan julukan ini. Di jalan-jalan yang kami lewati aroma tembakau dirajang amat tajam tercium. Sejak tahun 1870 pengusaha-pengusaha Kudus memproduksi kretek, atas jawaban dari perpindahan-perpindahan poros industri batik Jawa. Lepas dua abad, statistik terakhir menunjukkan angka fantastis: 78,14% dari total angkatan kerja kota Kudus terserap dalam industri kretek. Dengan landasan deret angka-angka tadi, sepintas kami dapat melihat implikasi propaganda seputar PP Tembakau yang masih hangat melantai bagi kota ini, meski secara pribadi saya belum menetapkan sikap. Amat disayangkan, kurangnya riset terhadap niat dan medan membuat tujuan ini gagal terpenuhi. Akhirnya kami sibuk berburu bis, menuju Semarang.

Terlarang. Gembok terpasang kukuh memastikan siapapun tidak menaiki menara sembarangan.
Sekelumit tentang Kudus (Bea):
Kudus dalam trip kami dapat dicapai dari Surabaya (dan Semarang) dengan bus ekonomi dengan tarif lebih kurang Rp. 35.000. Sholat di mesjid Al-Aqsa atau mesjid Menara Kudus tidak dipungut biaya (ya iyalah). Pengunjung tidak diperbolehkan untuk naik ke puncak menara mesjid. Soto Kerbau dan Soto Kudus dihargai pada kisaran Rp. 5.000-Rp. 10.000.