Fiat Lux

Selasa, 19 Juli 2016

Bumi yang Datar

05.10 Posted by Arasy Aziz No comments
Saya berusaha membayangkan sebuah Bumi yang pipih, datar seperti sekeping cakram piringan hitam. Atau pancake hangat dengan sirup gulali di atasnya. Lalu turut memercayai bahwa gravitasi adalah bualan yang dibikin-bikin negara adikuasa. “Segala sesuatu dapat bertahan di permukaan Bumi,” ujar salah satu sumber  “semata-mata karena bekerja dibawah hukum archimedes.” Dengan kata lain, yang memungkinkan kita berjalan, berlari dan berak sesekali  tanpa khawatir air besar melayang-layang di udara adalah perbedaan massa jenis. Manusia dikatakan memiliki rasio massa per volume di tingkat menengah, alias lebih “ringan” dari Bumi namun lebih “berat” daripada udara. Begitupun buah yang jatuh dari tanaman-tanaman, dedaunan, kijang dan kendara.

Namun, imajinasi terliar saya bahkan tak mampu membangun sebuah gambaran yang benar-benar layak dan masuk akal.

The Blue Marble (Sumber: 2013.spaceappschallenge.org)
Pemandangan yang terbit pada mulanya adalah sebuah hamparan lautan yang diatasnya mengapung benua-benua dan pulau-pulau yang kita kenali. Dari Asia hingga kepulauan Kei di Maluku. Lautan biru yang menyelimuti kedataran Bumi secara menyeluruh. Tapi ada apa di ujung lautan itu dan menjaganya agar tak meluber? Kelompok pengikut teori flat earth menyebut bongkahan-bongkahan es. Sebagaimana yang dapat kita ketemukan di kutub, dalam wujud barikade yang berkeliling. Serupa pagar halaman.

Namun, apa yang menahan bongkah itu tetap pada tempatnya? Tak ada yang benar-benar tahu, kecuali sejak dari sananya ia dirancang sebagai pengaman.

Lebih sensasional lagi, tak hanya bulan, melainkan matahari pun ikut berevolusi mengelilingi piringan biru ini dalam teori Bumi yang datar. Matahari disebut tergantung di langit setinggi beberapa puluh ribu mil. Kala hari berganti, ia hanya bersembunyi di sisi lain piringan Bumi.
Anehnya, setiap kali matahari berada dalam posisi terdekat dengan “pagar” Bumi, tak ada kabar bahwa es di tepian Bumi tadi mencair. Barangkali yang satu ini ditutupi dengan lihai oleh media-media agar masyarakat tetap bodoh. Lelaku mengisolasi ilmu pengetahuan baru, toh, pernah menjadi bagian dari sejarah.

Menariknya, martir di dalam peristiwa-peristiwa tersebut justru merupakan pioneer bagi paham kebulatan Bumi dan heliosentrisme. Berulang kita mendengar epos kepahlawanan Copernicus, kemudian Galileo Gallilei, yang mempertahankan kepercayaan ini dihadapan gereja. Atau bagaimana Christopher Colombus ditertawakan karena memilih menuju India dengan berlayar ke barat. Semata-mata karena percaya bahwa Bumi yang ia tinggali berbentuk bulat.

Belakangan popularitas keyakinan ketiganya, alih-alih melemah, justru semakin kukuh seiring dengan geliat eksplorasi umat manusia. Diajarkan secara formal di dalam kurikulum. Dari gambaran guru-guru kita mengenai kapal laut yang terlihat tiangnya lebih dahulu ketika mendekati pelabuhan, hingga teknologi yang relatif lebih mahal; memotret rupa Bumi dari luar angkasa. Pada masa Alfonso de Alburqueque satu-satunya rute yang dapat digunakan untuk mencapai India adalah memutari Tanjung Harapan. Kini, terusan Panama dibangun bagi kapal-kapal yang hendak menyeberangi Amerika untuk menuju Asia, maupun sebaliknya.

Meskipun tak pernah benar-benar terkubur, namun keyakinan akan Bumi yang datar pada kenyataannya tetap hidup dan kembali mengemuka dalam ruang diskusi akhir-akhir ini. Lewat berbagai platform, sejumlah orang menyebarluaskan video-video besutan kelompok Flat Earth Society. Dari namanya, kita bisa menebak dimana ketertarikan komunitas ini tertambat.

Sebagian besar argumen dan bukti sahih mengenai Bumi yang bulat ditolak mentah-mentah oleh kolektif ini. Potret tahunan blue marble rilisan ISS disebut sebagai reproduksi CGI. Pun demikian matahari yang jauh. Adapun visualisasi kapal yang mendekati pelabuhan dengan layar yang lebih dulu tampak, semata-mata dikarenakan keterbatasan visi manusia.

Kelompok Flat Earth pada umumya mengacu pada informasi dan kebijaksanaan masa lalu, monograf-monograf  dari peradaban bertitimingsa mula-mula. Nubuat dari berbagai kitab suci disinggung. Pada akhirnya, Bumi yang bulat tak lain merupakan konspirasi negara adidaya untuk menguasai dunia, setara upaya terselubung Illuminati dan Yahudi. Seiring dengan pertumbuhan pendapat yang mengamini ini, bantahan-bantahan yang keras pun mengemuka.

Namun, perdebatan perihal bentuk Bumi, atau hukum-hukum yang mengiringinya, bagi saya mubazir dan tidak berujung kemana-mana. Selain telah usang dalam rentang berabad-abad, kebenaran atasnya sesungguhnya tak tepat dinilai lewat proses diskursus. Diskursus itu sendiri dirancang untuk mewadahi kebhinnekaan pemahaman. Yang bertarung di dalamnya adalah perbedaan gagasan hingga menemukan konsensus, apa-apa yang disepakati oleh manusia. Diskursus berusaha menemukan kebenaran yang bersifat intersubyektif, menemukan titik temu antara kesadaran manusia yang beragam. Kebenaran adalah apa yang disepakati itu sendiri.

Masalahnya, kebenaran apakah Bumi itu datar atau bulat seperti bola tidaklah ditentukan oleh kesepakatan manusia. Ia merupakan kriteria fisik, dan harus dibuktikan dengan eksplorasi alih-aih sibuk berargumen.

Sains sebagai pengetahuan empirik bermain di ranah ini. Nilai kebenaran darinya tidak dicari dimanapun, melainkan konstitutif pada pengindraan manusia terhadap alam sekitarnya. Yang berusaha dieksplorasi adalah obyektifitas dari kenampakan-kenampakan. Kategori benda pada dirinya sendiri. Ia haruslah didasarkan pada sesuatu yang dapat dihitung. Sebuah informasi saintifik dapat masuk ke ruang diskursus dalam situasi yang amat terbatas.

Jika kita ingat, semisal, terdapat 9 planet yang menghuni tata surya kita, kesemuanya mengorbit matahari. Pluto sebagai yang termuda dalam daftar tersebut ditambahkan pada tahun 1931 seiring dengan penemuan oleh Clyde Tombaugh, astronom Amerika Serikat. Informasi ini mapan diajarkan di sekolah-sekolah selama puluhan tahun, hingga pada medio dekade 2000-an, satu demi satu penemuan mengguncang para pegiat astronomi. Pluto, pada kenyataannya, bukanlah satu-satunya obyek serupa planet di sisi terluar tata surya. Berturut-turut ditemukan Ceres, lalu Xena dengan bulannya, yang memiliki ukuran sama bahkan lebih besar dari sang planet kesembilan.

Penemuan-penemuan ini membuat para ilmuwan menjadi ragu akan status keplanetan Pluto. Pada akhirnya, astronom dari seluruh dunia berkumpul di Praha pada tahun 2006 untuk mendefinisikan ulang apa yang dapat disebut sebagai planet. Di akhir konferensi, ditelurkan keputusan yang diantaranya resmi mengeluarkan Pluto dari daftar planet di tata surya. Apakah dengan demikian Pluto hilang dari alam semesta? Pada kenyataannya, ia masih berada pada tempatnya dan mengorbit Matahari. Setahun silam, wahana antariksa New Horizon bahkan berhasil merekam Pluto dari jarak dekat. 

Satu-satunya hal yang berubah adalah kategori eksistensial Pluto di mata manusia. Dari sebuah planet, menjadi benda angkasa serupa planet (planetoid).  Ia kehilangan statusnya karena tak mampu memenuhi salah satu kriteria planet, yang tak boleh memiliki garis edar beririsan dengan kepunyaan planet lain. Dalam hal ini, Pluto rupanya bertemu di sejumlah titik dengan Neptunus.

Nasib Pluto adalah contoh pembedaan antara kebenaran konseptual dan kebenaran empirik di dalam sains. Pluto sebagai sebuah benda langit yang berbentuk bulat, beredar mengelilingi matahari dan memiiki suhu permukaan yang lebih dingin dari titik beku absolut, adalah fakta saintifik yang berasal dari pengamatan. Lebih lanjut, gaya-gaya yang bekerja di dalamnya dapat dihitung secara matematis. Dari percepatan gravitasi hingga kecepatan edarnya mengelilingi Matahari.

Namun perihal menentukan apakah Pluto dapat dikategorikan sebagai planet atau bukan adalah sepenuhnya urusan manusia yang bersepakat. Ia melibatkan proses dialog yang berkepanjangan antara insan yang berpikir, hingga mengerucut pada suatu rumusan yang padu. Dalam kasus ini, berujung pada perumusan definisi “Planet”.

Pun demikian dengan “Matahari”, “Bintang”, “Komet”, “Hewan” dan “Manusia” itu sendiri. Terhadap dua yang disebut belakangan, semisal, pergeseran definisi masing-masing tak akan mengubah kenyataan anatomi dan fisiologis yang melekat kepadanya. Manusia tetaplah manusia dengan dua tangan dan kaki, berjalan dengan tegak dan memakan apa saja. Memiliki daya mandiri untuk mengakali alam. 

Pada suatu saat nanti ketika Manusia sebagai konsep dinilai mengusang, ia dapat diganti dengan konsep baru yang dirumuskan bersama-sama.

Demikianlah bagaimana diskursus mengenai Bumi yang bulat menjadi mubazir. Yang tengah kita bicarakan adalah karakter fisik dari sebuah benda langit, yang pembuktiannya diidealkan dilakukan dengan pengamatan atas tanda-tanda alam. Ditambah, pemahaman yang holistik atas berbagai gaya yang bekerja didalamnya.

Terlebih ketika sebuah ayat dari kitab suci diacu sebagai basis argumen. Sejak semula, kebenaran ayat-ayat berdiam di ranah yang transenden dan harus diimani tanpa pertanyaan.  Menjadikannya suci dan sakral, pun dikemudian hari dihadapkan pada pertentangan dengan nalar. Keiman pada dasarnya tak perlu membuktikan apapun.

Suatu ayat bisa jadi menjabarkan hal-hal yang kemudian oleh sebagian penganutnya ditaut-tautkan pada kenampakan alam tertentu, lalu digunakan sebagai acuan bagi kebenaran ilmiah. Berbagai fenomena yang sesungguhnya bersumber dari penginderaan yang profan justru dijadikan pembuktian bagi kebenaran kitab. Sebagian dari kita kerap bersorak  atasnya lalu melipat tangan di dada, menunjukkan diri bahwa iniliah Iman yang superior. Inilah Iman yang berhasil membuktikan diri benar menurut sains.

Disaat sains hari ini terus bergerak dan tak diam, temuan demi temuan baru mengemuka hingga batas terjauh eksplorasi akal manusia. Jika suatu ketika sains membuktikan hal yang berkebalikan dengan terang benderang, cukup siapkah Iman yang empirik ini untuk menerimanya? Atau mempermalukan diri sendiri dengan menunjuk hidung sains sembari berpijak pada pembuktian yang abu-abu? (*)

Kamis, 28 April 2016

Masa Lalu yang Dijejalkan ke Hadapan Rangga

19.00 Posted by Arasy Aziz , 2 comments
Setelah 14 tahun meninggalkan tanah kelahirannnya, masa lalu tetiba dijejalkan begitu saja ke muka Rangga dalam satu, dua pukulan. Kilasan demi kilasan ingatan agaknya berlalu lalang di kepalanya sesibuk lalu lintas Manhattan. Satu per satu menuntut perhatian sang lelaki dingin, lalu menggerogotinya dari dalam.

Namun dia masihlah Rangga yang itu, Rangga yang memilih menekur di salah satu gudang sekolah di kala sebagian besar yang lain bersenang-senang di tepi lapangan basket. Rangga yang melampari dengan pensil sepasang kekasih yang membikin perpustakaan bising. Rangga masihlah sosok sinis dengan lidah yan kadang-kadang tajam. Jalan sunyi telah mengajarinya menjadi individu yang teguh dan belajar dengan kesendiriannya.
Maka Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC2) tak lain adalah pertunjukan upaya Rangga (Nicolas Saputra) untuk berdamai dengan keping-keping masa lalunya. Sebuah kesempatan untuk melakukan rekonsiliasi sembari menengok apa yang tersisa disana.
Memorabilia pertamanya, tentu saja adalah dia yang kepadanya tertaut janji pulang dalam satu purnama, “untuk mempertanyakan lagi cintanya.”
Cinta (Dian Sastrowardoyo) hari ini, di salah satu sudut kota Jakarta,  telah menjadi sosok wanita dewasa kelas menengah yang mandiri. Ia bertumbuh seiring waktu, bertemu dengan kemungkinan-kemungkinan baru, orang-orang baru. 
Namun ada ruang lebar yang disisakan untuk masa lalunya, mewujud dalam sekotak wadah sepatu bekas. Didalamnya tersimpan seluruh gairah dan hal-hal yang tak selesai. Ketika dibuka, bau Rangga selalu menguar pekat.
Bersama sahabat-sahabat sekolah menengahnya; Maura (Titi Kamal), Karmen (Adinia Wirasti), dan Milly (Sissy Priscillia), Cinta kemudian merencanakan liburan bersama ke Jogjakarta. Di kota ini, semesta kemudian menunjukkan kuasanya dengan mengiris kembali nasib sepasang kekasih. Bertahun-tahun silam keduanya saling memandang hanya lewat surat dan puisi, sebelum berakhir abu-abu.
Memorabilia kedua Rangga-lah yang memungkinkan pertemuan itu terjadi. Alasan yang membuatnya rela menempuh penerbangan berjam-jam Jakarta-New York. Kerinduan Cinta sekalipun bahkan tak mampu memungkinkan perjalanan itu. Ialah sosok Ibu yang puluhan tahun hilang dari kehidupannya, tetiba memanggilnya kembali.
Diantara gang demi gang kota Jogjakarta, langkah-langkah Rangga semakin dekat dengan Cinta. Ketika keduanya akhirnya bertemu kembali, nama yang disebut kedua tak dapat membendung amuk di dadanya.
Namun sebagaimana Rangga, ia masihlah Cinta yang dulu. Cinta yang senantiasa merawat kemenduaan di dalam hatinya. Percabangan perasaan-perasaan, yang kadang dengan selaras dengan apa yang ia ungkapkan.
Kali ini, ia memilih mendengar. Keputusan yang ia ambil kemudian barangkali membuat siapa saja yang menonton bersama saya bersyukur hingga nantinya layar ditutup.
Pekerjaan rumah terbesar AADC2 agaknya berkutat di seputar ekspektasi penonton. Bagaimanapun, prekuelnya telah melampaui level kultivasi tertentu. Cerita coming age yang sederhana, acting menawan dengan reaksi kimia yang presisi dari memasing actor, latar yang kontekstual; AADC telah terlanjur menjadi suara zamannya. Di level yang lain, film ini juga kerap digadang sebagai penanda bagi kembalinya film Indonesia layak simak ke layar perak.
Ada beban sejarah disana. Bagaimana kisah cinta monyet Cinta dan Rangga terbebas dari kesan picisan dalam latar kontemporer, 14 tahun kemudian. Saya termasuk golongan yang sempat meragu kala trailernya rilis pertama kali. Kecuali sebuah kalimat yang dinyatakan Cinta dengan dingin dan intonasi datar, sebagian besar tampak tak menggambarkan apapun.
“Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu.. jahat.”
Belum lagi, saya bukanlah bagian yang menjadi saksi demam AADC secara langsung. Kala AADC rilis di tahun 2002, saya masihlah bocah kelas 4 SD di suatu kota yang bahkan tak memiliki fasilitas bioskop memadai. Hip film garapan Rudy Soedjarwo ini hampir tak terdengar. Kala sajak dan lelaki dingin menjadi perkawinan yang memabukkan dalam budaya pop, saya tak mengambil bagian. Saya beruntung, kemajuan teknologi memungkinkan persentuhan saya dengan AADC.
Namun, apa yang dikerjakan Riri Riza, Mira Lesmana, dan sederet arsitek dibalik film ini bahkan melampaui pertanyaan-pertanyaan saya.
Kekuatan utama AADC2 masihlah kemampuannya untuk mengelaborasi berbagai elemen seni di dalam satu bingkai. Apa yang menjadikan seni film, seni film. Dalam hal ini, kehadiran penyair dari Makassar Aan Mansyur dan perupa Nugroho, baik secara individu maupun dengan karya-karyanya tak sekadar sebagai sempalan. Benar-benar kuat.
Kita tahu bahwa struktur cerita AADC berdiri atas kegemaran kedua tokoh utama atas sajak. Hal ini kemudian coba diterjemahkan kembali, dan untungnya berhasil. Sebagaimana AADC pertama, salah satu sajak bahkan menentukan akan dibawa alur hidup Rangga dan Cinta pada akhirnya. Ia berhasil menggantikan peran scoring dan musik latar untuk membuat kisahnya tetap hidup.
Porsi adegan yang menghadirkan instalasi-instalasi dan sejumlah karya mural Eko Nugroho bahkan terasa lebih fundamental lagi. Kecuali menjadi latar dari salah satu adegan yang maha penting, kehadiran Cinta bersama anggota gengnya disana menggambarkan situasi psikologis mereka hari ini sebagai kelas menengah baru.
Elemen ini saya kira turut menjadi juru rawat bagi relevansi AADC2, dan membuatnya membersamai kehidupan penggemarnya. Bukankah apresiasi seni hari ini adalah simbol bagi prestise sosial tertentu? Perilaku dan pola pikir manusia berekonomi cukup ini kira-kira ini tergambar dalam perdebatan antara Sissy dan Maura dalam memaknai salah satu karya Eko. Sissy di satu sisi dengan polosnya mengakui ketidakmampuannya untuk memahami pekerjaan itu, sesuatu yang dibalas dengan Maura dengan “lo ngga bakalan negerti.”
Jogja secara keseluruhan pun sesungguhnya menjadi medium perilaku ini. Visi perjalanan yang mereka bawa terasa menempatkan kota ini semata-mata sebagai obyek pengamatan yang eksotis. Ada jarak. Di gang-gang seputaran pasar Bringharjo, apapun adalah obyek perekam gambar, termasuk ketika Cinta dan Maura berswafoto dengan salah satu ibu tua pedagang disana.
Sosok Rangga kemudian berusaha dihadirkan sebagai penggeser paradigma itu, jika tidak dapat dibilang sebagai otokritik. Scene demi scene perjalanan singkat yang ia habiskan bersama Cinta menjadikan AADC2 sebuah karya yang subtil. Disinilah Jogja benar-benar menunjukkan sisi magisnya. Di hadapan geng Cinta ia hanyalah vista yang menyajikan jeda bagi kesibukan ibukota. Sementara bagi Rangga dan Cinta, setiap inci Jogja terlibat sebagai ruang sosial tempat memasing bertukar makna secara segitiga. Keduanya bertransformasi, dari pelancong biasa menjadi apa yang disebut Walter Benjamin sebagi flaneur; pengeluyur. 

Dibawah atap mobil 4x4 yang dikendarai Rangga, Jogja berubah menjadi kota yang mengayomi sebuah pertemuan dari sepasang insan yang terlalu lama terpisahkan jarak. Tak hanya bagi keduanya, melainkan juga terhadap para penonton.
Tak terhitung berapa kali orang-orang yang mengeilingi saya di ruang bioskop melenguhkan “awwww” yang panjang tanda terenyuh, untuk adegan-adegan tanpa kata. Yang terpampang di layar hanyalah perubahan mikroekspresi dari Cinta dan Rangga. Senyum malu-malu yang terbit di wajah Dian Sastrowardoyo di kala mengenang momen-momen kebersamaan. Para penonton segera mengetahui bahwa keduanya masihlah sosok yang sama yang belasan tahun silam mereka idolakan. Dan mata kamera berhasil menangkap semuanya, meyajikan kembali dengan gaya lewat dominasi shoot yang close up.
Alur dan dialog pun disiapkan dengan matang hampir tanpa cela. Tim AADC2 berhasil memungkinkan nostalgia terbit tanpa harus menghadirkan kembali cuplikan-cuplikan film yang lama. Caranya dengan mengopi detil-detil penting percakapan Rangga dan Cinta ke dalam adegan dengan dibubuhi konteks baru. Gudang ingatan saya terhadap AADC serta merta terbuka. Semisal, adegan dikala Rangga berterima kasih kepada Cinta karena mengembalikan buku monumental “Aku” gubahan Syumandjaya. Potongan percakapan antara keduanya kembali muncul di dalam film dalam versi yang berbeda. Atau, tentu saja, dialog ikonik di gerbang keberangkatan Rangga menuju New York.
Pada akhirnya, Rangga berhasil mengentaskan misi untuk berdamai dengan masa lalunya. Segala pertanyaan yang terkubur bersama AADC (di dalam benaknya dan penonton) terjawab satu persatu; untuknya, untuk Cinta, untuk para penggemarnya. Saya dapat melihat kepuasan yang sama terbit dari wajah penonton yang beranjak setelah layar ditutup. AADC2 barangkali tak akan menginjeksikan tren baru dalam budaya pop Indonesia sebagaimana film perdananya. Namun, dalam urusan mewarnai kancah perfilman drama romantis Indonesia, film ini sedikit banyak berhasil. (*)
Ada Apa Dengan Cinta? 2
Sutradara: Riri Riza
Skenario: Mira Lesmana, Prima Rusdi
Pemain: Nicholas Saputra, Dian Sastrowardoyo, Titi Kamal, Adinia Wirasti
Rating: 8/10.

Kamis, 01 Oktober 2015

Matinya Ganool

00.14 Posted by Arasy Aziz , 4 comments
Obituari untuk Ganool agar tak mati selamanya.
Penyesalan terbesar saya dalam pekan-pekan terakhir adalah tidak mengepul film sebanyak-banyaknya dari ganool.video. Dibanding berbagai alternatif yang tersedia untuk memirsa, apa yang ditawarkan Ganool adalah pilihan termudah. Yang utama tentu saja karena ia tak berbayar. Mengunduh melalui aplikasi Torrent yang berbasis jaringan peer-to-peer sangat rentan ditunggangi malware dan kecepatannya sulit ditebak. Direktori Ganool juga relatif lengkap (meskipun tentu saja tak sekaya jejaring Torrent). Saya beruntung menemukan Metropolis (Fritz Lang, 1927) edisi restorasi rilisan Criterion diantara tumpukan datanya. Koneksi internet yang tak putus, hampir 24 jam sehari di rumah adalah jalan bebas hambatan menuju surga itu.
Namun saya tak mengantisipasi sebuah kenyataan pahit; portal unduh film gratis favorit saya itu terpaksa tutup usia. Ini sesungguhnya bukan kematian yang pertama, namun sepertinya tak ada kehidupan lagi setelahnya. Penutupan Ganool untuk jangka waktu yang tak ditentukan secara resmi diumumkan oleh para pengelolanya melalui akun Facebook pada postingan bertanggal 20 September 2015. Disini saya kutipkan bulat-bulat, yang jika dibaca dengan seksama, lebih mirip manifesto politik;
Pemerintah benar bro memblokir Ganool dan situs sejenis, seharusnya kita memang bisa menghargai hasil karya orang lain, tapi pembuat konten juga harus mengerti rakyat Indonesia kantongnya tidak setebal mereka untuk membeli konten secara legal. Mereka masih tetap saja tamak dengan menginginkan keuntungan sebesar-besarnya dari film-film mereka yang ternyata mungkin hanya 1% yang memang bermutu, dan lainnya hanya sampah.
Kemarin pemerintah memblokir situs-situs judi dan porno, hari ini mereka memblokir Ganool dan situs sejenis, besok mereka akan memblokir situs-situs agama dengan mengatakan mereka ekstrimis, besoknya lagi mereka akan memblokir tulisan rakyat di media online karena tidak sejalan dengan pemerintah, besok-besok-besoknya lagi bahkan mungkin Facebook rakyat akan dipantau oleh pemerintah dan memidanakan bagi siapa saja yang status atau komentarnya dianggap melanggar UU ITE.
But remember people power will always win. Pemerintah memblokir 1 Ganool dan situs sejenisnya, besok beberapa situs sejenis akan bangkit. Akan saja selalu seperti itu. Entah sampai kapan pemerintah dan pemilik konten melakukan pekerjaan sia-sia ini. Mungkin sampai mereka bangun dan sadar bahwa zaman sudah berubah, bukan lagi zaman kaset pita, tapi sudah zaman streaming online. Deal or Die.
Akhir kata kami ucapkan terimakasih telah mendukung Ganool selama ini, tapi dengan sangat berat kami putuskan untuk mematikan layanan Ganool.com dan Ganool.Video dalam kurun waktu yang tidak ditentukan. Tetap dukung Ganool, karena Kami akan kembali dengan sesuatu yg LEGAL, entah bagaimanapun itu caranya.
Seperti kebanyakan situs senasib, Ganool adalah korban dari jurus pemerintah untuk menangkal pembajakan berbagai produk budaya yang beredar melalui internet. Sebuah mekanisme yang dibentuk berdasarkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 19 Tahun 2014 tentang Penanganan Situs Internet Bermuatan Negatif. Jika sebelumnya menyasar berbagai situs penyedia konten pornografi, maka kali ini 21 situs penyedia film gratis yang jadi korban blokir Internet Positive. Ganool sempat kembali berkelit, namun menemui jalan buntu.
Tapi benarkah pemerintah dapat seberwenang itu?
Pada tahun 2010, sekelompok penulis mengajukan pengujian Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan dan Undang-Undang Nomor 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan Terhadap Barang-Barang Cetakan Yang Mengganggu Ketertiban Umum ke Mahkamah Konstitusi sebagai respon aksi pemusnahan buku oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia. Muatan beberapa buku dinilai oleh lembaga tersebut bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Lekra tak Membakar Buku karya Muhidin M Dahlan dan edisi Indonesia Dalih Pembenuhan Massal karya sejarawan John Roosa adalah beberapa contoh yang terimbas, disebabkan tak mencantumkan PKI dibelakang singkatan G30S.
Dalam putusannya, Mahkamah Konstitusi kemudian mengingatkan kembali makna normatif sebuah konsep negara yang kita klaim di dalam konstitusi: bahwa Indonesia adalah negara hukum. Dalam negara hukum, pembatasan-pembatasan hak konstitusional warga negara harus didasarkan pada proses peradilan (due process to law). Aksi Kejaksaan yang berlegitimasi pada kedua undang-undang diatas pada dasarnya adalah praktik pelampauan kekuasaan administratif. Akibatnya, kewenangan Kejaksaan untuk menetapkan sebuah buku tak layak edar dicabut. Mahkamah Konstitusi dalam putusannya kemudian mengamanatkan pembentukan peradilan buku sebagai wadah penyelesaian sengketa perbukuan.
Konstruk teoritik yang sama sesungguhnya berlaku pada kasus Ganool dan kawan-kawan. Sebagai sebuah medium, situs-situs internet berhak untuk menyebarluaskan informasi apapun hingga ada putusan pengadilan berkekuatan hukum mengikat yang menyatakan sebaliknya. Meskipun secara kasat mata apa yang dilakukan oleh para penyedia film gratis melanggar Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta maupun Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE, namun pelanggaran tersebut perlu dibuktikan terlebih dahulu dalam proses peradilan yang jujur dan fair.
Konfigurasi penegakan hukum dalam Peraturan Menkominfo Nomor 19 Tahun 2014 menempatkan kekuasaan pembentukan, eksekusi dan penegakan hukum di satu tangan. Fungsi-fungsi ini seharusnya didistribusikan ke berbagai lengan kekuasaan untuk menjamin check and balances, sekalipun Kementerian Kominfo berwenang membawahi segala urusan terkait telekomunikasi. Aturan tersebut bahkan melangkahi prosedur peradilan Transaksi Elektornik yang diatur dalam Undang-undang ITE. Dengan kata lain, praktik Internet Positive a la pemerintah melalui Kementerian Kominfo adalah perwujudan apa yang disebut oleh bapak-bapak pendiri negara sebagai machstaat, negara yang otoritatif.
Kematian Ganool bukanlah akhir dari strategi pemerintah dalam memberantas pembajakan. Badan Ekonomi Kreatif pimpinan Triawan Munaf telah mempersiapkan perangkat hukum yang kali ini akan menyasar para pengunduh materi illegal. Sistem penindakan yang konon diadopsi dari Perancis dan Korea Selatan ini dirancang dengan sanksi bertingkat yang berujung pada pemutusan internet untuk selamanya. Apa yang tampak disini adalah sebuah kebijakan yang mendemonisasi masyarakat pengguna internet Indonesia, alih-alih mempersiapkan solusi struktural. Gagasan ini sedikit banyak menunjukkan kegagalan pemerintah melihat lanskap pasar perfilman negeri kita sebagai basis kontekstual pembentukan hukum.
Membincang lanskap perfilman dan pasarnya akan berujung pada percakapan mengenai kecenderungan negara untuk merapat ke salah satu sisi. Namun masyarakat bukan berarti akan selalu tanpa daya di hadapan persekongkolan. Sebuah fragmen dalam sejarah perfilman Jerman barangkali adalah contoh terbaik bagaimana arus balik dari hal-hal abstrak itu bekerja.
Kekalahan Jerman pada Perang Dunia I menyebabkan negara bangkrut dengan setumpuk utang. Krisis sosial dan ekonomi yang terjadi berujung pada penggulingan monarki Prussia. Sebuah republik baru kemudian mekar. Diam-diam ada api yang hendak berkobar diantara sisa-sisa revolusi, sebuah harapan baru bagi sinema Jerman.
Kemiskinan yang merebak menyebabkan vakansi ke luar kota menjadi sesuatu yang mahal. Masyarakat Jerman kemudian beralih ke gedung-gedung bioskop untuk mencari hiburan yang tak menghabiskan banyak waktu dan uang. Industri perfilman menjadi salah satu yang berhasil bertahan hidup. Sineas Jerman pada periode transisi berlomba-lomba mencipta film-film bermutu untuk menarik minat penonton sebanyak-banyaknya.
Dalam priode yang getir ini kemudian lahir sebuah pakem yang kelak dicatat sebagai awal-mula kecenderungan skena berbasis negara. Ekspresionisme Jerman, sebuah gaya yang diinisiasi sebagai bentuk perlawanan atas tradisi seni borjuis yang cenderung positivis melalui dramatisasi atas berbagai unsur teknis film; tata latar, gestur hingga pencahayaan. Tercatat sejumlah karya produksi dari masanya yang kemudian mencapai level kultivasi dan tetap menjadi buah bibir hingga hari ini. Metropolis yang saya sebut dimuka adalah salah satunya, selain Nosferatu: A Symphony of Horror (F W Murnau, 1922) atau The Cabinet of Dr. Caligari (Robert Wiene, 1920).
Kemampuan perfilman Jerman untuk bertahan hidup di tengah krisis bisa jadi disebabkan tingkat konsumsi yang meningkat pesat. Namun hal tersebut agaknya bukanlah faktor yang tunggal. Dalam struktur kapitalisme, mereka yang tercerabut dari jejaring besar arus modal memiliki potensi untuk melawan balik. Kita tahu bahwa Ekspresionisme Jerman sebagai gerakan dirangkum dari film-film dengan tema yang arbitrer. Metropolis menghadirkan sebuah gambaran distopian mengenai dunia masa depan, mengambil simbol-simbol industrialisasi dan menghadirkannya sebagai ejekan diam-diam. Sebaliknya Nosferatu adalah sebuah horror mula-mula, diadaptasi dari kisah legendaris Dracula. Keanekaragaman tersebut hanya dimungkinkan dalam kondisi hagemoni yang minim dari hubungan mutual negara dan pasar. Dalam tataran ini, sistem kepemilikan pusat-pusat pemutaran film memiliki fungsi yang signifikan. Bioskop-bioskop Jerman pada masanya dimiliki oleh perusahaan-perusahaan pembuat film yang semarak dan beraneka ragam. Selain memangkas alur distribusi, hal ini mengakibatkan sulitnya membentuk deskripsi tunggal terhadap komposisi pasar. Tak ada satu pihak yang dapat mengklaim secara persis film apa yang ingin ditonton orang-orang. Pun, bioskop bukan satu-satunya tempat dimana film mungkin diputar. Nosferatu bahkan ditayangkan perdana di komplek kebun binatang. Intervensi terhadap kreativitas pembuat film menjadi minim, dan karya-karya tak lekang zaman kemudian lahir.
Bulan madu ini berakhir seiring dengan kebangkitan Reich ketiga dibawah regulasi Nationalsozialistische Deutsche Arbetreipartai pada 1933. Demokrasi yang jatuh diiringi pergeseran fungsi sinema sebagai semata-mata alat propaganda program partai. Genosida antisemit menyebabkan pionir-pionir Ekspresionisme Jerman berdarah Yahudi seperti Fritz Lang memilih kabur ke negara lain, menghindari kematian.
Hagemoni adalah kata kunci yang menghubungkan kita dengan alam sosial Ekpresionisme Jerman dari masa lampau. Di era Orde Lama hingga awal Orde Baru, bioskop Indonesia pernah menjadi usaha yang semarak. Satu gedung bioskop, utamanya di daerah-daerah, dirancang untuk menjangkau wilayah yang terbatas. Di sebuah kecamatan kecil di bagian utara Sulawesi tempat kakek saya tinggal bahkan pernah terdapat gedung bioskop yang dikelola sebuah keluarga lokal. Sebagian bioskop-bioskop yang lain secara spesifik menyasar peminat khusus, untuk tidak menyebut film rating dewasa.
Pada era tersebut kontrol bukannya sama sekali tak ada. Pergeseran kekuasaan kemudian mengubah kebijakan terkait distribusi film, menumpuk konsentrasi sumber daya hingga hari ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa industri film Indonesia bekerja dibawah oligopoli segelintir pemilik melalui perusahaan impor dan jaringan bioskop berskala gigantis. Usaha distribusi film menjadi usaha yang padat modal. Perlahan ia membunuh bioskop-bioskop kecil di daerah yang tak memiliki cukup daya tawar atas harga sebuah rol film.
Kondisi yang monopolistik ini menciptakan delusi akan kuasa selera; kita seolah-olah memiliki kebebasan untuk memilih secara sadar apa-apa yang hendak kita tonton. Selalu ada pilihan-pilihan di dalam bioskop-bioskop, di dalam beberapa studio yang terbuka. Yang terjadi sesungguhnya adalah kita digiring untuk menelan mentah apa-apa yang telah dikelompokkan para pemilik jejaring bioskop. Kuasa untuk memilih, menolak dan memutar suatu judul atau tema selalu ada di tangan mereka. Di luar sana ada ribuan film diproduksi setiap tahunnya, sebagian diantaranya memiliki kualitas avant-garde. Namun yang benar-benar sampai ke hadapan publik hanyalah segelintir, bisa jadi didominasi oleh film-film dengan level pelimbahan namun menjamin keuntungan yang besar. Apa yang disebut sebagai pembeli tak lagi benar-benar relevan dan kehilangan kontrol terhadap singgasananya.
Kuasa oleh segelintir orang lebih lanjut menyebabkan film menciptakan label kelas melalui mahalnya harga tiket. Ironi ini menjadikan dunia perfilman menjadi sesuatu yang jauh.
Di tataran ini kemudian apa yang dikerjakan Ganool dan situs-situs sejenis tak lagi dapat dipandang sebagai aksi pembajakan biasa. Aksi sepihak situs-situs tersebut telah menggeser subyektivitas kita dari sekadar konsumen dalam pasar perfilman, menjadi bagian dari sebuah gerilya politik berbasis kerumunan. Para pengunduh, disatukan oleh ketertarikannya, menggoyang kemapanan yang diciptakan oleh perserongan kapital. Selain karena sifatnya yang nirekonomis karena tak mencari keuntungan, Ganool dan kawan-kawan menyediakan alternatif-alternatif memirsa melalui film-film yang tak tersedia di bioskop. Kita barangkali tak akan mengenal film-film bernas Jean Luc-Godard, Alejandro González Iñárritu hingga Lars von Trier, atau mengakrabkan diri dengan generasi ateur yang lebih tua seperti Akira Kurosawa dan Stanley Kubrick. Ada nuansa perlawanan disana, sebuah kontrahagemoni untuk kembali memanusiakan selera.

Kerugian yang ditimbulkan oleh mereka agaknya cukup untuk membuat para pemain besar industri perfilman kelabakan, sehingga perlu menggandeng tangan lain; negara. Monopoli dilanggengkan, bombardir diarahkan ke rumah-rumah lebenswelt. Disini semuanya menjadi terang benderang. Tindakan pemerintah, dimulai dengan memblokir situs penyedia film gratis hingga menghukum pengunduhnya, tak lain merupakan bentuk keberpihakan terhadap kepentingan kapital. Kita barangkali perlu menggalakkan kembali pemutaran-pemutaran di kebun binatang agar tak tenggelam.

Minggu, 24 Mei 2015

Here She Comes

02.28 Posted by Arasy Aziz , 4 comments

 

Pada suatu masa halte dan stasiun adalah tempat di mana harapan-harapan bertumbuh ulang berulang. Dan masih akan tetap begitu, selama ada yang datang dan pergi, ada yang menunggu, ada yang tertinggal. Akan tetap begitu selama ada hal-hal yang tak selesai.

“Suatu hari nanti ketika aku kembali, aku tak akan segan untuk menghambur kepadamu untuk peluk yang panjang”, kata seseorang.

Kata yang lain, naïf, “Jangan pernah kembali. Di sanalah hidupmu yang sebenar-benarnya”.

Namun mereka bukan satu-satunya yang berhak. Kita tahu di sana tempat bertemu manusia dengan beragam urusan yang tak melulu berkutat dengan haru. Ada modernitas yang berderap sejak semula ketika lokomotif uap ditemukan oleh Trevithick. Setelahnya, manusia tak akan pernah lagi sama; menjadi sekrup, mur, baut kecil dari tatanan pasca pencerahan. Di sana bertemu manusia-manusia yang tak pernah lagi sama. Kerumunan komponen.

Di antara mereka mungkin ada seorang prajurit yang esok harus berlayar ke ujung kepulauan. Di sana menunggu tugas di perbatasan negara, kadang-kadang menyapa pelintas batas yang hendak berbelanja ke pasar. Lihatlah mereka tak menggunakan rupiah, Dik, dan betapa fasihnya mereka bergaul dengan kami. Kadang-kadang aku tak bisa membedakan pelintas batas negara sebelah dengan yang di sini. Lagipula di sini nyamuknya besar-besar, Dik, tapi ku sudah biasa karena ku rajin meminum pil kina tanpa perlu kau ingatkan. Cerita ini akan tertahan berbulan-bulan menunggu di peron.

Entah bagaimana imajinasi ku selalu menautkan stasiun dengan prajurit. Mungkin dari cerita di majalah anak-anak tentang paman yang suka berteka-teki tentang meja oval. Lagipula militer adalah dunia asing dengan lokomotif yang lain.

Prajurit kita tadi memeluk istrinya yang, agar dramatis, tengah hamil delapan bulan;

“Ketika aku kembali, ku harap dia mengenaliku. Pun ketika aku luput meniupkan adzan di daun telinga kanannya.”, katanya. Agaknya ini masih keharuan yang lain.

Atau seorang dokter yang menggerutu karena mobilnya mogok dan di rumah sakit ada pasien mengantre yang harus dioperasi. Terpaksa ia naik kereta listrik yang datangnya kadang-kadang tak dapat ditebak. Ia berdedikasi, dan gerutunya adalah gerutu dedikasi.

Atau seorang insinyur, pilot, pedagang cendol, ibu-ibu pengajian, mahasiswi.

Di halte stasiun aku menunggu untuk sebuah pertemuan dengan masa lalu, yang sayangnya tak datang dengan bus maupun kereta.

Pukul satu masih beberapa menit lagi. Kemudian ingatan-ingatanku berderap mundur tanpa bisa ku cegah. Ketika lima tahun silam, atau hampir enam tahun, menunggu akhir pekan menjadi saat-saat yang kalut demi mengirim pesan singkat: “Aku nelpon ya?”.

Kami bertemu dalam momen yang tak jamak; di Bandung, ketika menebak-nebak dari ufuk bumi mana mineral ini dimasak, menjilat batuan untuk merasai, menyimak dengan takzim lapis-lapis bumi di bawah kaki kita dalam diagram tiga kali satu. Mendedah patahan, lipatan setumpuk sedimen. Dalam ketika yang lain, berpindah ke Balikpapan aku melihatnya dari jauh tanpa sekalipun ingin menyapa, seseorang yang asing. Ketika akhirnya berhadapan dengan tes sebenarnya, yang ku takutkan hanya tentang mesin hitung yang tetiba menghilang dari tas. Ketika berlari ke panggung menyambut gempita perjuangan, tentangnya sama sekali tak terbesit. Ketika pesawat membawaku pulang, dia tak ada.

“Akankah ia membunuhku pada kesempatan pertama?”

Sebagaimana beberapa pekan silam, ketika ku baca di koran-koran tentang seseorang yang ditemukan mati mengambang di danau Universitas Indonesia. Syahdan ia mengisi tasnya dengan batu-batu sebelum terjun ke pelimbahan. Kita mengira ini semata-mata agar ia tak perlu menghadap lagi ke dunia kita yang fana setelah bunuh diri. Bahkan memutuskan mati dengan sepihak membutuhkan laku dan prinsip yang tak putus.

Namun terselip surat perpisahan yang tak ikut basah. Justru sebuah titik terang; ini tak lain merupakan pembunuhan yang amat jali. Di Indonesia, yang membuat kerja polisi menjadi berlipat seperti ini sungguh tak banyak. Yang biasanya ku baca dari novel-novel detektif, tiba-tiba meloncat ke laman-laman warta.

Pembunuhan-pembunuhan yang rapi, dan berbagai kasus lain, yang menghubungkan aku dan dia kembali pada lima, hampir enam tahun silam. Hanya Sherlock Holmes yang agung dan deduksinya. Kami berbincang tentangnya pada permulaan, dan mengular pada apapun yang remeh-remeh.

Aku memutuskan untuk mengikatnya.

Lewat sambungan telepon selundupan, hal-hal yang tertahan dapat kulihat mengawang ke langit-langit kamar mandi, terbang ke menara air. Terbawa angin hingga ke laut Jawa, diam-diam menumpang kapal feri ke Bakauheuni, hingga tiba ke suatu tempat yang asing dan belum pernah ku jejak. Setelahnya, menunggu akhir pekan menjadi saat-saat yang kalut demi mengirim pesan singkat: “Aku nelpon ya?”. Akhir pekan adalah waktu untuk Adler-ku.

Aku memanggilnya Adler, kau tahu. Betapa noraknya.

Di halte stasiun, penjaja tahu sumedang agaknya sedikit khawatir ketika aku mulai tersenyum sendiri. Ia bergeser perlahan ke ruang yang sebelumnya diduduki seorang ibu yang sedari tadi sibuk menampik tawaran ojek. Jemputannya telah tiba.

Yang membuatnya bertahan dari hubungan tanpa kehadiran ini agaknya adalah janji-janji. Bahwa suatu ketika kita akan dipertemukan kembali, barangkali mengenyam kuliah di universitas yang sama. Sampai saat itu kita akan menjadi sepasang individu yang bersabar.

Namun suatu hari ia bertanya hal-hal yang terlalu jauh, aku menjadi ragu. Sejak semula harusnya mudah ditebak ujungnya; aku akan berdiri di pihak yang ingkar. Bukankah kau bukan seorang pemufakat yang baik?

Liburan yang sedikit panjang yang seharusnya kami rayakan berubah menjadi saat-saat perpisahan. Ba’da Isya, aku meringkuk di luar pintu agar sebisanya tiada siapapun yang mendengar percakapan kami. Sejak perlombaan itu aku ketinggalan pelajaran, kataku. Dia diam. Setelah ini seluruh perhatianku akan terpusat pada hasil ujian nasional yang baik, kataku. Dia diam. Aku ingin masuk universitas negeri di Jawa, kataku. Dia diam. Dan kau, mengganggu, kataku diam-diam. “Semoga kita bisa bersahabat baik”. Tak ada lagi pesan singkat di akhir pekan setelahnya.

Ini agaknya adalah cara yang buruk untuk putus cinta; menyisakan pertanyaan yang belum dijawab, kenapa? Kepada kosmos ada hutang yang harus dibayar pada suatu hari nanti. Pada lima, hampir enam tahun silam hal-hal seperti itu agaknya tak terpikirkan.

 “Akankah aku kembali ke kota kecilku dengan sebagian tubuh yang tak genap?”

Maju pada titimangsa yang lebih dekat, tiga tahun silam. Akhirnya aku punya ingatan sendiri tentang stasiun. Sesungguhnya tak ada kejadian apapun. Hanya di dunia antar-dunia, kubayangkan ada yang diam-diam mendorong tubuhku jatuh ke gerigi rel yang curam.

Pada akhirnya kesempatan pertama untuk bertemu kembali hadir ketika aku memutuskan ke Jakarta untuk sebuah urusan. Kali ini kita bisa bertemu, ujarku melalui pesan singkat setelah diam yang lama. Kita bisa bertemu di stasiun sesampainya aku di ibukota, segera setelah urusanku selesai, pada Ahad kepulanganku. Namun di hari keberangkatanku Matarmaja tak pernah benar-benar sampai ke Senen. Di pantai utara dekat Cirebon, gerbong-gerbong berbelok, berpindah rel menuju ke kegelapan yang tak putus. Seluruh penumpang berteriak. Aku berteriak! Hei, hei, masinis!! Di Senen menunggu Adler-ku!!

Ketika berkas-berkas matahari membuatku terbangun, mataku mengenali langit-langit pondokan di kota kecilku. Aku berlari ke perempatan jalan untuk koran pagi, meneliti baris demi baris, satu demi satu kolom-kolom. Tak ada berita tentang Matarmaja yang lenyap ke dalam kegelapan, rupanya. Kesinilah keheningan pantura berujung, kepada mereka-mereka yang tak percaya magisnya. Pukul tiga sore nanti aku harus kembali ke stasiun mengejar Matarmaja yang berangkat sekali setiap hari. Matarmaja hampir tak mengenal kesempatan kedua. Tak hanya bagi penumpang-penumpangnya, namun juga pengasong yang pada suatu ketika adalah nyawa gerbong. Ada yang ganjil ketika pada akhirnya kuhempaskan tubuhku ke salah satu kursinya yang hampir tegak lurus itu. Riuh tak ada lagi.

Matarmaja tak mengenal kesempatan kedua. Tak ada tempat untuk kesempatan kedua.

Diantara Solo dan Semarang aku mulai menimbang-nimbang kembali; apakah ini waktu yang tepat? Tidak, kataku. Momentum yang dipilih secara salah bisa berakibat buruk. Ketika di Jakarta, maka; Kita jadi ketemu kan? Tidak. Aku udah di Matraman, beberapa kilometer dari Senen, sangat dekat. Tidak. Keretamu pukul dua kan? Sepertinya masih sempat kok. Tidak, Ay. Ini belum saatnya.

 Selamat tinggal.

Sekali lagi, pada waktunya, aku berkhianat. Aku mulai menebak-nebak, apa yang akan dilakukannya ketika kami berhadap-hadapan. Menenggelamkan aku ke danau? Mendorong ke haribaan kereta komuter yang menderu dari Bogor? Satu peluru dilepaskan dari senapan burung? Tikaman yang lamat-lamat? Menampar dalam slowmotion?

Pukul satu lebih sepuluh, ketika aku menyadari bahwa seseorang hadir. Disanalah dia berdiri.

Dan ada kebahagiaan di dalam senyumnya, penanda bagi jiwa yang telah bergerak jauh. Hari ini, menjelma teror itu sendiri. Menjatuhkan vonis di dalam diam; Mampus kau, aku hari ini adalah perempuan dengan hati merdeka! Dan kau! Kau pada akhirnya dikutuk untuk membayar setiap serpih remuk kerakal yang kau tebar! Mampus kau, untuk usahamu melarikan diri dari masa lalu! Penolakan untuk mengakui bahwa pada suatu ketika kau jatuh cinta oleh cara-cara Tuhan yang jenaka! Kau yang rumit hari ini dan penimbang omong-omong kosong tak lain adalah cara semesta menghadirkan karma!

Namun senyumnya, aku segera tahu, adalah sekaligus senyum pembebasan. Di halte stasiun, yang terakhir ku dengar adalah riuh yang dulu hilang dari Matarmaja.

“Hai, Dan.

“Apa kabar?”

***

Slowdive - Here She Comes


Saya mulai mendengar Slowdive baru sekali, dan segera merasa terganggu oleh album Souvlaki (1993). Di antara isi-isinya, Here She Comes saya tempatkan dalam posisi yang agak spesial. Ada keheningan yang ganjil setiap kali track ini terputar. Semacam representasi yang ditunda dari obyek imajiner sang penggubah di dalam durasi lagunya yang singkat, dan terselip.

Ketika mereka menobatkan unit asal Manchester ini sebagai pionir dream pop, saya kira-kira jadi tahu mengapa.

Rabu, 06 Mei 2015

Symmetry

05.05 Posted by Arasy Aziz , , No comments
Setiap kali alarm pukul enam pagi mengantarkanku kepada hidup membosankan yang diam-diam kunikmati, aku segera teringat pada Plato.
Kita tahu Plato malu-malu untuk mengakui bahwa apa yang ada di balik dialog-dialog yang ia tulis tak lain merupakan pergumulan dengan dirinya sendiri. Barangkali semacam usaha untuk menghindari pengulangan nasib buruk gurunya yang mati dalam racun dengan sukarela. Masyarakat Yunani betapapun majunya agaknya cukup kaget dengan semaian bid’ah-bid’ah atas kuil. Dengan dialog, ia seolah pura-pura ulang, melaporkan apa yang seolah pada suatu waktu didengarnya, melempar tanggung jawab kepada yang lain.
Namun bukan itu yang membuatku mengingatnya pada kesempatan pertama. Dalam Symposium, melalui wakil-wakilnya Plato berujar: pada mulanya di awal penciptaan, Tuhan membagi manusia dalam tiga kelompok kelamin: lelaki, perempuan, dan satu lagi, sejenis hibrida antar keduanya. Dalam artian, ia sepenuhnya adalah maskulinitas dan sifat-sifat feminim dalam satu tubuh. Mungkin dilengkapi sel sperma dan ovum sekaligus dalam satu kelenjar, kemampuan membuahi diri sendiri, hermaphrodite.
Sampai saat itu dunia berlangsung baik-baik saja, hingga Tuhan Plato agaknya sadar telah keliru menetapkan rancang bangun. Kemenduaan ialah relasi yang saling menyempurnakan. Sementara tiga merusak tatanan, sebuah bilangan yang bersisa. Dalam dunia yang serba sulit, tak ada tempat bagi yang hidup setengah-setengah.
Selain itu, sebagian pria-pria dan wanita-wanita yang sejak lahirnya sendirian mulai menggugat kebijaksanaan sang maha pencipta. Ketika yang Hibrida dapat berpuas hasrat dengan dirinya sendiri, cinta bagi laki-laki dan perempuan asali adalah perjuangan yang mensyaratkan tawaran-tawaran dan saling pengertian. Kehidupan bersama antar kedua kelamin dimulai oleh pilihan acak berjalan tidak sebagaimana mestinya. Ia tak seperti hubungan Hawa yang diramu dari rusuk Adam yang hilang di taman Eden. Yang menjadikan mereka manusia yang lahir dari unsur-unsur bumi justru kealpaan dan toleransi.
Yang Hibrida kemudian dipisahkan. Dan turunlah nubuat-nubuat; “telah kuciptakan bagimu pasangan-pasangan”, baik-buruk, gelap-terang, lupa sekaligus ingat, menghapus memori kita dengan putusan kodrati bahwa dunia disusun atas negasi-negasi. Dalam dunia yang serba sulit, tak ada tempat bagi yang diantara.
Namun ada yang tersisa dalam ingatan yang Hibrida, bahwa pada suatu masa mereka pernah berbagi tubuh dan pikiran yang sama, berbagi hasrat, keinginan, motif, laku hidup yang sama. Bagi anak cucu keturunannya, ini menjadi semacam kutukan yang diwariskan. Dunia setelah itu adalah perjuangan menemukan belahan jiwa.
Aku, adalah salah satu diantaranya.
Setidaknya demikianlah bagaimana ibuku selalu menceritakannya padaku sebelum tidur, bersama Symposium. Kami adalah bangsa hermaphrodite yang dipaksa Tuhan melebur ke dalam kelamin laki-laki dan perempuan. Ketika ku tanya, apakah Ayah adalah salah satunya juga, ia akan mulai terisak diam-diam. Dalam hal ini aku gagal, anakku. Namun kau beruntung karena aku ibumu. Akulah yang bertugas menjaga agar warisan kesadaran bangsa kelamin kita tetap berlanjut.
Hari itu aku memutuskan akan meringkuk seharian di kamar, menatap manusia-manusia yang berlalu lalang saling mengabaikan satu dengan yang lain, dari sini, dari kursi kayu di tepi jendela. Hidupku yang memuat pengulangan-pengulangan perlu sekali-kali diberi spasi, utamanya ketika aku mengingat-ingat alasan primer kemengadaanku; mencari pelengkap. Pada hari-hari biasanya pada pukul tujuh, aku akan menjadi sebagian dari mereka, berjalan kaki menuju kantor yang terletak beberapa blok dari bangunan apartemen. Hidupku yang memuat pengulangan-pengulangan agaknya perlu sekali-kali menempatkan dirinya sebagai pengamat bebas. Lagipula, misi bangsaku belum tuntas kuselesaikan.
Dibawah sana barisan manusia seperti air limpahan yang tak henti mengalir menuju tuba. Individu-individu kantoran berganti segerombol anak taman kanak-kanak yang berarak dengan balon-balon, berganti penjaja makanan ringan dan kuaci, berganti motor sesekali. Aku mengira-ngira, adakah yang ideal, sebagian diriku, tengah berlalu dibawah sana dan selalu luput dari perhatianku? Mungkinkah ada yang tersenyum ketika berpapasan namun tak kusadari?
Hingga pukul 8 tak ada yang benar-benar menarik. Hingga pukul 8 sesuatu terjadi.

#

“Coba tebak, terbagi dalam berapa ruang isi kepalaku. Maksudku, otakku?”
Hmm.
“Kukira.. empat, lima. Mungkin enam. Biar kuingat. Setauku orang normal mempunyai otak kecil, batang otak..”
“Hei, kita tak sedang membicarakan itu. Aku menanyaimu tentang jumlah ruang, kau tahu.” tegasnya.
“Jadi, maksudmu ruang sebagai “ruang”, harfiah?”
“Tentu.”
Aku mengerling padanya untuk sebuah jeda. Pada dasarnya tak benar-benar mengerling, pun tak mencoba menebak-nebak apapun. Aku tepatnya ingin menatapnya sedalam-dalamnya. Wajah jenaka dengan garis-garis lelucon alami yang tak dapat ditutupi potongan pixie maskulin merah matahari. Aku pada dasarnya tak menyukai warna-warna yang demikian hidup seperti selubung di rambut gadis di hadapanku. Tapi merah itu berkali-kali meluruh di mataku seolah disaput begitu saja dari tube cat pastel. Georgia punya sihir, semacam tipuan mata.
Tak sekalipun aku terkejut dengan pertanyaannya. Sejak semula, ku tahu ia punya sesuatu yang sedang kucari.
Tiga hari lalu ketika aku bertemu dengannya pertama kali ku kira ia melakukan tindakan yang jauh lebih sensasional. Dari jendela kamarku di lantai dua, lalu lintas di tengah kota kami tampak sedang padat-padatnya ketika mendadak sebuah motor yang melaju kencang dari selatan menabrak mobil dari ujung jalan yang lain.
Motor itu menolak berhenti meski jelas tak lagi berbentuk dan pengemudinya telah lebih dahulu terlempar jauh ke atap sebuah kafe sebelum tanpa ampun menghujam tanah. Dalam birama enam per delapan, motor itu mulai mendaki bagian depan lawan mainnya, menembus kaca dengan kaki-kakinya yang patah. Aku bisa memainkan satu partitur Chopin.
Tengah kota kami yang sebelumnya tak punya waktu untuk sekadar berimajinasi akan dunia alternatif, sebuah anti-kota, tiba-tiba menahan napas. Tiga hari lalu, aku mengamati bagaimana air limpahan yang menuju tuba tiba-tiba berubah mencerat seperti dulang yang ditepuk. Sebuah tatanan kosmik telah runtuh.
Namun ku kira drama belum berakhir. Orang-orang yang sebelumnya terpana, tetiba berlari ke arah manapun yang pertama kali terlintas dalam pikiran mereka, arah manapun yang dapat mereka capai. Aku mahfum. Dapat kulihat sesuatu mengalir diantara dua rongsok yang kali ini telah menyatu sepenuhnya. Bensin.
Tentu saja harus ada ledakan. Seseorang membutuhkan setting untuk melengkapi kemenjadiannya.
Ku teringat pepatah ini; ada asap ada api, namun tak mungkin rasanya gasolin menghasilkan api tanpa api yang lain. Rambut merah dihadapanku kemudian mengambil perannya di dalam pentas. Kejadian yang berlangsung demikian cepat, saksi-saksi terlanjur panik luput menyadari adegan penting ini.
Tentu saja ada ledakan, pada akhirnya. Tak butuh waktu lama. Si gadis diam-diam tertawa senang. Aku melihatnya.
“Kau menghayal.” Georgia menyentuh jariku dengan ujung garpu.
“Baiklah. Bantu aku melengkapi sejumlah premis yang hilang sehingga gambaran mengenai jumlah ruang otakmu lengkap.”
Ia tampak tertarik. “Baiklah.”
“Tiga hari lalu, Georgia, mengapa kau melempar korek api ke genangan bensin pada kecelakaan itu? Kau tahu di dalam mobil masih ada pengendara, kan?”
“Ya.”
“Ya, saja?”
Ia kembali ke mode default wajahnya yang tampak sedingin embun pukul enam pagi, tenang sekaligus menggemaskan. Sepasang pundaknya yang semula maju hingga ujung-ujung hidung kami berhadapan dalam lima inci, rilis.
“Itu pertolongan terbaik yang dapat kuberikan pada mereka, kau tahu. Pria yang berada di balik kemudi telah tewas, sementara si wanita sekarat.”
“Itu belum menjelaskan apapun. Kau bisa saja menunggu ambulan.”
“Ku rasa dengan meledakkan mobil semuanya berlangsung lebih cepat. Pengiriman tuntas ke surga. Aku yakin sudah terlambat untuk menyelamatkan apapun. Aku dapat merasakannya.
“Kita harus membayangkan si wanita berbahagia.”
“Kau mengutip kalimat terakhir...” Aku menimpali, sebelum kalimatku disergah. Ia membaca pikiranku.
“Dengan perubahan. Lagi pula, kau sama gilanya karena menghampiri seseorang yang rupanya kau tahu, kau satu-satunya orang yang tahu, baru memantik api ke genangan bensin lalu mengajaknya berkenalan, seolah-olah tak terjadi apapun. Api bahkan masih menyala. Alih-alih menelepon polisi, kau malah meminta nomor teleponku. Disinilah kita.”
Aku sedikit terbahak, ia tak tampak kaget.
“Kau bercanda. Seseorang telah melakukannya dan kau lihat bagaimana mereka menanganinya? Kepanikan orang-orang sesegera itu mereka simpulkan sebagai penanda bahwa api tersebut lahir dari relasi sebab-akibat kecelakaan. Jika jeli batang korekmu harusnya masih ada di tempat kejadian. Mereka malas saja.
“Tak ada yang perlu kulakukan dengan model aparat seperti itu.”
Kami terdiam.
“Jika kau ada di posisiku, apa yang akan kau lakukan?” Ujar Georgia memecah kesunyian.
Aku berpikir sejenak.
“Karena kau bertanya; aku tak akan melakukan apa-apa. Kamarku ada di lantai dua, kau ingat?” Namun segera ku ralat. “Mungkin menelepon ambulan. Tepatnya, aku memang menelepon ambulan. Dibanding polisi, mereka kadang lebih bisa diandalkan.”
Kami terdiam untuk lima menit.
“Jadi …
“Ada berapa ruangan di otakku, Jonas?”
Ia telah kembali dengan pertanyaan itu. Kali ini aku perlu menjawabnya dengan sedikit serius, untuk meyakinkannya akan sesuatu. Telah ku putuskan, ia memilikinya.
“Kukira hanya setengah yang akan kaubagi denganku. Bukan. Maksudku, sebenarnya, sejak semula aku tau bahwa kau memiliki setengah otakku. Aku dikutuk mencarimu. Aku menemukanmu.”
“Apa maksudmu?”
“Mendekatlah. Biar kubawakan sesuatu ke telingamu.
Ia tampak ragu. “Maksudku, mengapa tak kita lihat saja?

#

Pukul enam pagi suara lonceng yang mendentang tak karuan di ujung lorong mengantarkanku kepada hidup membosankan yang diam-diam kunikmati. Itu peringatan bahwa setiap orang harus bergegas bangun untuk pemeriksaan rutin. Tak ada tempat untuk berleha-leha disini. Penjara pada akhirnya hanyalah perihal memindahkan absurditas, tak ada yang benar-benar berbeda dengan ruang kehidupan manusia-manusia mesin di luar sana. Di sini, hidupku adalah repetisi atas perbuatan-perbuatan, yang bedanya, satu-satunya pembeda, ditetapkan oleh orang lain.
Pada malam kencan pertamaku dengan Georgia, aku berhasil mengajaknya pulang ke kamarku yang kecil. Di dalam matanya menyala-nyala gairah, semakin meyakinkanku bahwa dialah sang belahan jiwa yang hilang. Pada akhirnya kami dipertemukan oleh sebuah insiden setelah abad-abad keterpisahan. Lihatlah bagaimana semesta bekerja dengan unik. Malam ini kami akan menjadi waktu untuk kembali memintal satu kesadaran yang tercerai berai.
Di kamarku telah menunggu seperangkat bius.
Ketika kami tiba di pintu, aku tak sabar untuk segera memilikinya. Georgia berbaring, berupaya meraih-raih kemejaku. Aku mendekap mulutnya dengan sapu tangan. Georgia meronta sia-sia sebelum terdiam dalam koma. Kami selangkah lebih dekat, satu tahap lagi.
Aku menyeret tubuhnya yang lunglai ke kamar mandi untuk memeriksa jumlah ruang di otaknya dengan palu dan gergaji.
Yang ternyata, tak seperti bayanganku, utuh dengan dua sisi yang bersebelahan simetris, tak sama sekali bersebagian.
Mengecewakan.
Kau tahu, dari sekian banyak sisa-sisa penciptaan yang mula-mula, tak banyak yang benar-benar sadar bahwa ia adalah keturunan dari laki-laki dan perempuan asali. Kepadanya terdapat pilihan bebas untuk mencari belahan jiwa secara acak, tak terikat pada pembagian Tuhan yang ganjil atas entitas ketiga. Kesempatan yang tak pernah benar-benar diambilnya, terlalu terlambat untuk diambil. Mereka terjebak pada upaya menemukan bagian lain yang ideal, melengkapi hidup yang penuh teka-teki. Di ujung jalan, ketika tak ada lagi yang tersisa untuk diperjuangkan, dengan Kesepian ia bergandengan tangan.

#

Mew - Symmetry



Harus saya katakan bahwa Symmetry adalah salah satu lagu Mew favorit saya; bagaimana Mew tetap menjadi Mew tanpa vokal angelic Jonas Bjerre.