Fiat Lux

Tampilkan postingan dengan label #sedangmemutar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #sedangmemutar. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 September 2017

Kitab Ajaran Keluarga Para Jalang Melankolis


Ada sebuah shelter bus Trans Jogja di ujung selatan kawasan Malioboro, berdiri berhadap-hadapan dengan Taman Pintar. Pada hari-hari yang riuh, akhir pekan yang panjang, shelter itu akan penuh sesak dengan calon penumpang yang hendak beranjak ke ragam penjuru angin Jogjakarta. Antrean bisa mengular hingga ke tangga landai yang ujungnya menyatu ke permukaan trotoar. Beberapa menit sekali, bus Trans Jogja akan singgah mengangkut penumpang.

Jika bus-bus yang datang dari timur telah sama penuhnya dengan isi shelter, maka antrean panjang itu harus bersabar sekali lagi. Hanya satu dua akan terangkut. Sisanya terpaksa melengos beberapa kali. Menunggu bus yang datang belakangan.

Lalu bus yang lebih lengang tiba. Penumpang naik satu per satu, dan udara di shelter sempit kembali melegakan.

Dalam sejumlah lawatan ke Jogja, saya beberapa kali menumpang Trans Jogja dari shelter di depan Taman Pintar itu. Biasanya setelah seharian mengeluyur sendirian di Malioboro dari ujung ke ujung. Perjalanan mengelayap umumnya akan saya akhiri di pasar buku di belakang Taman Pintar, mencomot beberapa buku untuk di bawa pulang. Berjalan kaki dari pasar menuju shelter memakan waktu kurang dari 3 menit.

Namun pada kunjungan ke Jogja di bulan Januari 2014, situasinya berubah sedikit berbeda. Menunggu bus datang di shelter yang sama terasa nelangsa detik demi detik. Kala itu saya memilih bersandar di salah satu sisi pintu penaikan-penurunan penumpang yang hampir tak pernah tertutup. Beruntungnya, halte pada hari-hari itu cukup lengang. Cuaca Jogja tak begitu panas, bahkan cenderung abu-abu. Mendung.

Mata saya tak lepas dari kendaraan yang mencoba membelah jalanan sekencang mungkin, sebelum hujan benar-benar turun. Tak ada yang mau terjebak hujan di jalanan. Mata saya tak lepas, namun pikiran saya sedang tidak ada di sana. Tidak di jalanan itu, tidak di dalam shelter. Tidak sekalipun mengekor sepeda motor yang berlalu. Saya memang terserang sakit jiwa tingkat pertama waktu itu. Suasana di sekitar shelter yang sesungguhnya baik-baik saja berubah menjadi serba sentimentil.

Lalu hujan akhirnya benar-benar turun.

Pada saat itu, sayup-sayup intro “Departemental Ditties and Other Verses” mulai terdengar. Lalu sealbum penuh “Re-Anamnesis”, milik Melancholic Bitch (Melbi). “We are very slightly change…”



Sejak saat itu, segala tentang Melbi menjadi serba melekat pada suasana shalter busway di selatan Malioboro itu. Pada sendunya yang remang-remang, sebelum dindahkan ke dalam ragam situasi yang lain. Eksistensi fisikal shelter yang tiga dimensi barangkali telah samar-samar, namun saya menyimpannya sebagai sebuah kategori perasaan tersendiri.

Lagu-lagu Melbi diramu untuk mengiyakan kegelisahan a la shelter itu. Memperbincangkan cinta dengan cara dan sudut pandang tak jamak. Makna literer shelter sebagai tudung perlindungan dimaknai ulang sebagai cukup ruang personal untuk memahami kegelisahan. Menciptakan rasa aman yang hadir dari penerimaan dan usaha untuk mengerti.

Lalu pada putaran lagu-lagu Melbi yang kedua, saya mulai menyimak liriknya dengan saksama. Setiap katanya seolah dijahit berdasarkan riset puluhan tahun atas kebudayaan manusia. Setiap katanya dipilih secara hati-hati sebagai sajak, sebelum ditimpali dengan bebunyian dari instrumen yang kaya. Di dalam musiknya saya temukan instalasi cermin untuk sebuah refleksi.

Pada putaran ketiga dan selanjutnya, yang terjadi adalah adiksi menahun.

Sebagaimana terhadap banyak band favorit, saya diam-diam mulai menyimpan asa untuk menyaksikan band ini secara langsung, hadap ber hadapan. Masalahnya, Melbi sendiri bukanlah band yang mudah ditemui. Sebagaimana lagu-lagunya mengubah sebuah shelter Trans Jogja menjadi imaji tak terjelaskan yang melulu kontekstual, eksistensi band ini pun hampir sama abstraknya.



Konon sejak merilis “Balada Joni dan Susi” -album penuh kedua mereka- pada tahun 2009, penampilan live Melbi dapat dihitung dengan jari sebelah tangan. Personelnya lebih banyak berkutat dengan urusan masing-masing. Salah satunya melanjutkan studi ke luar negeri, yang lain berkeliling Indonesia sebagai sound engineer. Mite tentang Melbi diperbincangkan kasak-kusuk, sementara bandnya, sebagaimana istilah yang dipergunakan banyak media, memasuki fase hidup segan mati tak mau.

Namun pada suatu hari, tanpa gerhana atau meteorit, laman media sosial mereka mendadak genit kembali dan sibuk bercuit-cuit. Melbi menggoda penggemarnya dengan isyarat kelahiran sebuah proyek baru. Lalu tanggal konser pada permulaan September segera ditetapkan. Yang membahagiakan dua kali lipat, konser tersebut sekaligus menjadi ajang peluncuran album mutakhir mereka setelah 8 tahun, NKKBS Bagian Pertama.

::

Saya tiba di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM 15 menit kurang pukul 7 malam. 12 jam sebelumnya, saya masih menunggu kereta api di stasiun Senen.

Pintu arena pertunjukan masih tertutup sekenanya. Selain para penjaga pintu, aktivitas panitia hanya tampak di booth penukaran dan pembelian tiket. Sementara orang-orang yang menunggu menyemut hingga ke halaman parkir. Saya memilih merebahkan diri di salah satu pojok yang lengang dekat pintu masuk. Ketika pukul 7 terlampaui, belum ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Saya melanjutkan apa yang telah saya lakukan sejak pertama kali tiba; mengamati detil-detil album baru Melbi di tangan saya.

Nomor-nomor di dalam NKKBS Bagian Pertama dijuduli dengan cara yang ganjil. Umumnya terdiri atas dua kata atau frasa, dengan dipisahkan koma di tengahnya. “Normal, Moral”, “Dapur, NKK-BKK”, “Aspal, Dukun”, “Selat, Malaka”, semisal. Satu-satunya lagu dengan judul yang memenuhi unsur sebuah kalimat normal tersisa di akhir album, “Lagu untuk Resepsi Pernikahan”. Saya menebak-nebak alasannya. Jika mengingat-ingat kebiasaan artistik Melbi, cara penulisan ini barangkali adalah sebuah detil metaforis yang tak lepas dari tema umum album itu sendiri.

Lamunan saya buyar ketika para penjaga pintu mulai sahut menyahut menyilakan orang-orang untuk masuk ke gedung. Saya bergabung ke dalam antrean masuk.


Malam itu, Interior PKKH dibalut dengan kain hitam sepenuhnya. Kami harus melalui koridor, sebelum kain hitam panjang itu menemui ujungnya.  Di sisi dalam telah berdiri sebuah panggung besar dengan instalasi patung yang terbungkus terpal, dililit berutas tambang. Sayup-sayup diperdengarkan lagu mars Keluarga Berencana (KB) lewat pengeras suara. Sementara di latar panggung diproyeksikan potongan gambar dari proyek seni rupa “Indonesian Family Potrait Series” karya Akiq AW. Syahdan, NKKBS Bagian Pertama terinspirasi dari serangkaian intalasi ini.

Tepat pukul 8, Nadya Hatta yang mengisi seluruh bagian keyboard dalam album ini naik ke panggung. Ia mulai memainkan sejumlah nada, sebelum vokalis Melbi yang kesohor itu menyusul naik. Dari kerongkongannya yang penuh asap sigaret, mulai berdengung lirik yang segera saya kenali.

We are very slightly change / From a semi apes who range / India’s prehistoric clay / India prehistoric clay //”

Departemental Ditties didapuk sebagai intro konser. Saya menyeru sendiri dengan haru tertahan mengiringi Ugo bernyanyi. Pada nada terakhir, konser berlanjut dengan resital seluruh isi album NKKBS Bagian Pertama, dari awal hingga lagu terakhirnya.

::

Mendengarkan NKKBS Bagian Pertama ibarat membaca sebuah laporan penelitian sosial komprehensif mengenai struktur sosial masyarakat Indonesia sejak merdeka. Di dalamnya, Orde Baru ditempatkan berdiri di tengah-tengah, membagi titi mangsa sejarah kebangsaan diantara pendahulu dan setelahnya.

Konteks NKKBS Bagian Pertama rasanya telah dimulai jauh semenjak bulan-bulan jelang kemerdekaan. Pada sebuah perdebatan di BPUPKI, Prof. Soepomo mengajukan sebuah konsep kontroversial mengenai bentuk negara yang hendaknya dianut Indonesia kelak. Ia menyebut dengan malu-malu Jepang dan Jerman, dua negara yang notabene mengawali kekacauan Perang Dunia II, sebagai sumber inspirasinya. Malu-malu, karena sebelum terlalu jauh dituding mencomot gagasan fasis, Soepomo buru-buru berkilah bahwa konsep yang ia bawa tak sepenuhnya sebangun dengan idelogi itu. Yang hendak ditekankannya adalah betapa negara haruslah mencakup segala tanpa terkecuali di dalam sistem yang meniru dinamika keluarga. Pemerintah menjalankan lakon sebagai seorang ayah.

Salah satu konsekuensinya, konstitusi Indonesia kelak tak perlu memuat klausul-klausul mengenai Hak Asasi Manusia (HAM). Selain dituding kelewat liberal dan kebarat-baratan, perlindungan HAM sudah menjadi wewenang intrinsik pemerintah, tanggung jawab moral struktural, sehingga tak perlu diucapkan secara formal di dalam perundang-undangan. Beruntung di dalam forum yang sama bermukim sosok Hatta dan Yamin. Ide ini, pada akhirnya, tak benar-benar diterapkan secara utuh.

Namun kerangka pengaman yang didirikan para pendiri bangsa dari bahaya laten integralisme itu rupanya tak benar-benar kuat. Mudah ditebak, karena hanya berwujud satu pasal di dalam UUD 1945. Kekuasaan tokoh-tokoh revolusi 1945 berakhir pada tahun 1966, beberapa bulan setelah peristiwa kontroversial G30S. MPR sebagai lembaga tertinggi negara pada waktu itu mengalihkan mandat pemerintahan dari tangan Soekarno kepada Soeharto, sang pahlawan G30S. Orde Baru berdiri di atas remah-remah rezim sebelumnya.

Di tangan Soeharto, konsep integralistik akhirnya menemukan dimensi praktikal. Di dalam monograf bertajuk “Pahlawan-pahlawan Belia: Keluarga Indonesia dalam Politik”, Saya Sasaki Shiraishi menggambarkan bagaimana sang Jendral berusaha memapankan posisinya sebagai bapak bangsa. Warga negara diperlakukan sebagai anak yang harus senantiasa manut terhadap standar moralitas rezim. Slogan Tut Wuri Handayani diwacanakan ulang sedemikian rupa dalam relasi kuasa a la militer, sehingga kepatuhan setiap orang menjadi tak bersyarat. Segala bentuk penyimpangan sudah sepantasnya dihukum sebagai bentuk kasih sayang. Pemahaman ini belakangan melegitimasi tindakan represif Orde Baru atas ekspresi yang bertentangan dengan haluan politik rezim, atau apa-apa yang dinilai dapat mengganggu stabilitas.


Dan negara yang dijalankan dengan prinsip kekeluargaan membawa konsekuensi lain. Di dalam sebuah keluarga, batas-batas antara privasi anggotanya hampir-hampir samar. Keluarga adalah oikos itu sendiri, muasal pranata rumah tangga yang paling asali. Dengan demikian di dalam negara kekeluargaan, pemisahan antara yang privat dan yang publik berusaha dihilangkan. Negara perlu menyerobot dan mengontrol ruang-ruang paling pribadi warga negaranya dalam kedudukannya sebagai pemimpin pranata keluarga.  Mereka perlu tahu siapa gadis yang dibawa anak laki-lakinya ke dalam kamar, dan pada pukul berapa mereka bersenggama. Negara harus tau masakan apa yang di masak ibu hari ini. Negara perlu mengetahui berapa anakmu, dan kalau perlu, mengatur jumlahnya.

Konsep keluarga ideal pada akhirnya menjadi wacana dominan dalam sentrum politik Indonesia, dan semakin mapan di era Orde Baru. Melalui beragam kanal, ia menelusup sebagai doktrin yang menjamah sub-sub kesadaran manusia Indonesia. Sekalipun tatanan Orde Baru telah berakhir hampir 20 tahun silam, gaungnya tetap terasa hingga hari ini. Bagi mereka yang lahir dan bertumbuh sebelum ’98, kesadaran itu barangkali masih utuh. Namun bagi generasi yang lebih muda, pengetahuan sadar mengenai daya rusak Orde Baru hanya dapat dikenali melalui informasi pihak kedua, ketiga.

Narasi besar album NKKBS Bagian Pertama kemudian menjadi peretas bagi gap ingatan antar generasi itu. Fokus utamanya memang tentang pembacaan kritis atas konsep keluarga a la Orde Baru. Namun apabila ditimbang-timbang, NKKBS justru telah beranjak kepada sebuah epos yang hampir lengkap mengenai percobaan rekayasa sosial yang berusaha ditutupi rezim dengan gincu pembangunan. Kadang-kadang tekstual, namun lebih banyak disampaiakn dengan majas dan lelucon gelap, dingin.

Sejak track pertama, saya dibawa kepada banyak tinanda tandingan atas diksi-diksi yang kerap digunakan Orde Baru di dalam demagoginya. Kita tahu, kata “hantu” selama Orde Baru terpersonifikasi di dalam propaganda anti Komunisme, agar ideologi yang disebut belakangan terus-terusan hadir sebagai musuh bersama. Melbi mengajukan “Bioskop, Pisau Lipat” sebagai single pertama album NKKBS. Sebuah balada tentang memakai “bendera sebagai seragam,” ketika “digelandang ke bioskop jam 9”. “Bioskop, Pisau Lipat” dirancang untuk lebih mudah dicerna dan dinyanyika ulang, dan dengan demikian, membangkitkan sebuah trauma kolektif masa sekolah dasar.

Pendekatan hantu Orwellian a la Orde Baru tidak hanya berkutat pada wacana anti komunisme. Ia meraba jauh ke sela selangkangan, ke atas tubuh perempuan. Di dalam “Normal, Moral”, pelekatan gaib sang “hantu” dialihkan pada subyek guru Pendidikan Moral Pancasila yang hadir di “ranjang tempat kau bercumbu,” dan “tidak senang mendapati istrimu tak lagi perawan.” Sang guru adalah wakil dari big brother yang mengonstruksikan alam bawah sadar manusia Indonesia dengan gagasan tentang keperawanan sebagai prasyarat ideal seorang wanita lajang.

Ajaibnya, beberapa hari setelah album ini dirilis, seorang hakim mengusulkan tes keperawanan sebagai prasayarat pernikahan. Apabila seorang perempuan gagal melaluinya, negara dapat mengambil tindakan preventif dan represif. Novum maha tolol ini diklaimnya dapat menekan tingkat perceraian, sehingga laki-laki tak perlu rugi menikahi wanita yang tak lagi perawan. Si hakim adalah dokumentasi aktual dari generasi yang merawat nilai-nilai yang tengah dicemooh Melbi. Saya terpukau dan hampir-hampir mengira bahwa Ugoran Prasad dan kolektifnya memang merupakan sekumpulan nabi.

Keberlanjutan wacana politis Orde Baru dalam situasi kekinian dapat dibaca di lagu lain. Nomor “666,6” dinyanyikan sebagai kritik gamblang terhadap rendahnya literasi dan kemahiran saintifik masyarakat Indonesia, dibanding penguasaan mereka terhadap kitab suci. Kecenderungan yang muncul belakangan di kalangan orang beriman justru skeptisisme atas perkembangan ilmu. Perdebatan tidak perlu mengenai bentuk bumi kembali mengemuka ke ruang publik setelah ratusan tahun. Lagu tersebut dijuduli dengan epigram jumlah ayat Al Quran, seolah-olah menunjukkan adanya pemahaman yang terbalik tentang relasi agama dan akal sehat.

Yang berbahaya, kemalasan membaca itu berbanding lurus dengan syahwat untuk memaksakan moralitas agama sebagai standar retribusi hukum. Lelaku masyarakat dinilai berdasarkan “apa yang surga, apa yang neraka.” Artinya, peran agama semakin di dorong untuk masuk ke urusan polis secara utuh.


Apa yang terjadi hari ini barangkali adalah buah dari pergeseran konstituensi Orde Baru pada dekade terakhir rezim. Sejak 1965, Angkatan Darat (AD) menjadi lengan politis utama Soeharto. AD membantunya membangun fundamen-fundamen dasar pemerintahan, dimulai dari elemen-elemen  prinsipil hingga ke dalam praktik birokrasi. Namun di akhir ’80-an, sang jendral memutuskan memperbaiki hubungan dengan kaum islamis yang selama ini dipecundanginya.

Robert Hefner di dalam “Civil Islam” menyebut, rekonsiliasi ini bermula oleh keputusan Soeharto untuk menunaikan ibadah haji. Haji notabene adalah rukun agama yang memiliki kuasa labeling penting dalam pergaulan sosial masyarakat Indonesia. Dapat diartikan, sang jendral berusaha meminimalisasi citra sekular dan kejawen yang selama ini dia tunjukkan, dengan meraih status sosial tertentu. Soeharto kemudian menyokong pendirian pranata-pranata sosial berbau keislaman, sekalipun tidak mengiyakan seluruh tuntutannya, termasuk Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Di akhir kekuasaan Orde Baru, ketika huru-hara krisis ekonomi mulai terjadi, militer diam-diam membentuk unit-unit kombatan sipil di bawah naungan program Pamswakarsa. Komposisinya terdiri atas beragam latar belakang ideologi dan sosial, termasuk kaum islamis. Pada hari ini, ketika mereka yang menklaim bernafas Pancasila tampak kekurangan ekspos kamera, kolektif yang disebut belakangan justru semakin berkembang dalam kecepatan yang mengkhawatirkan, serta aspirasi politik yang vulgar; membentuk tatanan sipil berdasarkan “apa yang surga, apa yang neraka.”

Selain kekayaan wacananya, NKKBS Bagian Pertama juga melangkah lebih jauh dalam ekplorasi musikalitas. Dua album pendahulunya dihidangkan dengan rona yang lebih gelap, meminjam unsur-unsur psychedelic dan post-punk ’80-an. Di dalam NKKBS, Melbi melakukan pengayaan dengan musik rock yang lebih segar dan bergerigi. “Aspal, Dukun” mengocok gitar dan melengking dengan sentuhan rockabilia, sehingga terdengar menyenangkan untuk didengarkan sembari berkendara di jalan raya. Kebetulan, lagunya bertutur tentang franchise toko serba ada yang berkembang biak mengikuti pertumbuhan aspal. Masuk ke pelosok-pelosok, hingga dituding sebagai “jimat orang kota.”

Dengarkan pula nomor penutup “Lagu untuk Resepsi Pernikahan” yang menggelikan. Struktur nadanya memang memenuhi kriteria ideal lagu pengiring pengantin, namun liriknya membawa pesan yang jomplang. Ia mencerca praktik resepsi pernikahan hari ini yang gemerlap, namun menyisakan utang. “Cinta…” ujarnya “diseret paksa” sehingga pelaminan dapat terisi oleh pasangan yang berbahagia. “Lagu untuk Resepsi Pernikahan” menjadi bab akhir bagi NKKBS Bagian Pertama dengan simpulan yang cenderung melankolis atas institusi keluarga.

::

11 lagu di dalam NKKBS Bagian Pertama purna dibawakan Melbi dalam 46 menit. Enam orang di atas panggung memohon undur diri. Namun pertunjukan belum selesai. 10 menit berselang, para personel Melbi kembali ke atas panggung dengan kaki-kaki yang lebih segar.

Jika pada sesi pertama penonton lebih banyak tergagu, sesi kedua konser NKKBS ibarat pelukan panjang pelepas rindu para penggemar Melbi. Sungguh hangat dan karib.


Sebuah intro panjang digaungkan, menemani salam-salam Ugo kepada mereka yang menunggunya. Berturut lelagu penting mulai dinyanyikan dari kerongkongannya yang masih penuh asap. “Akhirnya Masup Tipi”, “Tentang Cinta”, “7 Hari Menuju Semesta”, “Mars Penyembah Berhala”, “Sepasang Kekasih yang Bercinta di Ruang Angkasa”, “The Street”, “Menara” hingga “Nasihat yang Baik”. Sepanjang set kedua, gedung PKKH riuh dan penuh oleh paduan suara dadakan para penonton.

Saya sendiri terus bernyanyi kesetanan seperti orang-orang yang lupa jalan pulang. Diam-diam, NKKBS mengganti imaji tentang shelter Trans Jogja di selatan Malioboro. Yang tersisa dari sana adalah refleksi yang menerus, sementara kegusarannya menguap ke udara. Meluruh sepenuhnya dengan lampu sorot warna-warni dan keringat beterbangan. Saya melompat dengan beringas ke kanan dan ke kiri, ke depan ke belakang, setengah lupa bahwa di sekitar saya masih ada orang lain. Mengacungkan lengan di “Mars Penyembah Berhala”, berteriak-teriak semaunya. 

Saya bersikap seolah konser malam ini adalah konser terakhir Melbi dalam beberapa tahun. Atau seolah akan menunggu lama kembali untuk NKKBS Bagian Kedua.

Namun pada akhirnya, Melbi buru-buru menepis ketakutan ini. Konon, tidak akan ada lagi penantian hingga 7 tahun atau lebih. “Kita akan segera bertemu kembali,” tegas Ugo sebelum mengajak Melbi berpamitan yang sebenar-benarnya. (*)


Sekelumit tentang Konser “NKKBS Bagian Pertama”:
NKKBS Bagian Pertama diselenggarakan di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM pada 9 September 2017. Saya masih berharap mereka menggelar gig lain di Jakarta. Formasi Melbi dalam album NKKBS Bagian Pertama terdiri atas Richardus Ardita, Yennu Ariendra, Ugoran Prasad, Yossy Herman Susilo, Nadya Hatta, dan Danish Wisnu Nugraha.

Tiket dibanderol Rp. 35.000 (presale), Rp. 70.000 (bundling CD album), Rp. 170.000 (bundling tees dan CD album), dan Rp. 50.000 (OTS). Saya menuju ke Jogjakarta dengan kereta api ekonomi bolak-balik jurusan Pasar Senen-Yogyakarta.

Jumat, 20 Januari 2017

Thukul yang Tak Bisa Bilang “R”

02.54 Posted by Arasy Aziz , , , , 2 comments
Kapankah sebuah dialek, atau cara bertutur, menjadi patahan baru dalam lanskap sinema Indonesia? Beberapa tahun silam, Reza Rahardian menunjukkan pendekatan wicara yang brilian dalam perannya sebagai Habibie muda. Cara Habibie berbicara kerap kali terdengar khas; bahasa Indonesia dari rongga yang seolah terisi penuh, berat dan dihela-hela. Reza meniru, bahkan menduplikasinya, seolah ia Habibie yang baru saja kembali dari mesin waktu. Kita jadi cenderung mengabaikan fakta bahwa perawakan keduanya sama sekali tak mirip. Reza menjulang dengan hidung sedikit mancung, sementara Habibie tampak kate dengan hidung hampir tenggelam khas orang Timur. Pencerminan yang berhasil ini melahirkan puja-puji dan ketiban deretan penghargaan.

Namun sampai sejauh mana akting Reza yang memukau ini berkontibusi atas bangunan sinematurgi “Habibie dan Ainun”, film itu sendiri, secara keseluruhan? Baru saja, saya menemukan pembanding yang lain. Terhitung sejak 19 Januari kemarin, Istirahatlah Kata-kata tayang serentak di beberapa bioskop Indonesia. Sebuah kepulangan yang ditunggu-tunggu, mengingat film ini telah lebih dahulu dikenal publik lintas negara setelah diputar di sejumlah festival.

Sumber: rollingstone.co.id

Sentrum cerita Istirahatlah Kata-kata adalah sosok Wiji Thukul, khususnya dalam fragmen pelariannya ke Pontianak, Kalimantan Barat. Kita tahu, melarikan diri adalah konsekuensi dari kesenangannya untuk membikin aparatus Orde Baru terbakar, khususnya pada periode senjakala rezim. Senjatanya, sajak. Senjatanya adalah kata-kata.

Ketika Reformasi berlangsung pada tahun 1998, usia saya notabene masih 5 tahun. Saya hampir tak punya memori apapun tentang peristiwa akbar ini. Ingatan tentangnya sungguh tersamar, sebagian besar bersumber dari buku-buku yang saya baca di kemudian hari. Berbagai literatur cenderung menempatkan sejumlah nama babon politik sebagai pelakon utama peristiwa. Narasi sejarah menyederhanakan perwatakan hanya kepada nama-nama yang berulang tercetak di media massa.

Wiji Thukul selama beberapa waktu lebih banyak menghuni catatan kaki. Pada kenyataannya, ia adalah penghujam rezim yang konsisten. Mata kanannya pernah lebam akibat dipopor senjata ABRI kala turut mengorganisasi aksi mogok buruh PT Sritex di Solo. Pada era Orde Baru, “mogok” adalah sebuah gangguan sensitif atas hasrat stabilitas nasional. Ini adalah serangan telak atas usaha puluhan tahun menjinakkan gerakan buruh. Buruh-buruh Sritex kembali pada khittahnya, sebagai agen revolusi.

Thukul mendirikan Jaringan Kebudayaan Rakyat (Jaker), sebuah wadah pengorganisasian seniman-seniman dengan keberpihakan kepada akar rumput. Tidak sedikit diantara mereka, termasuk Thukul sendiri, datang dari kawula yang sama; buruh, kaum tani, rakyat miskin kota. Pada akhirnya, ia menggabungkan diri dan Jaker dengan organ politik yang lebih praktikal, Partai Rakyat Demokratik (PRD). Dan sebagaimana mogok, mendirikan partai politik adalah tindakan yang sama subversifnya. Kata subversif semakin identik dengan PRD seiring popularitasnya yang menanjak, hingga dihancurkan sementara oleh pergerakan jejaring militer Soeharto

Pasalnya adalah peristiwa 27 Juli 1996, yang diketahui sebagai tanggal penyerangan atas kantor pusat Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Pada saat itu, partai dipimpin oleh Megawati Soekrnoputri. Menyandang nama Soekarno membuat banyak orang menaruh harap. Seolah ada kesepakatan umum untuk menjadikannya simbol, personifikasi atas harapan. Thukul, bersama PRD, berada dipihaknya. Tentu saja, sebagai partai yang notabene “didirikan” sebagai strategi politik pengusaan total a la Soeharto, tak semua anggota PDI sepakat dengan kepemimpinan Mega. Kerusuhan pada 27 Juli akhirnya pecah oleh serangan faksi yang nelangsa ini.

Ketika kekerasan di Jalan Diponegoro pecah, 3 orang tewas dan puluhan lainnya hilang. Tudingan provokator segera di arahkan kepada PRD. Thukul, dan kawan-kawannya, segera ditetapkan sebagai buronan.

Runtut cerita ini adalah konteks permulaan bagi film Istirahatlah Kata-kata.

Menariknya, Istirahatlah Kata-kata tidak segera dibuka dengan perkenalan langsung dengan Wiji Thukul. Yang justru ditampilkan pertama kali dengan jelas adalah sosok polisi yang sibuk menginterogasi keluarga Thukul. Pembawaannya tenang, dengan bahasa Jawa yang kalem, dan mulut sibuk mengunyah lemper kehijauan hingga tandas. Ruangannya tampak sempit dengan latar Fitri kecil, hanya tampak pundaknya membelakangi kamera, dibiarkan berdiri, terus menerus diam selama sesi tanya jawab. “Anak permepuan yang pemberani,” tutup si polisi hampir putus asa.

Bagi saya, scene ini memberikan titian yang menyambung jitu antara film dengan konteks yang tengah ia ekplorasi. Dalam situasi dikejar-kejar oleh intelejen rezim, dapat saya bayangkan semesta Thukul dan keluarganya tetiba menciut. Volume hidup mereka menyempit dalam kategori ruang dengan panjang, lebar, dan tinggi tersisa beberapa jengkal. Eksistensi mereka menjadi terbatas pada apa yang didefinisikan hanya melalui data-data dalam lembaran arsip. Area di luarnya adalah zona merah yang menolak sepenuhnya memberi rasa aman, sekaligus diacuhkan oleh penyelidik. Sebuah kurungan rumah kaca.

Ini di luar atmosfer menekan yang coba dibangun, kemudian dihidangkan kepada pemirsanya. Sampai berakhirnya adegan, sosok memasing tokoh tetaplah anonim. Yang dapat diidentifikasi dengan jelas hanyalah jaket kulit hitam lusuh, pertanyaan-pertanyaan menyelidik dalam nada datar, yang dapat dengan mudah diasosiasikan pada sosok intel melayu. Bagaimanapun, profesi ini adalah aparatus represi negara, barangkali dalam wajah terburuknya di bawah rezim yang otoriter.

Thukul baru hadir setelahnya, melihat ke luar jendela sebuah bus yang tengah melaju membelah hutan gambut. Wajahnya sengaja ditenggelamkan di bawah topi pancing, menghindari kontak mata dengan liyan. Masih membisu. Masih tanpa kata-kata. Hingga suaranya kemudian terdengar membahana dari balik layar lewat cara yang tak biasa.

Istirahatlah kata-kata
Jangan menyembur-nyembur
orang-orang bisu

Kembalilah ke dalam rahim
segala tangis dan kebususkan
dalam sunyi yang mengiris
Tempat oran-orang mengingkari
menahan ucapannya sendiri

Tidurlah kata-kata
kita bangkit nanti
menghimpun tuntutan-tuntutan
 yang miskin papa dan dihancurkan

Dibacakan terbata-bata, lirih oleh Gunawan Maryanto. Dengan nafas yang serba tertahan. Huruf-huruf “r” terdengar hampir absen, berbelok dan menggantung di udara, meniru lidah Thukul yang cadel. Saya mendadak dilanda rasa merinding hebat, tercekat. Separuh tubuh saya tampak terbang mengeluyur ke ruang bioskop, menunggu nafas saya yang sempat tertahan kembali. Pembukaan yang intens. Kata-kata yang mengalir serta-merta menjadi kalis dengan ketidakmampuan Thukul mengeja huruf “r” dengan baik. Dalam situasi ini, puisi-puisi Thukul yang ambil bagian di dalam naskah menjadi tersampaikan dengan baik. Terhindar dari bahaya menjadikannya sekadar sempalan. Pembacaannya terasa khidmat, sekaligus membangunkan.

Bagi saya, kecadelan ini adalah kunci mimikri Gunawan yang membuat sosok Thukul menjadi hidup, dan terasa kontekstual. Dengan acting yang hampir tanpa cela ditambah kemiripan fisik, Thukul justru diturunkan derajatnya sebagai manusia biasa dengan ketidakpurnaannya. Sebuah biopik tentang wajah orang kebanyakan.

Dalam banyak hal, ketepatan ini tentu tak dapat dicapai tanpa keterlibatan elemen lain. Perwatakan para tokoh diseputar Thukul, ditambah ketidakmampuannya mengucap “r” dengan tajwid yang benar,  mampu melahirkan humor tak terduga.  Alih-alih menjadi film serius yang menjaring kantuk, Istirahatlah Kata-kata sesekali menghadirkan lelucon yang membuat saya betah untuk tetap terjaga; renyah, alami dan tidak berlebihan. Simak misalnya, percakapan antara Thukul dengan seorang mahasiswa tempatnya menumpang. Dalam momen berdua, mereka memperbincangkan aktivitas membaca yang membikin Thukul dikejar-kejar. “Makanya saya ngga usah membaca,” ujar si mahasiswa sembari tertawa berderai, hingga berhenti sendiri karena respon Thukul yang dingin. Momen canggung ini, sebaliknya, membikin seluruh penonton yang bersama saya tak dapat menahan tawa.

Pilihan pengambilan gambar yang hampir selalu close-up mampu menangkap perubahan mimik dan mikroekspresi Gunawan yang terus terjadi dalam berbagai situasi. Ada distingsi yang jelas sekaligus tersamar ketika Thukul berada di tengah kawan-kawannya dibanding kala berdekatan dengan sosok perwira yang tengah bercukur.  Pada situasi yang satu, ada keberanian dan rasa aman. Pada situasi yang lain, ia adalah sosok yang ketakutan. Teramati hanya lewat getar bibir di bawah gigi tonggos (buatan)nya.

Istirahatlah Kata-kata pada akhirnya adalah pembalikan serius atas arah pengkultusan yang selama ini berkelindan di seputar nama Thukul. Sejak hilang hampir 20 tahun silam, ia telah menjelma menjadi sosok yang abstrak dan mengawang. Absensinya membuat saya dan jutaan generasi millennial Indonesia yang lain hanya mampu mengenalnya dari sajak-sajaknya yang melulu dibaca ulang. Di kafe-kafe hingga diatas aspal panas, di tengah aksi. Menerbangkan karya-karya Thukul dalam derajat nubuat, sementara hal-hal yang diperbincangkan di dalamnya kadang-kadang remeh dan teramat dekat. Gambaran dari wajah Indonesia, wajah akar rumput, suara yang tak terdengar pada sebagian besar periode waktu. Lewat medium layar perak, Wiji Thukul mendadak terasa dekat saja. (*)

Istirahatlah Kata-kata
Sutradara    :    Yosep Anggi Noen
Pemain       :    Gunawan Maryanto, Marissa Anita, Eduard Manalu
Rating        :    9/10

Minggu, 24 Mei 2015

Here She Comes

02.28 Posted by Arasy Aziz , 4 comments

 

Pada suatu masa halte dan stasiun adalah tempat di mana harapan-harapan bertumbuh ulang berulang. Dan masih akan tetap begitu, selama ada yang datang dan pergi, ada yang menunggu, ada yang tertinggal. Akan tetap begitu selama ada hal-hal yang tak selesai.

“Suatu hari nanti ketika aku kembali, aku tak akan segan untuk menghambur kepadamu untuk peluk yang panjang”, kata seseorang.

Kata yang lain, naïf, “Jangan pernah kembali. Di sanalah hidupmu yang sebenar-benarnya”.

Namun mereka bukan satu-satunya yang berhak. Kita tahu di sana tempat bertemu manusia dengan beragam urusan yang tak melulu berkutat dengan haru. Ada modernitas yang berderap sejak semula ketika lokomotif uap ditemukan oleh Trevithick. Setelahnya, manusia tak akan pernah lagi sama; menjadi sekrup, mur, baut kecil dari tatanan pasca pencerahan. Di sana bertemu manusia-manusia yang tak pernah lagi sama. Kerumunan komponen.

Di antara mereka mungkin ada seorang prajurit yang esok harus berlayar ke ujung kepulauan. Di sana menunggu tugas di perbatasan negara, kadang-kadang menyapa pelintas batas yang hendak berbelanja ke pasar. Lihatlah mereka tak menggunakan rupiah, Dik, dan betapa fasihnya mereka bergaul dengan kami. Kadang-kadang aku tak bisa membedakan pelintas batas negara sebelah dengan yang di sini. Lagipula di sini nyamuknya besar-besar, Dik, tapi ku sudah biasa karena ku rajin meminum pil kina tanpa perlu kau ingatkan. Cerita ini akan tertahan berbulan-bulan menunggu di peron.

Entah bagaimana imajinasi ku selalu menautkan stasiun dengan prajurit. Mungkin dari cerita di majalah anak-anak tentang paman yang suka berteka-teki tentang meja oval. Lagipula militer adalah dunia asing dengan lokomotif yang lain.

Prajurit kita tadi memeluk istrinya yang, agar dramatis, tengah hamil delapan bulan;

“Ketika aku kembali, ku harap dia mengenaliku. Pun ketika aku luput meniupkan adzan di daun telinga kanannya.”, katanya. Agaknya ini masih keharuan yang lain.

Atau seorang dokter yang menggerutu karena mobilnya mogok dan di rumah sakit ada pasien mengantre yang harus dioperasi. Terpaksa ia naik kereta listrik yang datangnya kadang-kadang tak dapat ditebak. Ia berdedikasi, dan gerutunya adalah gerutu dedikasi.

Atau seorang insinyur, pilot, pedagang cendol, ibu-ibu pengajian, mahasiswi.

Di halte stasiun aku menunggu untuk sebuah pertemuan dengan masa lalu, yang sayangnya tak datang dengan bus maupun kereta.

Pukul satu masih beberapa menit lagi. Kemudian ingatan-ingatanku berderap mundur tanpa bisa ku cegah. Ketika lima tahun silam, atau hampir enam tahun, menunggu akhir pekan menjadi saat-saat yang kalut demi mengirim pesan singkat: “Aku nelpon ya?”.

Kami bertemu dalam momen yang tak jamak; di Bandung, ketika menebak-nebak dari ufuk bumi mana mineral ini dimasak, menjilat batuan untuk merasai, menyimak dengan takzim lapis-lapis bumi di bawah kaki kita dalam diagram tiga kali satu. Mendedah patahan, lipatan setumpuk sedimen. Dalam ketika yang lain, berpindah ke Balikpapan aku melihatnya dari jauh tanpa sekalipun ingin menyapa, seseorang yang asing. Ketika akhirnya berhadapan dengan tes sebenarnya, yang ku takutkan hanya tentang mesin hitung yang tetiba menghilang dari tas. Ketika berlari ke panggung menyambut gempita perjuangan, tentangnya sama sekali tak terbesit. Ketika pesawat membawaku pulang, dia tak ada.

“Akankah ia membunuhku pada kesempatan pertama?”

Sebagaimana beberapa pekan silam, ketika ku baca di koran-koran tentang seseorang yang ditemukan mati mengambang di danau Universitas Indonesia. Syahdan ia mengisi tasnya dengan batu-batu sebelum terjun ke pelimbahan. Kita mengira ini semata-mata agar ia tak perlu menghadap lagi ke dunia kita yang fana setelah bunuh diri. Bahkan memutuskan mati dengan sepihak membutuhkan laku dan prinsip yang tak putus.

Namun terselip surat perpisahan yang tak ikut basah. Justru sebuah titik terang; ini tak lain merupakan pembunuhan yang amat jali. Di Indonesia, yang membuat kerja polisi menjadi berlipat seperti ini sungguh tak banyak. Yang biasanya ku baca dari novel-novel detektif, tiba-tiba meloncat ke laman-laman warta.

Pembunuhan-pembunuhan yang rapi, dan berbagai kasus lain, yang menghubungkan aku dan dia kembali pada lima, hampir enam tahun silam. Hanya Sherlock Holmes yang agung dan deduksinya. Kami berbincang tentangnya pada permulaan, dan mengular pada apapun yang remeh-remeh.

Aku memutuskan untuk mengikatnya.

Lewat sambungan telepon selundupan, hal-hal yang tertahan dapat kulihat mengawang ke langit-langit kamar mandi, terbang ke menara air. Terbawa angin hingga ke laut Jawa, diam-diam menumpang kapal feri ke Bakauheuni, hingga tiba ke suatu tempat yang asing dan belum pernah ku jejak. Setelahnya, menunggu akhir pekan menjadi saat-saat yang kalut demi mengirim pesan singkat: “Aku nelpon ya?”. Akhir pekan adalah waktu untuk Adler-ku.

Aku memanggilnya Adler, kau tahu. Betapa noraknya.

Di halte stasiun, penjaja tahu sumedang agaknya sedikit khawatir ketika aku mulai tersenyum sendiri. Ia bergeser perlahan ke ruang yang sebelumnya diduduki seorang ibu yang sedari tadi sibuk menampik tawaran ojek. Jemputannya telah tiba.

Yang membuatnya bertahan dari hubungan tanpa kehadiran ini agaknya adalah janji-janji. Bahwa suatu ketika kita akan dipertemukan kembali, barangkali mengenyam kuliah di universitas yang sama. Sampai saat itu kita akan menjadi sepasang individu yang bersabar.

Namun suatu hari ia bertanya hal-hal yang terlalu jauh, aku menjadi ragu. Sejak semula harusnya mudah ditebak ujungnya; aku akan berdiri di pihak yang ingkar. Bukankah kau bukan seorang pemufakat yang baik?

Liburan yang sedikit panjang yang seharusnya kami rayakan berubah menjadi saat-saat perpisahan. Ba’da Isya, aku meringkuk di luar pintu agar sebisanya tiada siapapun yang mendengar percakapan kami. Sejak perlombaan itu aku ketinggalan pelajaran, kataku. Dia diam. Setelah ini seluruh perhatianku akan terpusat pada hasil ujian nasional yang baik, kataku. Dia diam. Aku ingin masuk universitas negeri di Jawa, kataku. Dia diam. Dan kau, mengganggu, kataku diam-diam. “Semoga kita bisa bersahabat baik”. Tak ada lagi pesan singkat di akhir pekan setelahnya.

Ini agaknya adalah cara yang buruk untuk putus cinta; menyisakan pertanyaan yang belum dijawab, kenapa? Kepada kosmos ada hutang yang harus dibayar pada suatu hari nanti. Pada lima, hampir enam tahun silam hal-hal seperti itu agaknya tak terpikirkan.

 “Akankah aku kembali ke kota kecilku dengan sebagian tubuh yang tak genap?”

Maju pada titimangsa yang lebih dekat, tiga tahun silam. Akhirnya aku punya ingatan sendiri tentang stasiun. Sesungguhnya tak ada kejadian apapun. Hanya di dunia antar-dunia, kubayangkan ada yang diam-diam mendorong tubuhku jatuh ke gerigi rel yang curam.

Pada akhirnya kesempatan pertama untuk bertemu kembali hadir ketika aku memutuskan ke Jakarta untuk sebuah urusan. Kali ini kita bisa bertemu, ujarku melalui pesan singkat setelah diam yang lama. Kita bisa bertemu di stasiun sesampainya aku di ibukota, segera setelah urusanku selesai, pada Ahad kepulanganku. Namun di hari keberangkatanku Matarmaja tak pernah benar-benar sampai ke Senen. Di pantai utara dekat Cirebon, gerbong-gerbong berbelok, berpindah rel menuju ke kegelapan yang tak putus. Seluruh penumpang berteriak. Aku berteriak! Hei, hei, masinis!! Di Senen menunggu Adler-ku!!

Ketika berkas-berkas matahari membuatku terbangun, mataku mengenali langit-langit pondokan di kota kecilku. Aku berlari ke perempatan jalan untuk koran pagi, meneliti baris demi baris, satu demi satu kolom-kolom. Tak ada berita tentang Matarmaja yang lenyap ke dalam kegelapan, rupanya. Kesinilah keheningan pantura berujung, kepada mereka-mereka yang tak percaya magisnya. Pukul tiga sore nanti aku harus kembali ke stasiun mengejar Matarmaja yang berangkat sekali setiap hari. Matarmaja hampir tak mengenal kesempatan kedua. Tak hanya bagi penumpang-penumpangnya, namun juga pengasong yang pada suatu ketika adalah nyawa gerbong. Ada yang ganjil ketika pada akhirnya kuhempaskan tubuhku ke salah satu kursinya yang hampir tegak lurus itu. Riuh tak ada lagi.

Matarmaja tak mengenal kesempatan kedua. Tak ada tempat untuk kesempatan kedua.

Diantara Solo dan Semarang aku mulai menimbang-nimbang kembali; apakah ini waktu yang tepat? Tidak, kataku. Momentum yang dipilih secara salah bisa berakibat buruk. Ketika di Jakarta, maka; Kita jadi ketemu kan? Tidak. Aku udah di Matraman, beberapa kilometer dari Senen, sangat dekat. Tidak. Keretamu pukul dua kan? Sepertinya masih sempat kok. Tidak, Ay. Ini belum saatnya.

 Selamat tinggal.

Sekali lagi, pada waktunya, aku berkhianat. Aku mulai menebak-nebak, apa yang akan dilakukannya ketika kami berhadap-hadapan. Menenggelamkan aku ke danau? Mendorong ke haribaan kereta komuter yang menderu dari Bogor? Satu peluru dilepaskan dari senapan burung? Tikaman yang lamat-lamat? Menampar dalam slowmotion?

Pukul satu lebih sepuluh, ketika aku menyadari bahwa seseorang hadir. Disanalah dia berdiri.

Dan ada kebahagiaan di dalam senyumnya, penanda bagi jiwa yang telah bergerak jauh. Hari ini, menjelma teror itu sendiri. Menjatuhkan vonis di dalam diam; Mampus kau, aku hari ini adalah perempuan dengan hati merdeka! Dan kau! Kau pada akhirnya dikutuk untuk membayar setiap serpih remuk kerakal yang kau tebar! Mampus kau, untuk usahamu melarikan diri dari masa lalu! Penolakan untuk mengakui bahwa pada suatu ketika kau jatuh cinta oleh cara-cara Tuhan yang jenaka! Kau yang rumit hari ini dan penimbang omong-omong kosong tak lain adalah cara semesta menghadirkan karma!

Namun senyumnya, aku segera tahu, adalah sekaligus senyum pembebasan. Di halte stasiun, yang terakhir ku dengar adalah riuh yang dulu hilang dari Matarmaja.

“Hai, Dan.

“Apa kabar?”

***

Slowdive - Here She Comes


Saya mulai mendengar Slowdive baru sekali, dan segera merasa terganggu oleh album Souvlaki (1993). Di antara isi-isinya, Here She Comes saya tempatkan dalam posisi yang agak spesial. Ada keheningan yang ganjil setiap kali track ini terputar. Semacam representasi yang ditunda dari obyek imajiner sang penggubah di dalam durasi lagunya yang singkat, dan terselip.

Ketika mereka menobatkan unit asal Manchester ini sebagai pionir dream pop, saya kira-kira jadi tahu mengapa.

Rabu, 06 Mei 2015

Symmetry

05.05 Posted by Arasy Aziz , , No comments
Setiap kali alarm pukul enam pagi mengantarkanku kepada hidup membosankan yang diam-diam kunikmati, aku segera teringat pada Plato.
Kita tahu Plato malu-malu untuk mengakui bahwa apa yang ada di balik dialog-dialog yang ia tulis tak lain merupakan pergumulan dengan dirinya sendiri. Barangkali semacam usaha untuk menghindari pengulangan nasib buruk gurunya yang mati dalam racun dengan sukarela. Masyarakat Yunani betapapun majunya agaknya cukup kaget dengan semaian bid’ah-bid’ah atas kuil. Dengan dialog, ia seolah pura-pura ulang, melaporkan apa yang seolah pada suatu waktu didengarnya, melempar tanggung jawab kepada yang lain.
Namun bukan itu yang membuatku mengingatnya pada kesempatan pertama. Dalam Symposium, melalui wakil-wakilnya Plato berujar: pada mulanya di awal penciptaan, Tuhan membagi manusia dalam tiga kelompok kelamin: lelaki, perempuan, dan satu lagi, sejenis hibrida antar keduanya. Dalam artian, ia sepenuhnya adalah maskulinitas dan sifat-sifat feminim dalam satu tubuh. Mungkin dilengkapi sel sperma dan ovum sekaligus dalam satu kelenjar, kemampuan membuahi diri sendiri, hermaphrodite.
Sampai saat itu dunia berlangsung baik-baik saja, hingga Tuhan Plato agaknya sadar telah keliru menetapkan rancang bangun. Kemenduaan ialah relasi yang saling menyempurnakan. Sementara tiga merusak tatanan, sebuah bilangan yang bersisa. Dalam dunia yang serba sulit, tak ada tempat bagi yang hidup setengah-setengah.
Selain itu, sebagian pria-pria dan wanita-wanita yang sejak lahirnya sendirian mulai menggugat kebijaksanaan sang maha pencipta. Ketika yang Hibrida dapat berpuas hasrat dengan dirinya sendiri, cinta bagi laki-laki dan perempuan asali adalah perjuangan yang mensyaratkan tawaran-tawaran dan saling pengertian. Kehidupan bersama antar kedua kelamin dimulai oleh pilihan acak berjalan tidak sebagaimana mestinya. Ia tak seperti hubungan Hawa yang diramu dari rusuk Adam yang hilang di taman Eden. Yang menjadikan mereka manusia yang lahir dari unsur-unsur bumi justru kealpaan dan toleransi.
Yang Hibrida kemudian dipisahkan. Dan turunlah nubuat-nubuat; “telah kuciptakan bagimu pasangan-pasangan”, baik-buruk, gelap-terang, lupa sekaligus ingat, menghapus memori kita dengan putusan kodrati bahwa dunia disusun atas negasi-negasi. Dalam dunia yang serba sulit, tak ada tempat bagi yang diantara.
Namun ada yang tersisa dalam ingatan yang Hibrida, bahwa pada suatu masa mereka pernah berbagi tubuh dan pikiran yang sama, berbagi hasrat, keinginan, motif, laku hidup yang sama. Bagi anak cucu keturunannya, ini menjadi semacam kutukan yang diwariskan. Dunia setelah itu adalah perjuangan menemukan belahan jiwa.
Aku, adalah salah satu diantaranya.
Setidaknya demikianlah bagaimana ibuku selalu menceritakannya padaku sebelum tidur, bersama Symposium. Kami adalah bangsa hermaphrodite yang dipaksa Tuhan melebur ke dalam kelamin laki-laki dan perempuan. Ketika ku tanya, apakah Ayah adalah salah satunya juga, ia akan mulai terisak diam-diam. Dalam hal ini aku gagal, anakku. Namun kau beruntung karena aku ibumu. Akulah yang bertugas menjaga agar warisan kesadaran bangsa kelamin kita tetap berlanjut.
Hari itu aku memutuskan akan meringkuk seharian di kamar, menatap manusia-manusia yang berlalu lalang saling mengabaikan satu dengan yang lain, dari sini, dari kursi kayu di tepi jendela. Hidupku yang memuat pengulangan-pengulangan perlu sekali-kali diberi spasi, utamanya ketika aku mengingat-ingat alasan primer kemengadaanku; mencari pelengkap. Pada hari-hari biasanya pada pukul tujuh, aku akan menjadi sebagian dari mereka, berjalan kaki menuju kantor yang terletak beberapa blok dari bangunan apartemen. Hidupku yang memuat pengulangan-pengulangan agaknya perlu sekali-kali menempatkan dirinya sebagai pengamat bebas. Lagipula, misi bangsaku belum tuntas kuselesaikan.
Dibawah sana barisan manusia seperti air limpahan yang tak henti mengalir menuju tuba. Individu-individu kantoran berganti segerombol anak taman kanak-kanak yang berarak dengan balon-balon, berganti penjaja makanan ringan dan kuaci, berganti motor sesekali. Aku mengira-ngira, adakah yang ideal, sebagian diriku, tengah berlalu dibawah sana dan selalu luput dari perhatianku? Mungkinkah ada yang tersenyum ketika berpapasan namun tak kusadari?
Hingga pukul 8 tak ada yang benar-benar menarik. Hingga pukul 8 sesuatu terjadi.

#

“Coba tebak, terbagi dalam berapa ruang isi kepalaku. Maksudku, otakku?”
Hmm.
“Kukira.. empat, lima. Mungkin enam. Biar kuingat. Setauku orang normal mempunyai otak kecil, batang otak..”
“Hei, kita tak sedang membicarakan itu. Aku menanyaimu tentang jumlah ruang, kau tahu.” tegasnya.
“Jadi, maksudmu ruang sebagai “ruang”, harfiah?”
“Tentu.”
Aku mengerling padanya untuk sebuah jeda. Pada dasarnya tak benar-benar mengerling, pun tak mencoba menebak-nebak apapun. Aku tepatnya ingin menatapnya sedalam-dalamnya. Wajah jenaka dengan garis-garis lelucon alami yang tak dapat ditutupi potongan pixie maskulin merah matahari. Aku pada dasarnya tak menyukai warna-warna yang demikian hidup seperti selubung di rambut gadis di hadapanku. Tapi merah itu berkali-kali meluruh di mataku seolah disaput begitu saja dari tube cat pastel. Georgia punya sihir, semacam tipuan mata.
Tak sekalipun aku terkejut dengan pertanyaannya. Sejak semula, ku tahu ia punya sesuatu yang sedang kucari.
Tiga hari lalu ketika aku bertemu dengannya pertama kali ku kira ia melakukan tindakan yang jauh lebih sensasional. Dari jendela kamarku di lantai dua, lalu lintas di tengah kota kami tampak sedang padat-padatnya ketika mendadak sebuah motor yang melaju kencang dari selatan menabrak mobil dari ujung jalan yang lain.
Motor itu menolak berhenti meski jelas tak lagi berbentuk dan pengemudinya telah lebih dahulu terlempar jauh ke atap sebuah kafe sebelum tanpa ampun menghujam tanah. Dalam birama enam per delapan, motor itu mulai mendaki bagian depan lawan mainnya, menembus kaca dengan kaki-kakinya yang patah. Aku bisa memainkan satu partitur Chopin.
Tengah kota kami yang sebelumnya tak punya waktu untuk sekadar berimajinasi akan dunia alternatif, sebuah anti-kota, tiba-tiba menahan napas. Tiga hari lalu, aku mengamati bagaimana air limpahan yang menuju tuba tiba-tiba berubah mencerat seperti dulang yang ditepuk. Sebuah tatanan kosmik telah runtuh.
Namun ku kira drama belum berakhir. Orang-orang yang sebelumnya terpana, tetiba berlari ke arah manapun yang pertama kali terlintas dalam pikiran mereka, arah manapun yang dapat mereka capai. Aku mahfum. Dapat kulihat sesuatu mengalir diantara dua rongsok yang kali ini telah menyatu sepenuhnya. Bensin.
Tentu saja harus ada ledakan. Seseorang membutuhkan setting untuk melengkapi kemenjadiannya.
Ku teringat pepatah ini; ada asap ada api, namun tak mungkin rasanya gasolin menghasilkan api tanpa api yang lain. Rambut merah dihadapanku kemudian mengambil perannya di dalam pentas. Kejadian yang berlangsung demikian cepat, saksi-saksi terlanjur panik luput menyadari adegan penting ini.
Tentu saja ada ledakan, pada akhirnya. Tak butuh waktu lama. Si gadis diam-diam tertawa senang. Aku melihatnya.
“Kau menghayal.” Georgia menyentuh jariku dengan ujung garpu.
“Baiklah. Bantu aku melengkapi sejumlah premis yang hilang sehingga gambaran mengenai jumlah ruang otakmu lengkap.”
Ia tampak tertarik. “Baiklah.”
“Tiga hari lalu, Georgia, mengapa kau melempar korek api ke genangan bensin pada kecelakaan itu? Kau tahu di dalam mobil masih ada pengendara, kan?”
“Ya.”
“Ya, saja?”
Ia kembali ke mode default wajahnya yang tampak sedingin embun pukul enam pagi, tenang sekaligus menggemaskan. Sepasang pundaknya yang semula maju hingga ujung-ujung hidung kami berhadapan dalam lima inci, rilis.
“Itu pertolongan terbaik yang dapat kuberikan pada mereka, kau tahu. Pria yang berada di balik kemudi telah tewas, sementara si wanita sekarat.”
“Itu belum menjelaskan apapun. Kau bisa saja menunggu ambulan.”
“Ku rasa dengan meledakkan mobil semuanya berlangsung lebih cepat. Pengiriman tuntas ke surga. Aku yakin sudah terlambat untuk menyelamatkan apapun. Aku dapat merasakannya.
“Kita harus membayangkan si wanita berbahagia.”
“Kau mengutip kalimat terakhir...” Aku menimpali, sebelum kalimatku disergah. Ia membaca pikiranku.
“Dengan perubahan. Lagi pula, kau sama gilanya karena menghampiri seseorang yang rupanya kau tahu, kau satu-satunya orang yang tahu, baru memantik api ke genangan bensin lalu mengajaknya berkenalan, seolah-olah tak terjadi apapun. Api bahkan masih menyala. Alih-alih menelepon polisi, kau malah meminta nomor teleponku. Disinilah kita.”
Aku sedikit terbahak, ia tak tampak kaget.
“Kau bercanda. Seseorang telah melakukannya dan kau lihat bagaimana mereka menanganinya? Kepanikan orang-orang sesegera itu mereka simpulkan sebagai penanda bahwa api tersebut lahir dari relasi sebab-akibat kecelakaan. Jika jeli batang korekmu harusnya masih ada di tempat kejadian. Mereka malas saja.
“Tak ada yang perlu kulakukan dengan model aparat seperti itu.”
Kami terdiam.
“Jika kau ada di posisiku, apa yang akan kau lakukan?” Ujar Georgia memecah kesunyian.
Aku berpikir sejenak.
“Karena kau bertanya; aku tak akan melakukan apa-apa. Kamarku ada di lantai dua, kau ingat?” Namun segera ku ralat. “Mungkin menelepon ambulan. Tepatnya, aku memang menelepon ambulan. Dibanding polisi, mereka kadang lebih bisa diandalkan.”
Kami terdiam untuk lima menit.
“Jadi …
“Ada berapa ruangan di otakku, Jonas?”
Ia telah kembali dengan pertanyaan itu. Kali ini aku perlu menjawabnya dengan sedikit serius, untuk meyakinkannya akan sesuatu. Telah ku putuskan, ia memilikinya.
“Kukira hanya setengah yang akan kaubagi denganku. Bukan. Maksudku, sebenarnya, sejak semula aku tau bahwa kau memiliki setengah otakku. Aku dikutuk mencarimu. Aku menemukanmu.”
“Apa maksudmu?”
“Mendekatlah. Biar kubawakan sesuatu ke telingamu.
Ia tampak ragu. “Maksudku, mengapa tak kita lihat saja?

#

Pukul enam pagi suara lonceng yang mendentang tak karuan di ujung lorong mengantarkanku kepada hidup membosankan yang diam-diam kunikmati. Itu peringatan bahwa setiap orang harus bergegas bangun untuk pemeriksaan rutin. Tak ada tempat untuk berleha-leha disini. Penjara pada akhirnya hanyalah perihal memindahkan absurditas, tak ada yang benar-benar berbeda dengan ruang kehidupan manusia-manusia mesin di luar sana. Di sini, hidupku adalah repetisi atas perbuatan-perbuatan, yang bedanya, satu-satunya pembeda, ditetapkan oleh orang lain.
Pada malam kencan pertamaku dengan Georgia, aku berhasil mengajaknya pulang ke kamarku yang kecil. Di dalam matanya menyala-nyala gairah, semakin meyakinkanku bahwa dialah sang belahan jiwa yang hilang. Pada akhirnya kami dipertemukan oleh sebuah insiden setelah abad-abad keterpisahan. Lihatlah bagaimana semesta bekerja dengan unik. Malam ini kami akan menjadi waktu untuk kembali memintal satu kesadaran yang tercerai berai.
Di kamarku telah menunggu seperangkat bius.
Ketika kami tiba di pintu, aku tak sabar untuk segera memilikinya. Georgia berbaring, berupaya meraih-raih kemejaku. Aku mendekap mulutnya dengan sapu tangan. Georgia meronta sia-sia sebelum terdiam dalam koma. Kami selangkah lebih dekat, satu tahap lagi.
Aku menyeret tubuhnya yang lunglai ke kamar mandi untuk memeriksa jumlah ruang di otaknya dengan palu dan gergaji.
Yang ternyata, tak seperti bayanganku, utuh dengan dua sisi yang bersebelahan simetris, tak sama sekali bersebagian.
Mengecewakan.
Kau tahu, dari sekian banyak sisa-sisa penciptaan yang mula-mula, tak banyak yang benar-benar sadar bahwa ia adalah keturunan dari laki-laki dan perempuan asali. Kepadanya terdapat pilihan bebas untuk mencari belahan jiwa secara acak, tak terikat pada pembagian Tuhan yang ganjil atas entitas ketiga. Kesempatan yang tak pernah benar-benar diambilnya, terlalu terlambat untuk diambil. Mereka terjebak pada upaya menemukan bagian lain yang ideal, melengkapi hidup yang penuh teka-teki. Di ujung jalan, ketika tak ada lagi yang tersisa untuk diperjuangkan, dengan Kesepian ia bergandengan tangan.

#

Mew - Symmetry



Harus saya katakan bahwa Symmetry adalah salah satu lagu Mew favorit saya; bagaimana Mew tetap menjadi Mew tanpa vokal angelic Jonas Bjerre.