Fiat Lux

Sabtu, 21 Juni 2014

She Loves Us!

13.00 Posted by Arasy Aziz No comments
#1
“Kau dengar suara-suara itu, Roo?”
“Demi Tuhan, ini kelima kalinya kau menanyakan itu. Tidak ada suara! Kurasa kesunyian ilalang mulai mebuatmu gila.”
Lima kali ku bertanya, semacam memastikan, dan aku mulai yakin Roo yang sebetulnya mulai tertelan kesunyian sabana yang menghampar hingga nadir. Bagaimana mungkin dia tak mendengar keriuhan ini? Udara disekitar kami dipenuhi oleh bebunyian ritmik dari instrumen-instrumen yang tak pernah ku dengar sebelumnya. Cantik. Terdengar lebih primitif dari lagu-lagu yang dinyanyikan seorang pengamen muda di pasar loak Cartago. Cantik.
“Bagaimana mungkin kau tak mendengarkan Roo, suara-suara ini demikian nyaring menggairahkan. Aku bahkan bisa menari diiringinya.”
“Jangan bodoh. Kita ditengah Afrika. Kau kecanduan opera yang tak membolehkanmu ikut menari bersama Ann si Pengembala.
“Lagipula”, lanjutnya “baik kau dan aku sesungguhnya tak dapat memastikan siapa diantara kita yang telah tertelan kesunyian. Dua orang pengamat bertahan hidup dengan pencerapannya masing-masing.
“Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana cara tercepat untuk pulang ke Cartago. Lalu kembali ke Virginia. Berburu badak rupanya idemu yang paling buruk, apalagi kulakukan denganmu.”
Sungguh kasihan Roo dan inderanya yang maha tumpul. Aku kembali memerhatikan jalan, sambil tentu saja, menikmati bebunyian asing yang tak habis-habis. Aku menggoyangkan kepala, mengangkat tangan, memutarnya di udara, menggoyang kepala lagi, mengayunkan kaki, memutar kepala.
Kemudian di kejauhan aku melihat asap menyala, lalu membumbung api. Manusia!
“Kau melihatnya Roo?”
“Apa lagi, heh?”
“Kali ini aku melihat api.” Aku menunjuk.
Roo menatapku seolah akan membunuhku kalau-kalau inderanya sekali lagi tak bersepakat dengan inderaku (tentu saja ini salah inderanya). Namun matanya berbinar. Dia berujar (mungkin berteriak, sulit membedakan ditengah bebunyian yang mengencang.) “Manusia!!”
Kami memacu kuda kami mendekati titik api, lagu itu terdengar semakin nyaring. Kami tinggal berjarak belasan kaki darinya hingga tetiba kuda-kuda kami panik seolah menabrak dinding tak kasat dan menjatuhkan kami dari pelana. Musik belum berhenti.
Aku mencoba berdiri, berjalan untuk memastikan aku baik-baik saja. Lalu terpaku.
Ada api, yeay, namun tak ada manusia. Tepatnya aku tak yakin apa-apa yang kulihat mengelilingi api adalah manusia. Struktur tubuh mereka tampaknya sama denganku, namun lihatlah kulit mereka! Manusiakah mereka? Adakah api menghanguskan jalan evolusi mereka?
Mereka yang asing itu bersikap diam penuh, bersila. Namun anehnya, aku meyakini bebunyian ganjil itu berasal dari sini. Sebuah konserto sunyi. Asap mengirim karya mereka ke surga.
Di antara remang, salah satu dari mereka yang tampaknya masih cukup muda menggaruk-garuk apa yang sepertinya merupakan paha pada tubuhku, berdiri dan berlari ke balik batu. Dia berdiri dengan dua kaki, sama sepertiku. Dan pipis, sama sepertiku.
Dia hendak kembali ke dalam lingkaran, hingga menyadari kehadiranku dan Roo. Dia terpaku, sama sepertiku melihat mereka pertama kali. Aku dapat melihat dua matanya yang putih (sama seperti milikku) membola, membola.
Elia!! Elia!!
Dalam jeritnya dia tampak terharu (aku mulai yakin dia adalah spesies mahluk hidup yang sama denganku), membatalkan niatnya kembali melingkari api dan mulai berlari kesetanan ke arahku.
Elia!! Elia!!
Berbeda denganku yang masih dijerat takjub, Roo menghunus belati dari pinggangnya dan mengambil kuda-kuda. Dia Yang Muda menyadari ancaman yang bekilat di hidungnya, menunda gairahnya pada kami yang meletup-letup. Dia mengambil batu seukuran kepalaku dengan tangan kanannya dan, sungguh luar biasa, melemparnya tepat ke kepala Roo. Darah berhamburan dari kepala Roo yang terkapar, lalu mati.
Yets ied!!” ujar Yang Muda sembari memelukku tanpa bisa kutolak. Aku terkagum-kagum menyaksikan kekuatan super anak itu.
Elia!! Elia!!
Lingkaran itu, dan aku, segera menyadari kekacauan ritmik dalam konserto mereka. Selain itu, jeritan Yang Muda agaknya mengalihkan kekhusyukan. Mereka-mereka itu mulai tampak berdiri, berbalik ke arahku, terpaku, dan mulai menyerukan kata-kata yang sama. Seperti temannya, mereka mulai berlari terbirit-birit menujuku, menginjak tubuh Roo, histeris, terdiam sejenak seolah mengamati sesuatu, histeris lagi, mulai memelukku, menarik-narik bajuku, rambutku, histeris, memeluk kakiku, menjilati jemarinya. Aku kegelian.
Kemudian mereka mulai bersujud, satu demi satu di hadapan tubuhku. Mendesiskan kata-kata yang sama, satu demi satu di hadapan tubuhku.
Elia.. Elia.. Elia..
Sesegera itu aku tersadar. Tak dapat aku menahan diri, senyumku mengembang. Lebar, lebar sekali, hampir aku tersedak.

#1.5
“Halleluiah! Halleluiah! Halleluiah!”
“Sst, sst, Jack! Jack!”
Dia yang ku panggil menoleh ke arahku, memastikan bahwa aku memanggilnya. Aku mengangguk. Dia berpindah duduk mendekatiku. Tuan kami tak tampak terganggu dan masih memimpin ibadah.
“Aku memikirkan ini semalaman. Rasa sakit di pundakku rasanya sirna olehnya”
“Apalagi kali ini? Kurasa kau semakin tenggelam dalam ide tentang budak yang berpikir.”
“Aku berpikir tentang cara mereka menundukkan kita setelah abad perpindahan dengan perahu. Mereka menghapus pengetahuan bahasa kita, menggantinya dengan bahasa-bahasa mereka, kata-kata tak dikenal. Kita kehilangan kemampuan kita merepresentasikan ide, semisal mengenai Tuhan. Sekarang kita menyanyikan ode untuk Tuhan mereka yang asing bagiku. Dia jelas bukan Tuhanku, bukan Tuhan kita!”
“Semoga Tuhan mengampunimu anak durhaka! Kau mencoba memercayai mitos tua mengenai dewa-berkulit-kemerahan-yang-membawa-nenek-moyang-kita-dengan-perahu-ke-surga itu? Berdoalah padanya! Ibuku melakukannya untukku hingga akhir hidup dan lihatlah: aku, anak-anakku, masih memetik kapas!”
“Dengar Jack, aku merencanakan sesuatu yang entah harus kusebut apa. Yang pasti keadaan ini harus diakhiri! Aku hanya belum menemukan kata yang tepat untuk rencana ini.”
Aku begitu bersemangat dan tak menyadari mata-mata biru yang mendelik marah. Satu, dua, tiga lecut cemeti mendera sayatan yang belum kering di punggungku. Aku menjerit untuk kepedihan yang kucampur sisa-sisa orgasme, sementara kaumku acuh melanjutkan ibadah. Asap membawa doa mereka ke surga.
“Halleluiah! Halleluiah! Halleluiah!”

#2
Swans - She Loves Us!
Klik, menuju She Loves Us!
Rangkuman naratif keterasingan dari perubahan apa-apa yang kita yakini, dalam sebuah alur kehidupan sub-sahara hingga eksodus ke Amerika. 17 menit terdengar menyenangkan oleh sentuhan gloomy punk a la The Cure awal dkk. Beri saya Sisha diam-diam, pekerjaan sialan memetik kapas segera dimulai!

Post-script: cerita diatas fiksi belaka, merupakan interpretasi saya terhadap lagu Swans - She Loves Us! (dalam album To Be Kind, 2014). Bahasa-bahasa suku entah-apa saya karang sendiri: Elia = dewa, Yeats ied! = iblis telah mati!

Kamis, 05 Juni 2014

Bukan Sungai-Sungai

08.37 Posted by Arasy Aziz No comments
Bukan sungai-sungai yang mengalir: adalah air yang kepadanya kita sematkan imagi siklikal kuna berusia hampir dua milyar tahun. Dalam dahaga, kita menenggak dia yang sama yang berkecipak dibawah sampan Charon, pengantar jenazah-jenazah menuju baka. Air yang sama, yang kepadanya dibasuhkan Achilles demi kekal doa-doa. Air yang sama, yang dengannya dibangun tembok-tembok Mesopotamia dan kebun-kebun roda dan nafkah budak. Air yang sama, yang mengantar Musa kepada mula pengabdian. Adalah air wakil dari kehidupan yang berulang. Adalah air kehidupan itu sendiri.

Sementara sungai-sungai tak lebih dari sekadar perantara-perantara.

Namun Yang Maha Mengukir tidak menciptakan ornamen-ornamen dari ruang hampa nilai. Bahkan perantara-perantara memiliki peran dalam lakonnya masing-masing. Tak terbayangkan hidup Charon, Achilles tanpa Styx. Tak terbayangkan bagaimana peradaban pertama dimulai tanpa Eufrat dan Tigris. Tak terbayangkan bagaimana sang penyampai sepuluh perintah akan menjadi tanpa Nil yang memisahkannya kedalam takdir melawan ayahnya, anti-hero sejarah.

Sungguh tak terbayangkan hidup siklikal dua milyar tahun tanpa sungai-sungai. Air yang tercurah diatap-atap bumi meluruh secepat dia datang, pada saatnya mengusap dalam tenaga apa-apa yang dilaluinya di bumi yang tanpa gurat. Air tak lagi kehidupan itu sendiri. Kita menyebutnya katastrofi.

Adalah air wakil dari kehidupan yang berulang. Dan sungai menghantar ujar sang siklikal yang tak sempat diucapkannya kepada manusia yang menjadikannnya Ada.1) Beruntunglah dia, yang di dalam namanya mengalir sungai-sungai.


Malang, 5 Juni 2014
Untuk Riverningtyas, seorang Sahabat. PS: Sapardi-esque: [1]

Sabtu, 31 Mei 2014

On Genealogy of an Introvert Melancholia

10.32 Posted by Arasy Aziz 2 comments
I want you touch me in my bleed / I want you touch my ancient week // Violence is what you are, is what you’ll be, is what you’ll take in everyday.
Melancholic Bitch - On Genealogy of Melancholia (dalam Re-Anamnesis: 2013)

#1

Dibelahan dunia yang asing, jauh sebelum trilogi saru Tuan Grey lalu mendudukkan wacana seksualitas menyimpang sebagai raja kios-kios buku di bandar udara, di pinggir jalan, di metromini, seorang penulis berkulit kuning menarasikan topik sadomasokisme dengan cara yang terlampau absurd. Penulis ini, sebagian dari kita mengenalinya dari sebuah scene serial animasi Detective Conan, tepat ketika sang detektif remaja yang tetiba mengecil tersudut oleh pertanyaan bertubi akan siapa kamu. Si detektif (sekarang) cilik sesegera melirik, demi nama samaran yang tepat daintara deretan buku-buku yang dia tumpu, dan voila, menemukannya, Edogawa Rampo. Apa yang tengah kita bicarakan adalah salah satu karya penulis misteri tersukses Jepang ini, Blind Beast. Pada 1969, novel ini di angkat ke layar perak.

Shima Aki, model foto diculik oleh seorang tunanetra yang dilanda obsesi untuk menemukan wanita berkulit terhalus di muka bumi sebagai obyek magnum opus-nya. Si model mulai tampak menjadi Sisyphus: awalnya menolak mati-matian, menghalalkan segala cara untuk lolos dari studio kelam si tunanetra. Belakangan, ia menikmati setiap detiknya yang menekan.

Dalam gelap yang seluruh, model kita mulai kehilangan penglihatan dan menjadi penyampai pepesan bangunan dramaturgi: “they never know the tactile ecstasy of our caresses”, kenikmatan seksual yang dibangun oleh sentuhan-sentuhan dalam ketiadaan pelita abadi, “like the lower orders of life, without eyes, only able to feel. Ia jatuh hati pada gulita. Dalam gelap yang seluruh, sepasang tunanetra kemudian tak lagi merasa cukup oleh sekadar sentuhan a la organisme primitif yang mereka rasakan, memulai tragedi orgasmik yang berangkat dari selangkangan, turun ke tangan, turun ke sepasang kaki, lalu nihilitas, tidak ada lagi.

Hasilnya, sebuah karya sinema noir-romantik yang sulit diterima akal sehat.

 #2

Dalam The Neurotic Personality of Our Time, Karen Horney memulai diskusi mengenai kasih sayang sebagai sebuah kebutuhan neurotik dengan membagi modus-modus mendasar manusia dalam mempertahankan diri dari rasa cemas: menagih kasih sayang, bersikap inferior dan tenggelam didalamnya, menunjukkan betapa dirinya dominan, atau terakhir, memilih jalan sunyi. Lebih lanjut, Horney menegaskan bahwa tidak ada satupun kebudayaan yang secara eksklusif hanya menjembatani salah satu bentuk. Dengan kata lain, setiap masyarakat mengekspesikan hibridasinya masing-masing.

Ibarat, jika setiap modus adalah selingkar diagram venn dalam sangkar sejarah, maka individu-individu, masyarakat-masyarakat tertentu agaknya mewarisi irisannya.

Dan diantara yang empat, kasih sayang yang berangkat dari kecemasan, perlahan memulai neurosis.

#3

Di belahan dunia yang asing, seseorang mencurigai sadomasokisme telah mengambil rupa yang lain. Dia, Yang Curiga.

Secara sederhana, sadomasokisme sebagai pseudo-ideologi seksual membimbing alam bawah sadar penganutnya dalam mencapai puncak hedonitas dengan mendera subyek yang liyan (atau dirinya sendiri) dengan penderitaan. Sebagaimana pelakon-pelakon kita membahasakannya dengan keterlaluan dalam Blind Beast: setiap rintih, setiap perih, setiap darah yang mengalir, adalah rantai-rantai esoterik yang tak terkatakan.

Dalam kalimat yang terselip, Horney mendeskripsikan seksualitas sebagai kesepakatan antara perilaku yang berangkat dari kepuasan dan di sisi lain, kecemasan, rasa takut. Namun, kasih sayang dengan rasa takut yang dominan adalah awal mula neurosis. Mereka yang memahami ini agaknya menggolongkan sadomasokisme sebagi salah satu bentuknya.

Namun, kasih sayang bukan satu-satunya modus penuntas kecemasan. Jika setiap modus adalah selingkar diagram venn dalam sangkar sejarah, maka individu-individu, masyarakat-masyarakat tertentu agaknya mewarisi irisannya.

Irisan tersebut dapat bertumpuk dalam pola yang rancak. Dalam lingkar sunyi, kita dapat mewakilkannya pada lelaku pengasingan sejumlah Sufi dalam keterbatasan. Yang Curiga merasa apa yang dilakukan kelompok ini merupakan titik tegang antara ketakutan akan tuhan-tuhan mereka di satu sisi, kepuasan transenden akan tuhan-tuhan mereka di sisi yang lain, dan kesunyian sebagai cara.

Yang Curiga secara a priori menyimpulkan, terdapat kemiripan antara sadomasokisme dan jalan penyembahan ini, kecuali aksioma kesadaran-ketaksadaran, dalam penderitaan yang terpilih.

Namun, dia tak sungguh peduli pada mainan baru. Seseorang yang menaruh curiga belum menemukan jawaban atas keraguannya. Dia mengambil perangkat pemutar musik miliknya, dan mulai memutar lagu-lagu.

I want you touch me in my bleed/ I want you touch my ancient week  //
Violence is what you are, is what you’ll be, is what you’ll take in everyday //

Di dalam lingkaran sunyi, sadomasokisme itu telah berubah rupa dalam dirinya, dalam jalan derita yang dipilihnya untuk perasaan-perasaannya sendiri, dilakukannya dengan kesadaran yang bulat. Berasal dari apa-apa yang tak terkatakan, disemai oleh diamnya, ketunaannya.

Yang Curiga meranggas. Dia menikmatinya.


Post-Scriptum      :      Saya sangat menyukai formula ini sebagai morfin melankolia yang mujarab: dimulai dengan menonton Blind Beast (1969), membacanya ulang dengan esai-ringkasan singkat dari karya Karen Horney, Kebutuhan Neurotik Terhadap Kasih Sayang (dalam Anatomi Cinta, Komunitas Bambu: 2009) sembari mendengar Melancholic Bitch - On Genealogy of Melancholia (dalam album Re-Anamnesis: 2013). Tulisan diatas adalah karangan bebas asal ucap dengan menyari-tautkan ketiganya.

Sabtu, 05 April 2014

Untuk yang (Pernah) Tersayang

07.41 Posted by Arasy Aziz 3 comments
Malang, 28 Februari 2012

Assalamualaikum Wr. Wb.

Saat kamu menerima paket ini, barangkali tanggal itu telah lewat beberapa hari (andai hitungan saya tidak keliru). Tapi esensinya semoga senantiasa tepat waktu. Iya, sebuah ucapan selamat datang dalam kotak baru berangka tujuh belas, yang di pelbagai belahan bumi kerap dirayakan dalam pesta pora. Kamu, barangkali merayakannya dalam sunyi. Atau beberapa kawanmu yang jahil menyisihkan setumpuk piring untuk kau angkat dengan riang meski bukan jadwalmu khidmat. Bagaimanapun caranya, esensinya sama saja.
Pada kesempatan ini saya memilih berjudi dengan memberimu sekeping CD (Compact Disc. red) ini. Berjudi? Saya didera paranoia akan kemungkinan bahwa barangkali kamu telah mengunduh lengkap materi album ini. Tapi pemikiran ini coba saya tepis jauh-jauh, menggantinya dengan kemungkinan-kemungkinan yang terdengar lebih menyenangkan. Semisal, dengan sebuah album fisik agaknya si penggemar dapat merasa lebih dekat dengan musisi idolanya.
Mengapa Owl City? Sekali lagi saya dituntun rasa sok tahu. Unit tunggal electronic/synth-pop Amerika Serikat ini memang sedang mewabah, dan tampaknya kamu satu yang terjangkiti juga. Track-track sakarin multi tema a la Adam Young saya rasa cocok untuk gadis sepertimu sebagai soundtrack usia tujuh belas yang kerap jadi momentum penuh gula-gula. Semoga materi All Things Bright and Beautiful terdengar semanis Ocean Eyes dengan Fireflies-nya.
Pada akhirnya saya hanya dapat berdoa dari jauh agar segala pilihan-pilihan dan jalan terbaik yang disediakan Tuhan senantiasa terlimpah untukmu (Tuhan yang Maha Segala, terlalu panjang kemungkinan-kemungkinan rupa kebaikannya untuk dituliskan disini). Semoga kamu tak mendapat masalah karena  hadiah kecil ini (kita cukup tau bagaimana madrasah kita tersayang sangat mengurusi hal-hal kecil seperti ini). Semoga kamu nggak merasa risih (?) karena beroleh banyak 'cieee' yang menggelikan.
Dan diawal saya sempat menyinggung perihal 'kotak baru berangka tujuh belas'. Andai kamu sadar (dan merasa ganjil), ini adalah satu dari sekian banyak doa saya. Kotak yang baru, selalu berarti ruang baru untuk ekspresi-ekspresi baru, gairah-gairah baru, semangat baru. Kamu yang baru. Namun, saya akan ikut berbahagia, andai energi tujuh belas tahunmu rupanya masih tersisa untuk sekadar melampaui sisi-sisi kotak itu. Saya berbahagia untukmu.
Semoga kita dapat segera bertemu kembali.

Wassalamualaikum Wr. Wb.



Post-Script : Teks ini merupakan cakaran surat pengantar untuk sebuah kado ulang tahun yang saya kirimkan untuk -sebagaimana tertulis pada judul- pada tahun pertama kuliah. Saya telah jauh lupa pernah menulis surat ini, hingga menemukannya terselip diantara halaman-halaman binder yang mendadak ingin saya fungsikan kembali. Tetiba muncul gedoran halus yang mengingatkan: “konyol ya", "wah, kamu pernah melakukannya dengan sangat sederhana, rupanya.” Saya tersenyum, lalu terbahak. Ini, sebuah manifest sederhana perjuangan dan  anasir rasa takut.

Senin, 09 Desember 2013

Malang: Ikhtiar Melawan Lupa

06.13 Posted by Arasy Aziz No comments

Dimensi baru gerakan menolak lupa hadir melalui Omah Munir.

Benarkah kita perlu tugu?”. Dalam Tugu Kemakmuran, Prasetyohadi menyindir motif-motif dibalik kegemaran orang-orang Indonesia untuk mendirikan tugu, monumen: sebagai wakil-wakil kenangan, kultus dan mitos mereka, “Penting. Untuk mengenang kemakmuran desa, bukti kesejahteraan hidup”. Di sisi lain, tugu-tugu menjadi instrumen keangkuhan. “..Letak sangat strategis, di ujung belakang desa. Desa-desa lain akan melihat dari kejauhan kemegahan tugu kemakmuran kita itu. Nama desa kita akan terkenal dan berkibar.


Lalu, apakah tugu perunggu setengah dada Munir, dan Omah Munir secara keseluruhan yang baru saja dibuka, dibangun dengan semangat yang sama? Benarkah kita perlu tugu (dan tentu saja, museum), sementara Munir senantiasa hadir dalam tagar #menolaklupa?

Munir hari ini tidak lagi sekadar dikenang sebagai seorang martir HAM yang tewas oleh arsenik di udara Singapura-Den Haag pada 7 September 2004, yang menimbulkan kegemparan sebagai “a test of our history”, yang aktor intelektual dibalik kematiannya masih terselubung lembayung pekat. Dalam sambutannya, Suciwati menegaskan lebih lanjut bahwa “Omah Munir tidak ingin sekadar menjadi pengkultusan Munir. Munir masih hidup melalui kenangan tentang nilai-nilai keadilan HAM yang diyakininya lewat semangatnya yang tak pernah pupus dalam menegakkan keadilan. Nilai yang mungkin tak pernah dipelajari para pejabat kita, yang ingin saya kenalkan pada sebanyak mungkin masyarakat Indonesia. Agar suatu ketika, ketidakadilan HAM tak lagi terjadi”. Ini, lebih kurang, menjawab kegamangan Prasetyohadi.

-::-

Minggu, 8 Desember 2013, saya memutuskan mandi lebih awal untuk menghadiri prosesi soft opening museum Omah Munir.

Kabar yang beredar bahwa setiap warga kota Batu mengetahui lokasi pasti Omah Munir ternyata sekadar mitos belaka. Perjalanan saya untuk menghadiri pembukaan Omah Munir tampaknya akan lancar-lancar saja ketika seorang polisi lalu lintas yang tengah berjaga di pos polisi seputaran alun-alun Batu dapat memberikan alamat lengkap Omah Munir: Jalan Bukit Berbunga No. 2. Pada polisi lalu lintas yang sedang melakukan sweeping kendaraan roda dua, segera saya tanyakan kembali kepastian letak Omah Munir, yang dengan berbaik hati meyakinkan saya bahwa jalan yang saya pilih benar. Petualangan baru dimulai setelahnya. Nomor-nomor rumah di jalan Bukit Berbunga tidak disusun dengan cukup teratur. Saya bolak-balik di jalan utama menuju destinasi wisata Selecta dan Cangar ini, dan terpaksa kembali ke Batu Town Square untuk mendapati rumah yang salah (rumah yang ditunjukkan orang-orang adalah rumah saudara Munir, tempat jenazahnya disemayamkan sembilan tahun silam). Belakangan saya menemukan jalan Bukit Berbunga No. 2, dengan sekali lagi melewati sweeping, terletak setelah rumah-rumah dengan nomor 90-an.

Perca. Sepenggal bagian dari kliping raksasa yang menghimpun berita-berita tentang Munir di media cetak.

Sungguh beruntung, saya tiba ketika acara baru saja dimulai. Di podium, mbak Uci (panggilan akrab istri alm. Munir) baru saja mulai memberikan sambutan pertama. Saya segera menempati kursi yang kosong.

Rangkaian acara pembukaan Omah Munir dirancang sederhana, namun dihadiri individu-individu luar biasa. Saya segera mengenali Prof. Mukhtie Fadjar, Butet Kartaradjasa, hingga Faisal Basri membaur diantara ratusan hadirin. Usai sambutan-sambutan, panggung kecil yang disediakan menjadi semarak oleh pengisi-pengisi acara spesial. Kolektif Simponi dari Jakarta, yang menjadi salah satu pengisi album Frekuensi Perangkap Tikus, menjadi penampil pertama. Selanjutnya Butet Kartaradjasa menghadirkan monolog berdurasi 15 menit yang berhasil memancing hadirin untuk tergelak. Tawa itu semakin pecah ketika dalam suatu fragmen tentang subyektivitas kebenaran, Butet menghadirkan sosok Gus Dur yang menjawab pertanyaan perihal penilaiannya tentang ayam panggang sebagai representasi kebenaran. Gus Dur dalam imaji Butet menjawab “gitu aja kok repot, ..yang penting jangan pilih PKB-nya Muhaimin”. Seluruh tawa segera tertuju pada Sutiaji, wakil walikota Malang yang juga merupakan kader PKB.

"gitu aja kok repot, ..yang penting jangan pilih PKB-nya Muhaimin."

Penampil lain yang tak kalah spesial adalah kakak beradik putra-putri Widji Thukul, Nganthi Wani dan Fajar Merah, yang membawakan musikalisasi puisi-puisi sang pujangga protes. Momen ini menjadi menggetarkan demi menyimak gegar-gegar dalam seruan Nganthi Wani, demi melihat paras Fajar Merah yang mirip ayahnya yang raib hingga hari ini. Dan demi mendengar puisi-puisi Thukul yang masih saja menyimpan bara subversi yang selalu relevan.

Sebagai penampil penutup yang terselip diantara testimoni-testimoni, dihadirkan frontman kolektif grunge lokal yang datang jauh-jauh dari Bali, Roby Navicula. Dengan gitar kopong, Roby memanaskan suasana dengan, salah satunya, nomor sing-along-able Mafia Hukum. Saya kehilangan kuasa atas ujung sepatu yang mulai memainkan ketukan-ketukan, sembari mulut saya bernyanyi bersama. “Mafia hukum, hukum saja / Karena hukum tak mengenal siapa / Mafia hukum, hukum saja / Karena hukum tak mengenal siapa //”. Entah bagaimana ekspresi perwakilan Kementerian Hukum dan HAM yang turut hadir (saya sendiri mahasiswa hukum, namun belum (dan tidak akan pernah, InsyaAllah) menjadi mafia hukum).

Acara pembukaan Omah Munir diakhiri dengan kunjungan ke dalam museum Omah Munir. Omah Munir sendiri menggunakan rumah masa kecil Munir yang bergaya indies. Dibuka untuk umum bertepatan dengan dirgahayu Munir yang lahir pada 8 Desember 1965, dirayakan dua hari jelang hari HAM Internasional. Koleksi Omah Munir tidak terbatas pada memorabilia-memorabilia peninggalan Munir. Omah Munir juga didesain sebagai museum HAM pertama di Indonesia. Di ruangan utama tersaji panel-panel yang menjelaskan sejarah HAM di Indonesia hingga legasi Munir dalam upaya penegakannya. Sejumlah media interaktif disediakan untuk menambah informasi bagi pengunjung, sebagai sarana untuk mengajak pengunjung untuk menolak lupa untuk ketidakadilan dan sederet pelanggaran-pelanggaran HAM yang masih jauh dari tuntas.

Kalimat terakhir ini menjadi sejalan dengan tujuan Omah Munir. Dalam pamflet yang dibagikan, tertulis alasan mengapa bentuk museum dipilih, yaitu untuk “memberikan cara pembelajaran yang lengkap melalui tampilan audio-visual, tentang dimensi-dimensi penting figur Munir dalam memperjuangkan agenda penegakan HAM di Indonesia”. 

Suciwati dikerubungi wartawan.

Seorang hadirin menyimak buklet tentang para pegiat HAM.

Namun, ada masalah akut yang masih menghinggapi dunia permuseuman Indonesia. Masalah itu berwujud minat orang-orang Indonesia untuk mengunjungi museum yang sangat kurang. Hal ini coba disiasati oleh para pengurus Omah Munir. Sesuai tujuan Omah Munir, telah diprogramkan serangkaian diskusi dan kuliah mengenai HAM untuk mengkader bibit-bibit Munir baru yang akan diisi oleh aktivis HAM hingga akademisi. Patut ditunggu.

Lebih dari itu, Munir juga telah menjadi ikon yang bergerak melampaui batas-batas ekspresi bohemian, dari seni hingga sastra. Kita masih ingat senandung berderap Di Udara milik Efek Rumah Kaca yang dinobatkan sebagai salah satu lagu protes Indonesia terbaik sepanjang masa oleh Morgue Vanguard/Ucok Homicide. Munir juga masih menjadi obyek dari poster-poster hingga mural-mural agitasi dan propaganda yang mewarnai dinding-dinding kota. Beberapa diantaranya (hasil karya kelompok Nobodycorp) bahkan dipamerkan di salah satu ruangan Omah Munir. Dengan pertimbangan ini, kiranya Omah Munir dapat dikembangkan dengan memrogramkan diri sebagai rumah baru bagi bilik diskursus mengenai ide-ide realisme sosial, yang memberikan kehangatan ditengah hawa dingin kota Batu untuk tujuan yang sama: memakmurkan gagasan menolak lupa.

Poster-poster karya Nobodycorp.

Dengan adanya Omah Munir, gerakan menolak lupa memasuki dimensi baru. Dia tidak lagi sekadar menjadi hantu yang bergerak di linimasa dunia maya, tidak lagi sekadar pemahaman yang dipegang kuncinya oleh elit-elit. Seperti kata Butet dalam menutup monolognya, “ingatan kita mungkin memang pendek (juga masa kadaluarsa bagi keadilan prosedural untuk pembunuhan berencana terhadap Munir, saya tambahkan), namun kebenaran panjang umurnya”. Jika berbagai ikhtiar untuk menyemai kesadaran ini masih belum juga dapat membuka mata para pemimpin yang berjanji, “maka hanya ada satu kata: lawan!

Sekelumit Tentang Museum Omah Munir:
Omah Munir terletak di Jalan Bukit Berbunga No. 2, kota Batu, Jawa Timur, tepat di pinggir jalan raya menuju obyek wisata Selecta dan Cangar. Buka setiap hari Selasa-Minggu pukul 08.00-15.00 WIB. Transportasi: Omah Munir dapat dicapai dengan berkendara sekitar 45 menit dari kota Malang, atau menggunakan angkutan kota jurusan Landungsari-Batu, kemudian berpindah Batu-Selecta atau Batu-Cangar. HTM: Bersyukurlah, sepertinya tidak dipungut biaya untuk masuk museum.

Selasa, 01 Oktober 2013

Jalan Yang Tidak Dipilih Tuhan Untuk Bangsa Kami

03.52 Posted by Arasy Aziz No comments
Lapis-lapis udara kota Jakarta di bulan-bulan jelang pemberontakan 1 Oktober 1965 pekat oleh desas-desus tak kasat mata. Konon kabarnya, telah dibentuk Dewan Jendral yang hendak menggulingkan pemerintahan Soekarno dengan menggunakan momentum Hari Angkatan Bersenjata 5 Oktober 1965. Hal ini menimbulkan kekhawatiran luar biasa dalam tubuh Partai Komunis Indonesia, dan menjadi perhatian utama dalam diskusi Dwipa Nusantara Aidit dan Sjam Kamaruzzaman pada sebuah senja merah di bulan Agustus 1964.

Kekhawatiran ini beralasan. Konfigurasi kekuasaan dibawah sistem Demokrasi Terpimpin menempatkan Presiden Soekarno, Partai Komunis Indonesia, dan Angkatan Darat sebagai tiang penyangga dalam hubungan yang saling curiga. Jika kudeta Angkatan Darat atas Soekarno jadi dijalankan, konfigurasi kekuasaan itu akan kehilangan keseimbangan, posisi Partai Komunis Indonesia terancam.

Terlebih lagi, rona dunia ketiga pada masa itu semarak oleh gurat-gurat revolusi korporatisme. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Amerika Serikat berusaha meraih kemungkinan sekutu-sekutu baru dalam menghadapi perang nirkata melawan simbol-simbol Komunisme. Mereka menyokong angkatan-angkatan bersenjata di bawah rezim-rezim yang berseberangan jalan untuk melakukan kup. Pun demikian dengan Indonesia. Posisi Indonesia yang “netral” dalam perang dingin, kampanye Ganyang Malaysia, juga upaya-upaya spionase terhadap Soekarno: faktor-faktor ini merenggangkan hubungan Jakarta-Washington. Sebaliknya, hubungan Gedung Putih dengan Angkatan Darat dibalik layar justru kian erat, diam-diam mereka membahas kemungkinan-kemungkinan penggulingan kekuasaan Soekarno. 

Satu-satunya cela dalam rencana Angkatan Darat ini adalah posisi Soekarno yang demikian kuat dan amat dicintai rakyat (dan banyak anggota militer). Kudeta langsung hanya akan menyebabkan Angkatan Darat kehilangan legitimasi publik, menimbulkan gejolak dan pembangkangan sipil maha-raksasa yang bahkan tak mampu ditangani dengan cara-cara totaliter sekalipun.

Belakangan, justru kecurigaan dua petinggi Partai Komunis Indonesia yang memberikan jalan bagi penggulingan itu, sedikit demi sedikit.

“Kup itu harus digagalkan”. Sjam Kamaruzzaman atas perintah Aidit bersama beberapa perwira tinggi angkatan bersenjata yang simpati pada gerakan kiri sekaligus loyalis-loyalis Soekarno merancang sebuah gerakan pendahuluan demi menyelamatkan pemerintahan Putra Sang Fajar. Namun, tanda-tanda kegagalan operasi ini bahkan telah tampak sebelum api disulut. Soepardjo, salah satu perwira tinggi militer yang terlibat, keheranan atas upaya gerakan pendahuluan yang tidak memenuhi kriteria sebuah kudeta dan gerakan perlawanan. Sjam yang keras kepala tidak menggubris peringatan kolega militernya. Pada malam 30 September operasi dimulai. Beberapa jendral memang berhasil diculik (dan tanpa diperintah, dibunuh). Sayangnya, ada seorang yang lain luput dari operasi, menyeruput kopi dan dengan taktis menekuk lutut para pembangkang sesegera gerakan itu dimulai. Jelang senja di 1 Oktober, gerakan pendahuluan, yang belakangan dinamai G30S(/PKI) ini, berhasil ditumpas.

Kegagalan ini menimbulkan konsekuensi teramat berat. “Seorang yang lain”, Soeharto, memperoleh mandat kontroversial untuk mengambil alih kekuasaan dan melakukan “tindakan-tindakan yang dianggap perlu untuk menjaga stabilitas negara”. Soekarno sendiri harus menerima kenyataan pahit disingkirkan Majelis Permusyawaratan Rakyat dari kursi kepresidenan, menandai berdirinya sebuah rezim totaliter kanan bernama Orde Baru yang bertahan selama 32 tahun. G30S, sebagaimana diistilahkan sejarawan John Roosa, menjadi sebuah dalih pembunuhan massal. Genosida atas mereka yang dianggap terlibat, langsung tidak langsung, dalam G30S dimulai secara sistematis. Para petinggi Partai Komunis Indonesia satu persatu menghadapi vonis mati di Mahmilub. Darah para kader dan simpatisan akar rumput, etnis Tionghoa, hingga petani-petani inosen menjadi halal ditumpahkan melalui eksekusi-eksekusi tanpa proses peradilan. Soedomo mengklaim jumlah pengikut Partai Komunis Indonesia yang harus meregang nyawa berada pada kisaran 1,7 juta jiwa. Hal ini menerbitkan rasa prihatin yang mendalam, mengingat risalah-risalah terbaru tentang G30S yang (akhirnya dapat) terbit pasca reformasi menjelaskan bahwa hanya dua orang petinggi Partai Komunis Indonesia, Aidit dan Sjam, yang mengetahui rencana ini secara menyeluruh. TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 dirumuskan. Dan hingga kini, efek berkelanjutan G30S masih terasa. Mereka yang keterlibatannya dalam gerakan 1 Oktober digolongkan dalam kategori B kehilangan sebagian hak-haknya sebagai warga negara. Ada tanda tertentu yang disematkan di kartu identitas mereka. Satu babak sejarah Partai Komunis Indonesia dan Komunisme Indonesia berakhir tragis.

Selanjutnya, kita tahu Orde Baru menyebarluaskan doktrin dan versi sejarah mereka perihal peristiwa G30S. Kita ingat bagaimana potongan-potongan film Pengkhianatan G30S/PKI yang selalu diputar pada malam-malam 30 September menggembarkan anggota Partai Komunis Indonesia yang keji. Kita ingat bahwa setiap tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Sangat sedikit antitesis beredar di masyarakat yang dapat memberikan pencerahan. Kita digiring untuk lupa dan turut menghalalkan pembantaian besar-besaran yang tidak dapat diterima hati nurani dan akal sehat. “Sejarah ditulis oleh pemenang”, pun demikian sari patinya yang tersedia untuk disesap.

Namun, bagaimana jika keadaan berbalik, gerakan 1 Oktober itu berhasil?

Partai Komunis Indonesia di bulan-bulan jelang pemberontakan 1 Oktober telah menjelma menjadi kekuatan politik sipil paling disegani. Hari ulang tahun mereka pada 23 Mei 1965 dirayakan besar-besaran di Stadion Utama Senayan. John Roosa menggambarkan bahwa “puluhan ribu orang memadati tribun yang mengelilingi lapangan stadion, sementara ribuan manusia lagi berdiri di lapangan yang terhampar di bawah. Di luar, di lapangan parkir dan jalan-jalan di sekitarnya lebih dari 100.000 orang saling berdesak-desakan.” Jumlah yang amat banyak di masa itu. Pada pemilihan umum sebelumnya, Partai Komunis Indonesia menduduki peringkat keempat pendulang suara terbanyak. Jumlah kader, simpatisan dan pendukung mereka terus bertumbuh. Partai Komunis Indonesia menjadi kekuatan komunisme terbesar ketiga di dunia, setelah Sovyet dan Tiongkok. Kondisi ini teramat timpang dibanding keadaan organisasi yang terlanjur tercoreng pasca pemberontakan di Madiun tahun 1948.

Kedekatan partai dengan Soekarno, utamanya dalam semangat anti-Nekolim, menjadikan posisi Partai Komunis Indonesia kian menyenangkan. Andai gerakan 1 Oktober berhasil, konfigurasi kekuasaan hanya menyisakan dualitas penyangga, Soekarno dan Partai Komunis Indonesia. Partai Komunis Indonesia akan semakin populer di mata rakyat melalui kesuksesannya menggagalkan upaya kudeta atas sang Panglima Besar Revolusi. Cepat atau lambat, kekuasaan atas pemerintahan Indonesia akan merapat ke gerakan kiri. Kemudian terjadi perombakan ketata-negaraan besar-besaran.

Salah satu kecurigaan terbesar orang-orang adalah adanya agenda Partai Komunis Indonesia untuk mengganti ideologi Pancasila dengan Komunisme. Posisi Pancasila sendiri pada masa itu telah digeser pelan-pelan oleh gagasan Soekarno tentang Nasakom sebagai upaya menyelaraskan tiga arus utama pemikiran politik Indonesia. Mendongkel Pancasila dari kedudukannya sebagai ideologi negara, sebagai staatfundamentalnorm, adalah perkara yang mungkin dilakukan tanpa perlu mengalirkan keringat dan darah oleh siapa saja yang berkuasa. Hans Nawiasky berpendapat, sebuah staatfundamentalnorm masih dapat berubah melalui cara-cara selain yang ditentukan sebuah tata hukum. Namun hukum itu sendiri adalah politik dalam baju lain. Sejarah Indonesia mencatat, perubahan staatfundamentalnorm tidak melulu tentang revolusi atau kudeta. Soeharto dan Orde Baru misalnya, membentuk tafsir dan pemaknaan Pancasila versi mereka sendiri, yang kemudian digunakan sebagai instrumen yang memberikan kemapanan. Staatfundamentalnorm bernama Pancasila itu resmi berganti substansi. Langkah serupa dapat dilakukan Partai Komunis Indonesia andai mereka mau.

Dan barangkali Indonesia hari ini, setelah puluhan tahun gerakan 1 Oktober 1965 itu berhasil, telah menjelma sebagai negara Komunis yang: seperti Cina, membiarkan “kapitalis-kapitalis” kecil tumbuh, atau sebuah negara yang jutaan rakyatnya sejahtera dari memegang arit. Atau negara yang tengah diisolasi dunia karena keras kepala. Atau tengah terlibat dalam Perang Dunia ke-III yang pecah belakangan. Ada terlalu banyak kemungkinan-kemungkinan. Tapi satu hal yang benderang adanya, bahwa itulah jalan-jalan yang tidak dipilih Tuhan untuk bangsa ini.

Senin, 19 Agustus 2013

Gorontalo: Nyala Terakhir Tohetutu

04.50 Posted by Arasy Aziz 2 comments
Inna anzalnahu fi lailatil-qadr(i) / Wa maa adraka maa lailatil-qadri(i) / Lailatul-qadri khairum min alfi syahr(i) / Tanazzalul malaa'ikatu war-ruuhu fihaa bi'izni rabbihim min kulli amr(in) / Salaamun hiya hattaa matla'il fajr(i). Pelita pertama telah dinyalakan, diantara sebait surat Al-Qadr yang saya baca dalam hati sembari menahan nafas. Tata cara menyalakan tohetutu (pelita minyak tanah dalam bahasa Gorontalo) ini saya pelajari dari orang-orang Gorontalo yang saya kenal mula-mula. Konon, hal ini mengundang mukjizat malam seribu bulan singgah ke rumah. Bau jelaga bercampur minyak tanah meruap sesegera saya membiarkan udara kembali mengisi paru-paru.

Saya tidak menemukan catatan yang dapat memberi penjelasan akurat mengenai kapan Tumbilotohe bermula. Kebudayaan Gorontalo cenderung abai akan pentingnya tradisi tulisan dalam merekam catatan sebuah peristiwa. Pengetahuan mengenai asal mula Tumbilotohe dapat diperoleh melalui tutur lintas generasi, dari mulut ke mulut. Perayaan ini konon dimulai untuk memberi penerangan bagi orang-orang yang hendak menunaikan ibadah sholat tarawih. Versi lain menyebutkan, deretan pelita-pelita digunakan guna menjadi penunjuk jalan bagi lailatul-qadr yang turun dari langit. Berfungsi serupa lampu-lampu suar pemandu pesawat terbang di bandar udara. Ini menjelaskan mengapa malam ke-27, 28, dan 29 Ramadhan dipilih sebagai malam-malam perayaan. Bersama Tumbilotohe didirikan miniatur gerbang-gerbang dari kayu dan bambu, alikusu. Diatasnya digantung hasil bumi dan buah-buahan sebagai sedekah dan ucapan syukur kepada Tuhan, untuk kemudian dapat dipetik siapa saja yang berlalu-lalang.

Hamparan Tohetutu dengan latar jembatan Talumolo II.
Di malam ketiga perayaan Tumbilotohe, saya bersama seorang kawan, Sarah, menyusuri jalan-jalan kota Gorontalo demi menemukan pemandangan Tumbilotohe terbaik. Beberapa ruas jalan tampak kesulitan menampung tumpahan kendaraan. Macet dimana-mana. Hal ini diperparah dengan adanya Pasar Senggol yang menggunakan sebagian jalan utama di jantung kota. Amat beruntung, salah satu tempat terbaik dalam menikmati perayaan Tumbilotohe tampak lengang. Dari hadapan hamparan tohetutu, saya dapat memandang bayang-bayang remang jembatan Talumolo II. Tiba-tiba, ada gelisah yang menyeruak.

Kita, sesungguhnya, tengah memasuki periode hitung mundur menuju padamnya cahaya sebuah pelita besar kebudayaan Gorontalo.

Tohetutu dalam Tumbilotohe telah menjejak jalur evolusi yang panjang sejak pertama kali dinyalakan oleh entah-siapa. Pada mulanya, pelita-pelita menggunakan minyak kelapa sebagai bahan bakar. Di masa lampau, masyarakat memproduksi sendiri olahan ini di rumah-rumah guna memenuhi kebutuhan domestik. Meluasnya distribusi kerosen hasil penyulingan minyak bumi menghadirkan varian lampu yang lebih memudahkan.

Padat. Ragam kendaraan menyesaki Jl. Bali yang sempit. Pemuda setempat membangun terowongan cahaya dari lampu berwarna senada nyala tohetutu.
Namun, ketergantungannya pada bahan bakar minyak menghadirkan sebuah tembok penghalang kongkrit. Beberapa tahun silam, ketika minyak tanah sempat menjadi langka di Gorontalo, pemerintah lokal khawatir malam-malam Tumbilotohe menjadi lesu, dan mengajukan model lampu berbahan dasar lilin kepada masyarakat. Gagasan ini kurang populer. Banyak pihak menganggap penggunaan lilin terlalu identik dengan tradisi keagamaan Nasrani, dan tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam tradisional-Gorontalo. Masyarakat lebih memilih mengganti pelita minyak tanah dengan lampu listrik LED warna-warni yang berkelip. Kini, setelah pemerintah benar-benar membatasi peredaran minyak tanah dan mencabut subsidi atasnya, setelah harga minyak tanah melangit dan sulit diterima akal sehat, perayaan Tumbilotohe semakin kehilangan semarak setiap tahunnya. Hingga suatu saat, ketika kerosen benar-benar punah dari daftar prioritas penyulingan minyak bumi, Gorontalo akan kehilangan salah satu hasil olah cipta rasa karsanya yang unik.

Pertentangan tak tampak yang sengit juga datang dari tataran idea. Gugatan atas tren perayaan tradisi ini belakangan hadir dari sejumlah cendekiawan Gorontalo, seperti Thoriq Modanggu (iya, Thoriq Modanggu yang itu) melalui salah satu artikelnya dalam buku Mengutuk Tuhan Yang Terkutuk. Waktu yang berderap, menyebabkan tumbilotohe mengalami pergeseran utilitas yang nyata. Orang-orang Gorontalo (termasuk saya, tentu saja) lebih suka berkeliling dan menikmati temaram, alih-alih memakmurkan rumah Allah. Dua hal ini selalu berdiri pada sisi-sisi yang berseberangan. Dua hal ini, mewakili nilai-nilai pragmatik dan ideal, duduk saling hadap-menghadap dalam arena.

Perayaan Tumbilotohe, dengan segala potensi kepariwisataannya, terlalu berharga untuk diabaikan. Suatu keunikan tersendiri melihat jutaan lampu botol menyala serentak, dari tepian jalan-jalan pos kota hingga pojok-pojok perkampungan. Dengan cara tertentu, Tumbilotohe menyajikan kehangatan, dan kadang-kadang romantisme yang tak terjelaskan. Pemandangan yang akan sulit ditemui di belahan bumi manapun. Tumbilotohe juga menggerakkan usaha kecil, dengan nilai menjanjikan dari transaksi jual-beli botol bekas minuman energi, dari sewa jasa angkutan bentor untuk berkeliling kota. Bunyi ladam sepatu kuda yang hampir senyap di jalanan Gorontalo juga kembali semarak.

Kawan saya, Sarah, menyalakan pelita yang padam.
Dari kacamata lain, Tumbilotohe telah menyimpangi esensi mula-mulanya. Budaya ini lahir dan bertahan hidup melalui serangkaian receptie adat istiadat Gorontalo terhadap agama Islam. Dia hadir sebagai prasarana ritual yang belakangan melembaga menjadi sebuah Urf, adat istiadat selaku sumber hukum. Urf setidak-tidaknya mensyaratkan dua hal untuk tetap diterima: pertama, dia tidak bertentangan dengan sumber-sumber hukum utama agama Islam dan kedua, memberi kemanfaatan umum dan meluas. Tumbilotohe dewasa ini, dengan segala implikasinya bagi jamaah mesjid, secara nyata kesulitan memenuhi syarat kedua. Masyarakat Gorontalo akhirnya dihadapkan pada sebuah persimpangan: mempertahankan sebuah tradisi sekarat yang terlanjur mapan, atau belajar menanggalkannya sebagai sejarah.

Sekelumit Tentang Tumbilotohe:
Tumbilotohe dirayakan pada malam ke-27, 28, dan 29 Ramadhan setiap tahunnya, yang secara umum mengacu pada penentuan penanggalan hijriyah milik pemerintah. Menikmati tumbilotohe tidak dipungut biaya dan dapat ditemukan di seluruh Gorontalo. Transportasi: Berkeliling menggunakan bentor dan bendi sangat direkomendasikan. Tempat terbaik untuk menikmati Tumbilotohe di seputaran Kota Gorontalo: Jl. Bali, jembatan Talumolo II, Danau Limboto sisi perbatasan Kota Barat-Batudaa, Kecamatan Tilango.