Fiat Lux

Rabu, 28 November 2012

Malang: Pulau Sempu - Boy's Time, Controversy

03.09 Posted by Arasy Aziz 4 comments
Bagi penggemar wisata pantai dan trekking, Pulau Sempu memadukan keduanya secara paripurna. Keelokan yang tersaji ditengah kontroversi.

"Yang cewek nggak usah diajaklah", ujar seorang teman yang segera kami amini. Kami tengah terjebak dalam diskusi panjang tentang rencana menghabiskan akhir pekan panjang. Kami memutuskan untuk berkemah semalam di Pulau Sempu. Mengajak teman wanita tampaknya akan jadi ide konyol lagi merepotkan.




Bayangan ini terbukti benar kemudian. Pulau Sempu mejadi legendaris oleh pantai kladestin yang mengelilingi sebuah danau air asin di tengah pulau bernama Segoro Anakan. Danau Segoro Anakan sendiri bersumber dari resapan air laut Samudra Hindia yang mengepung pulau. Dan untuk mencapainya, kami diharuskan menempuh setapak jalan tanah membelah formasi hutan dataran rendah yang menguras energi. Siksa kami berlipat oleh tenda yang harus digotong bergantian. Lepas satu jam, kami tiba di pinggiran danau. Pemandangan yang tersaji sukses mengisi kembali tenaga kami yang hampir habis.



Sayangnya, kami tidak sendiri. Di sekitar Segoro Anakan telah berdiri puluhan tenda lain yang saling membatasi ruang. Alhasil, kami mendirikan tenda prematur dengan kemiringan hampir 45 derajat di kaki bukit. Selanjutnya mudah saja ditebak. Kami mengerjakan hal-hal klise yang menyenangkan layaknya para pejalan pantai lain. Dari tandas matahari hingga pagi menjelang di hari berikutnya, kami bersuka cita.

-::-


Tulisan saya belum usai. Terlepas dari keriaan akhir pekan panjang, terselip sedikit rasa mengganjal yang minta disemburkan. Kritik terbesar terhadap model pengelolaan Pulau Sempu adalah 'kemudahan luar biasa' untuk memperoleh akses masuk. Sejak 1928, Pulau Sempu telah memperoleh status Natuurmonumen alias Cagar Alam. Status ini menimbulkan kewajiban prosedural untuk dapat menikmati isi perut Pulau Sempu yang oleh hukum positif  dibatasi untuk tujuan edukasi dan penelitian lestari. Setidaknya terdapat tiga pertimbangan para peneliti Belanda kala itu: menjadikan Pulau Sempu sebagai gudang cadangan plasma nuftah, perlindungan terhadap spesies langka seperti Macan Tutul dan Bajing Tanah yang menghuni kawasan tersebut dan agar Pulau Sempu  tidak dijadikan lokasi pelarian para penggerak pemberontakan.


Anehnya, kami hanya perlu merogoh sedikit isi dompet untuk memperoleh 'surat sakti' sebagai izin masuk ke kawasan Pulau Sempu. Tawaran akan hal ini bahkan secara terang-terangan diungkapkan seorang petugas. "Daripada harus ke Surabaya dulu", ujarnya. Hal ini saya simpulkan sebagai upaya memanfaatkan minimnya pengetahuan banyak orang tentang status cagar alam Pulau Sempu dan prosedur normal perizinan, birokrasi yang berliku, lemahnya pengawasan dan keindahan panorama yang dijanjikan. Semua faktor ini diakumulasi dan berbuah pungutan liar.



Pada Juni 2012 yang lalu dalam sebuah dialog bertajuk "Pulau Sempu antara cagar alam dan wisata" yang diselenggarakan Komunitas Peduli Sempu di pendapa Kabupaten Malang timbul wacana tentang model pengelolaan ideal bagi Pulau Sempu. Pemerintah Kabupaten Malang yang wilayah kekuasaannya melingkupi area Pulau Sempu disarankan untuk mengajukan permohonan pergantian status Pulau Sempu dari cagar alam menjadi taman wisata alam. Perubahan status ini kemudian akan memberikan kemudahan bagi siapapun untuk mengakses Pulau Sempu. Sayangnya, model ideal ini tetap akan jadi sembilu bermata ganda. Dalam bayangan saya, perubahan status akan menimbulkan profit yang luar biasa bagi seluruh elemen yang terlibat dalam praktek pengelolaan Pulau Sempu. Namun, sudahkan kita menyimak gerutu segerombolan lutung jawa yang bergelayut diantara dahan?


Kamis, 22 November 2012

#YNWA

01.03 Posted by Arasy Aziz No comments
"Liverpool fans were great to me, I still live near the city and they always come up and shake my hand."  
Paul Ince.

#YNWA!! (Source: Guardian)

Waktu itu tahun 2005, ketika saya mulai berkenalan lebih dekat dengan Liverpool. Adalah momen final Liga Champions di Istambul yang membuat saya terkagum bukan kepalang. Bayangkan tim anda ketinggalan tiga gol tanpa balas di babak pertama dalam sebuah partai puncak. Sakit, malu, patah arang, hal serupa yang mungkin hampir dirasakan para pemain Liverpool ketika berhadapan AC Milan waktu itu. Namun sebuah keajaiban terjadi. Liverpool mengejar ketinggalan, dan drama adu penalti berhasil dimenangkan. The Big Ear berhasil diboyong ke tepian sungai Mersey.

Saya membaca ulasan pertandingan dari setiap majalah anak yang saya punya, dan hampir semuanya tak luput menyinggung sihir serangkaian kata yang sama: You'll Never Walk Alone (selanjutnya saya singkat YNWA). Yang terjadi kemudian adalah, YNWA benar-benar merasuk, menjadi semacam bahan bakar pribadi bagi saya selain Tuhan, keluarga dan teman. Kalimat ini kemudian selalu saya pegang dalam setiap ujian yang saya lewati. Dalam ujian akhir sekolah hingga Madrasah Aliyah, kala terjebak dalam sebuah ujian tertulis Olimpiade Sains Nasional penuh angka tanpa kalkulator. Dan hasilnya selalu baik. Saya lulus ujian nasional Bahasa Indonesia meskipun lembar jawabannya yang menjengkelkan itu terkena tetes minyak rambut. Saya beroleh prestasi yang cukup baik dalam ajang adu-otak SMA tingkat nasional. Semesta bersama saya, walau mungkin saya berlebihan dalam mengaitkan sementara kuasa ilahiyat lebih besar dalam hal ini.

Tagline YNWA pada dasarnya berasal dari sebuah lagu berjudul sama yang didendangkan Gerry and the Pacemakers tahun 1945. Bill Shankly (manajer tersukses Liverpool dan karib frontman band tersebut), langsung jatuh hati pada lagu ini dan dari The Kop, lagu ini pertama kali membahana di Anfield.

Kepemilikan YNWA sebagai anthem kebangsaan memang bukan hak absolut Liverpudlian. Di seluruh penjuru bumi tecatat setidaknya fans Glasgow Celtic, Borussia Dortmund, FC Kaiserslautern, CSKA Sofia, Rapid Vienna, Dinamo Zagreb, Ajax Amsterdam, Twente, FC St Pauli, FC Tokyo hingga Persipura Jayapura kerap menyanyikan lagu ini. Bahkan Manchaster United lampau sempat menjadi salah satu  unit paduan suara YNWA untuk mengenang tragedi Munich.


Tapi Liverpool dan YNWA-nya rasanya sulit benar dipisahkan. YNWA telah menyatu dalam lambang klub sejak perayaan 100 tahun Merseyside merah. YNWA eksis di gerbang Shankly dan Pasley yang didirikan sebagai penghargaan atas jasa besar keduanya. YNWA menjadi ritus dalam setiap pertandingan kandang Liverpool, dinyanyikan pada 5 menit sebelum dan jelang akhir pertandingan. YNWA dikidungkan dalam setiap peringatan tragedi Hillsborough yang memilukan. Bagi saya pribadi, YNWA adalah landasan filsafat, konstitusi mini, azaz, staat fundamental norm, sejarah, masa kini dan masa depan Liverpool, dan sekali lagi, bahan bakar.


Atas dasar itulah saya getir hingga marah ketika beberapa waktu lalu kalimat ini kerap diplesetkan serampangan. Saya mungkin masih mampu berbagi tawa ketika pemain Liverpool bermain buruk dan menyebalkan. Atau pelatih yang kurang cakap dan lihai membaca alur permainan sehingga layak-olok. Namun menghina YNWA adalah menghina sistem. Aneh betul. Ketika muncul istilah You'll Never Win Again atau tagar #YAWN, saya mencak-mencak di linimasa. Padahal jika ditimbang-timbang semangat YNWA tak secara egois dinikmati Liverpudlian sendirian.

Semisal di Anfield, 3 Maret lalu, awal babak kedua pertandingan Liverpool vs Arsenal berubah menjadi thriller ketika Mikel Arteta yang bertabrakan dengan Jordan Handerson tak kunjung bangkit. Seluruh isi stadion terdiam,  komentator di layar kaca terus bergumam, kami yang menyimak teak habis bercakap hingga paramedis siap mengangkut Arteta yang pingsan ke luar lapangan. Dan momen luar biasa terjadi. Ribuan penonton, dominan Liverpudlian, dari seluruh penjuru tribun serempak mengalunkan standing ovation panjang hingga rombongan bertandu itu hilang dari pandangan. Semuanya seolah menggumamkan pesan: You'll Never Walk Alone, Arteta!
    
Puji Tuhan, sang gelandang Spanyol tak harus menanggung cedera serius. Usai siuman, Arteta menulis surat terbuka yang mengesankan 'It is touching to receive that response from the fans of a great club when I am leaving the pitch injured. Thank you'. Suatu hal yang mendamaikan hati, meskipun saya harus nelangsa karena Liverpool kalah 2-1 pada pertandingan tersebut dan kenyataan mereka tidak mencetak gol sama sekali (satu gol Liverpool merupakan 'sumbangan' dari Laurent Koscielny, pemain belakang Arsenal).

Terakhir, saya tutup tulisan emosional ini dengan satu quote dari Thierry Henry "Supporter Liverpool sangat mengesankan, satu-satunya perasaan dan moment yang aku ingin rasakan ketika bertandang ke Anfield adalah Ketika tersentak melihat para supporter berdiri dan mulai menyanyikan You'll Never Walk Alone. I love it ". Hingga kini saya masih merawat asa agar suatu saat nanti dapat berdiri di The Kop, mengangkat syal merah saya tinggi-tinggi dan bersama meruntuhkan langit dengan nyanyian You'll Never Walk Alone.

Kamis, 25 Oktober 2012

Revolusi!!

01.03 Posted by Arasy Aziz 2 comments
Saya sempat berpikir untuk senantiasa berkomitmen menulis tentang kisah-kisah perjalanan saya di blog ini. Saya memang berniat untuk jadi travel blogger berkelas suatu saat nanti. Tapi, toh, hampir semua manusia akan mengalaminya, rasa jenuh. Terlalu banyak berkutat dengan kisah perjalanan membuat segalanya terasa stagnan, kemampuan menulis saya, pisau analisis, dan banyak hal lainnya. Membiarkan laman-laman ini menganggur terlalu lama pun rasanya merupakan kesia-siaan, sementara tak setiap saat saya diberi kesempatan untuk berkelana. 

Banyak hal yang rasanya menumpuk dipikiran saya, tentang segala hal. Saya mulai menemukan media yang tepat. Dibanding membuat akun blog baru, memanfaatkan situs yang telah ada adalah pilihan yang bijaksana. Maka mulai detik ini, revolusi bermula!!

Jumat, 06 Juli 2012

Malang: Piknik Harum Selecta

06.08 Posted by Arasy Aziz No comments

Dari monopoli hingga piknik yang wangi.

Saya mengenal Selecta jauh sebelum memutuskan untuk melanjutkan studi perguruan tinggi di Malang. Bukan dari buku atau televisi, tapi dari permainan monopoli yang mengisi hari-hari masa kecil saya. Entah mengapa, nama Selecta merupakan salah satu tempat di papan permainan itu yang paling terngiang namanya hingga kini. Bayangan tentang permainan monopoli dan Selecta kembali menyeruak kala saya bersama rekan seorganisasi di kampus berusaha memutuskan untuk kemana hendak melepas penat pasca ujian yang melelahkan. Diselingi debat sengit, akhirnya kami mufakat untuk mengunjungi Selecta.

Deretan bunga dengan latar belakang tulisan Selecta
Selecta merupakan salah satu destinasi favorit warga yang hendak menghabiskan liburan di Kota Batu, sebuah kota wisata yang terletak di barat Malang. Wajar rasanya, mengingat Selecta merupakan destinasi wisata tertua di wilayah Malang raya. Didirikan pada tahun 1930-an oleh Ruyter de Wildt, komplek wisata ini awalnya ditujukan khusus untuk warga Belanda di Indonesia. Nama Selecta sendiri berasal dari kata 'Selecti' yang berarti 'telah dipilih'. Pemilihan nama ini tak lepas dari latar belakang sejarah yang menaungi kawasan ini. Konon de Wildt berkonsultasi dengan seorang raja untuk memutuskan lokasi peristirahatan. Sang raja kemudian mengutus empu untuk memilih lokasi melalui serangkaian ritual. Selanjutnya pada masa perebutan kemerdekaan, Selecta sempat mengalami masa dorman sebelum dihidupkan kembali oleh sekumpulan warga. Hasilnya dapat kita nikmati dewasa ini.

Kolam pemandian tampak dari atas.

Hamparan puspa yang tengah mekar.
Lepas berkendara selama kurang lebih satu jam kami tiba di gerbang masuk. Sejatinya Selecta dibagi atas empat unit wisata yaitu unit rekreasi (seperti kolam renang, fasilitas flying fox, berkuda, dan taman bunga), unit hotel, unit restoran, dan unit kebun buah serta sayuran. Pemandangan pertama yang kami dapati adalah kolam renang dan deretan food court. Kejutan sebenarnya baru kami temukan setelah berjalan beberapa meter lebih jauh ke dalam. Hamparan puspa yang tengah mekar langsung menyergap pandangan di tengah hawa sejuk khas Batu. Saya mengidentifikasi beberapa kembang yang tampak familiar. Usai puas mengambil gambar, kami memilih menduduki salah satu gazebo yang disediakan di tengah taman. Diantara wangi bunga, alas kami gelar, penganan dihidangkan. Dengan menu utama Nasi Pecel racikan sendiri, piknik kami dimulai!

Kelopak yang mekar dari salah bunga.
Seorang pengunjung  ditengah kebun.
Replika Brachiosaurus yang menjulang.

Sekelumit tentang Selecta:
Selecta berlokasi di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Wisata Batu Jawa Timur. # Transportasi Selecta dapat dicapai menggunakan kendaraan umum angkutan kota. Berkendaraan pribadi selama 30-60 menit # HTM 15.000 dengan sejumlah tambahan apabila membawa kendaraan.


Selasa, 29 Mei 2012

Sidoarjo : Ziarah Lumpur Lapindo

07.55 Posted by Arasy Aziz No comments
Matahari menyengat aspal jalanan Malang – Surabaya, pun kami yang sedang melaju diatas tunggangan roda dua, bonceng-membonceng. Kami dalam perjalanan menuju Kota Pahlawan, ketika merencanakan untuk singgah sejenak ke lokasi terjadinya salah satu tragedi kemanusiaan terbesar pasca reformasi. Tragedi ini lebih dikenal sebagai fenomena Lumpur Lapindo.

Tragedi lumpur Lapindo masih berlangsung, dan saat ini membentuk sebuah kolam lumpur raksasa, bahkan bisa disebut danau. Kolam lumpur ini sejatinya merupakan genangan hasil erupsi lumpur dari perut bumi. Untuk mencegah luberan yang semakin tak terkendali, pemerintah berinisiatif untuk membangun tanggul yang mengelilingi kawasan yang telah terlanjur tergenang. Lingkaran tanggul ini kemudian membentuk kolam penampungan lumpur raksasa yang ajaibnya malah dimanfaatkan sebagai destinasi vakansi baru, utamanya oleh wisatawan lokal. Pelawat memanfaatkan tanggul untuk berkeliling melihat-lihat genangan lumpur yang terhampar sejauh mata memandang. Jika malas mengayunkan kaki maka belasan unit ojek siap mengantar. Ojek ini sendiri dapat dikatakan sebagai roda penggerak ekonomi baru yang muncul pasca semburan lumpur.

Seorang Bapak mengajak anaknya melihat lumpur lebih dekat.
SUTET milik PLN yang terendam.
Untuk naik ke atas tanggul kami dimintai uang keikhlasan sebesar Rp 5.000. Kami cukup beruntung karena dapat melanglang jauh menjelajahi area tanggul. Sudah sebulan lamanya warga memblokir aktifitas para petugas BPLS (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo) sehingga tidak ada pekerja yang terlihat berlalu-lalang, termasuk petugas keamanan yang biasanya berjaga-jaga. Kami bahkan leluwasa menuruni tanggul untuk merasakan berdiri di atas endapan lumpur yang telah mengeras sembari mengabadikan gambar. Sungguh tak layak ditiru.

Kawan-kawan merasakan berpijak di atas lumpur panas yang telah mengering.
SeorangKawan memperlihatkan sampel lumpur yang membatu.
Ada beberapa versi mengenai sebab menyeruaknya lumpur panas ke permukaan bumi Sidoarjo. Yang paling popular tentu saja akibat kesalahan PT Lapindo Brantas dalam eksploitasi migas yang mereka usahakan di wilayah Porong, Sidoarjo. Upaya pengeboran ini kemudian menembus endapan lumpur yang tersimpan di bawah perut bumi. Menurut para ahli endapan lumpur ini merupakan bagian dari fenomena gunung lumpur yang juga terdapat di sejumlah wilayah di tanah Jawa. Akibat perhitungan yang salah endapan ini kemudian memaksa keluar ke permukaan, setidaknya 100.000 meter kubik per hari. Alhasil, tak kurang dari 16 desa dan tiga kecamatan dipaksa teredampak dalam tragedi ini. Sejumlah ahli lain mengaitkan fenomena lumpur Sidoarjo dengan gempa yang terjadi di Yogyakarta beberapa bulan sebelumnya.

Coretan Vandal yang menggambarkan jengahnya warga terhadap para perusak.
Mengitari tanggul dengan roda dua.
Enam tahun hampir berlalu sejak semburan pertama terjadi. Lumpur yang dahulu basah bahkan telah mengering terlalu lama saat kami coba pijaki, sementara perubahan berarti terhadap berbagai lini  kehidupaan masyarakat terdampak agaknya masih nihil. Carut-marut dana kompensasi terhadap puluhan ribu warga yang harus kehilangan tempat tinggal bahkan belum selesai. Keluarga besar PT Lapindo Brantas yang paling bertanggung jawab berhasil bermain mata dengan dalih fenomena alam. Ya, fenomena lumpur Lapindo, akibat pendapat sejumlah ahli sebelumnya, digolongkan sebagai amuk bumi yang tak dapat dihindari. Luar biasa bangsa ini. Polemik sejatinya bukan cuma itu. Puluhan pabrik yang turut tenggelam kemudian menghasilkan ribuan angkatan kerja yang harus melanjutkan hari-hari efektifnya di rumah. Sarana pendidikan yang hilang, ancaman kerusakan lingkungan, dan bahaya terhadap kesehatan turut menambah pekerjaan rumah semua pihak yang terlibat. Sembari merenungkan jalannya enam tahun ini, masihkah harus menunggu tahun 2037, sebagaimana prediksi seorang Geolog Inggris, untuk menyelesaikan semua masalah? Agaknya kala itu Sidoarjo sudah ambles, menghilang dari rupa bumi.

Lumpur yang mengering sejauh mata memandang.
Sekelumit Tentang Lumpur Lapindo Sidoarjo:
Semburan lumpur Lapindo terletak di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Lumpur panas pertama kali menyembur pada 29 Mei 2006. # Transportasi : Untuk berkeliling melihat keseluruhan area tersedia ojek motor yang berkenan mengantar dengan bea Rp 10.000- Rp 20.000.

Rabu, 02 Mei 2012

Jakarta : An Amateur Metalhead Journey to the West (Catatan dari Hammersonic Metalfest)

01.24 Posted by Arasy Aziz No comments

Jika dalam cerita rakyat Cina terdapat kisah mengenai perjalanan Sun Gokong mencari kitab suci ke Barat, maka kisah saya agaknya serupa tapi tak sama. Serupa, mengingat saya menempuh perjalanan ribuan kilometer yang amat melelahkan membelah tanah Jawa dari Timur (Malang) menuju Barat (Jakarta), namun dengan tujuan berbeda dengan sang Siluman Kera. Kali ini saya berkesempatan bergabung dalam lautan massa yang menyerbu Lapangan D Senayan dengan satu destinasi: Hammersonic Metal Festival.

Selamat Datang di Ticket Box Hammersonic!

Hammersonic merupakan festival musik metal yang diklaim sebagai yang terbesar di kawasan Asia Tenggara dan menghadirkan 26 band lokal dan internasional, diantaranya Suffocation, Nile, Chthonic, Burgerkill, Deadsquad, dan Seringai. Panitia menyediakan dua panggung kembar bersisian, Hammer Stage dan Sonic Stage, yang memungkinkan penonton menikmati sajian cadas nonstop tanpa diganggu tetek bengek persiapan band. Satu band selesai di salah satu panggung, band di panggung yang lain langsung menggempur, silih berganti.

Backdrop yang disediakan panitia untuk pengunjung yang hendak mengabadikan eksistensinya di festival ini.

Panggung Kembar siap menggempur silih berganti.

Sesuai jadwal tepat pukul 09.30 festival dibuka oleh Straightout, unit Death Metal asal Indonesia, yang kemudian diikuti Funeral Inception (Death Metal, Indonesia), Dead Vertical (Grindcore, Indonesia), Massacre Conspiracy (Metalcore, Malaysia), Down For Life (Indonesia), Dawn Heist (Australia), Human Like Monster (Death Metal, Indonesia) dan Divine Codex (Death Metal, Italia).

Divine Codex, aksi Death Metal asal Italia.

Sejumlah line up terlihat berkeliaran diantara kerumunan penonton. Contohnya personel The Arson Project  ini. 

Matahari yang kian menyengat tak menurunkan atensi penonton ketika Noxa naik ke atas panggung, yang mewarnai aksi mereka dengan sejumlah cacian terhadap Super Junior. Suhu moshpit semakin panas ketika sang vokalis turun panggung dan bergabung dalam tarian liar. Sayang beberapa kali vokal Tonny Pangemanan hilang ditelan instrumen lain akibat mikrofon yang mati. Selanjutnya Impiety (Death Metal, Singapura), The Arson Project (Grindcore, Swedia), Death Vomit (Death Metal, Indonesia), Cyanide Serenity (Inggris), dan Nothnegal (Maladewa) berturut-turut tampil. Ketika GxSxD (Death Metal, Jepang) naik pentas, masalah sound terdengar semakin menjadi-jadi sehingga penampilan band Timur Jauh ini terasa kurang menggigit. Hal ini terbukti ketika acara ditunda beberapa menit untuk perbaikan. Penampilan Seringai dan Koil kemudian menjadi tumbal, dimana durasi tampil kedua band ini terpaksa dikurangi.

Tarian yang semakin liar ketika Tonny, vokalis NOXA, turun ke moshpit.

Krisna Sadrach, muncul di tenda operator panggung.


GxSxD, yang penampilannya terganggu masalah sound.

Penampilan Seringai merupakan salah satu yang paling saya tunggu. Dua hari sebelum festival digelar, unit High Octane asal ibukota ini meluncurkan singel Tragedi di dunia maya untuk diunduh gratis. Sayangnya dalam momen terebut saya masih terjebak dalam kereta ekonomi. Sonic Stage kemudian menjadi saksi ketika Tragedi dibawakan pertama kali diatas panggung. Tragedi sendiri akan menjadi bagian dari album terbaru Seringai, Taring, yang akan dirilis pada Juni 2012. Koil kemudian menyusul. Seperangkat aktivis Industrial Rock asal Kota Kembang ini menggempur dengan (sayangnya) hanya lima lagu, antara lain Aku Lupa Aku Luka, Nyanyikan Lagu Perang, dan Kenyataan Dalam Dunia Fantasi. Aksi banting gitar a la Otong tak luput disajikan. Seringai dan Koil saya catat merupakan dua band yang mengundang koor massal paling meriah.

Dilarang di Bandung, membuka penampilan Seringai.

Koil memikat, dan membanting gitar.

Usai break maghrib 30 menit, festival dilanjutkan oleh penampilan Dreamer, unit Doom Metal lokal yang memamerkan vokalis dan sejumlah lagu baru, seperti War of Kurusetra. Kemudian Chthonic, Band Taiwan yang terasa paling memanjakan mata. Penyebabnya tak lain atas kehadiran bassist Doris Yeh yang namanya tak henti dielu-elukan sepanjang penampilan. Vokalis Freddy Lim sempat memancing tawa karena berulang kali melafalkan, maaf, kata F*ck dalam Bahasa Indonesia (Ng*ntot. Red) dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Taiwan. Sayang satu-satunya lagu mereka yang saya kenal (Bloody Waves of Sorrow. Red) tak dimainkan malam itu. Meskipun demikian penampilan Chthonic malam itu dan balutan musik oriental yang mereka sisipkan mendapat kredit khusus dimata saya.

Menikmati Dreamer dari layar samping panggung.

Doris Yeh, bassist Chthonic, dalam balutan cahaya ungu. Keindahannya biar kami nikmati sendiri.

Usai Chthonic, Sucker Head, salah satu dedengkot Thrash Metal Indonesia, menggempur Sonic Stage. Usia yang semakin beranjak tua agaknya tak menghalangi Oom Krisna Sadrach dkk untuk tampil menghibur. Kemudian D.R.I, band Hardcore legendaris asal Amerika Serikat, sukses mengajak ribuan penonton berpogo ria. Disusul Burgerkill (Indonesia), Psycroptic (Death Metal, Australia), dan Deadsquad (Death Metal, Indonesia).

Burgerkill salah satu aksi metal terbaik tanah air.

Nile kemudian menghentak Hammer Stage dengan alunan Death Metal rapat dengan bebunyian etnik padang pasir (Mesir khususnya). Lepas tengah malam Hammersonic diakhiri oleh penampilan Suffocation, unit (lagi-lagi) Death Metal yang datang jauh-jauh dari Amerika Serikat sebagai salah satu headliner. Selama satu jam vokalis Frank Muller aktif mengajak penonton untuk ber-moshing ria sembari dirinya (seolah) menari Tortor mengikuti gebukan pedal drum. Saya amat berbahagia ketika permintaan encore penonton yang mambahana dipenuhi, sehingga (lagi-lagi) satu-satunya lagu yang saya kenal dari band ini, Infecting the Crypts, digeber diatas panggung, sekaligus menutup secara resmi festival ini.

Para penonton terlihat membiru ketika Suffocation tampil menutup gelaran Hammersonic.

Diantara wajah-wajah yang terpuaskan, terdapat sejumlah hal yang masuk catatan kecil metalhead kelas teri dan bau kencur seperti saya. Pertama, mekanisme antri secara subyektif saya nilai kurang rapi akibat ketiadaan pagar pembatas antrian. Para penonton yang ingin segera masuk awalnya berbaris rapi terlihat berebutan ketika diujung antrian tiba di depan ticket box. Saya sempat  dibuat kesal oleh masalah ini. Kedua, porsi antar sub genre dalam mengisi festival terasa kurang seimbang, dimana band Death Metal mendominasi line up. Barangkali wajar, mengingat salah satu cabang metal ini memang tumbuh bak jamur di musim hujan dalam skena bawah tanah lokal. Contoh kecil, di Ujungberung saja sebagai salah satu wilayah di Kota Bandung tercatat lebih dari 600 band yang bermain di ranah ini (Kimung, dalam Radio Show TV One). Hal ini  barangkali menjadikan band-band Death Metal dipilih sebagai penarik massa sehingga dilebihkan porsinya. Sayangnya, Indonesia juga masih punya ratusan aksi dari sub genre lain, sebut saja Kelelawar Malam, Komunal, Rajasinga, dan masih banyak lagi, yang layak diperkenalkan ke dunia.

Akses Keluar Masuk area festival.
Ketiga, dan yang terpenting, festival ini jelas menjadi ajang  komparasi sembari membuktikan bahwa skill penggiat musik bawah tanah lokal tak jauh berbeda (jika tak mau dibilang melebihi) dibandingkan musisi-musisi luar negeri. Saya dibuat terkagum melihat kemampuan para aksi lokal, Stevie Item dari Deadsquad misalnya,  memainkan nada-nada gitar yang terdengar rumit di telinga saya yang buta nada. Tak kalah memukau dibanding paras Doris Yeh (ah, dia lagi). Terlepas dari semua itu, Hammersonic tetap berhasil, sesuai namanya, memberi sensasi pukulan palu yang bertalu-talu ke wajah dan telinga lebih dari 15.000 manusia beruntung melalui sound ribuan megawatt yang dipertontonkan. Keep metal flag flying high!

Sekelumit tentang Hammersonic Jakarta International Metal Festival:
HTM tahun ini Presale 1 Rp 100.000, Presale 2 Rp 150.000 On the Spot Rp 200.000. # Transportasi : Lapangan D Senayan dapat dijangkau dengan berbagai moda transportasi dalam kota, misalnya Bus PATAS AC jurusan Senen – Ciledug, jurusan Senen – Ciputat, dll. # Akomodasi : Hotel Sultan, Hotel Atlet Century Park, Mesjid Al Azhar, emperan Fx Plaza Senayan (saya mencoba yang terakhir).

Kamis, 16 Februari 2012

Gorontalo : Jejak Sejarah Gorontalo

03.34 Posted by Arasy Aziz No comments
Menelusur jejak sejarah Gorontalo dengan tunggangan sehat kekinian.

Bagi saya bersepeda selalu menjadi kegiatan menyenangkan guna memulai hari dan telah menjadi ritual harian dalam masa liburan ketika SMA dulu. Namun ritus saya pagi ini terasa sedikit berbeda. Kali ini saya bersepeda dalam tujuan merekam jejak sejarah Gorontalo dari berbagai masa diantar 400 tahun lebih usia Kota Gorontalo. Dari beberapa pilihan sepeda saya memilih jenis fixed gear atau fixie. Meskipun telah dikenal sejak awal abad 20, sepeda jenis ini sedang nge-hype dikalangan muda perkotaan sehingga menjadikannya bagian dari budaya kekinian. Akhirnya, perjalanan dimulai. Daerah selatan kota jadi tujuan saya mengingat banyaknya gedung tua wilayah ini.

Saya memilih Mesjid Hunto Sultan Amay sebagai perhentian perdana. Mesjid yang didirikan pada 1495 Masehi ini merupakan tonggak awal peradaban Islam di Gorontalo. Alkisah dimasa lalu Gorontalo dipimpin oleh seorang raja bernama Sultan Amay yang memerintah pada rentang 1472 – 1550 Masehi. Hingga suatu ketika sang raja hendak mempersunting Putri Boki Antungo dari kerajaan Moutong. Sang ayah, Raja Palasay, mengajukan sebuah syarat yakni sang raja Gorontalo haruslah memeluk Islam  dan dibuktikan dengan membangun sebuah mesjid. Sang raja kemudian menyanggupi dan mesjid Hunto Sultan Amay didirikan sebagai mas kawin.

Menara Mesjid menjulang.

Sejumlah bagian mesjid ini tercatat masih dipertahankan keasliannya. Di salah satu sudut saya menemukan sebuah sumur yang konon berumur sama tuanya dengan mesjid itu sendiri. Dengan sedikit pengamatan, saya tersadar bahwa tekstur dinding sumur tersebut mirip dengan tekstur bangunan Benteng Otanaha buatan Portugis di wilayah Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo. Bahan baku keduanya sama, yakni batu kapur dan putih telur Burung Maleo (Macrohepalon maleo) yang zaman dahulu masih banyak ditemukan diseluruh wilayah Gorontalo. Hal ini seolah makin menegaskan nilai historis mesjid ini. Selain sumur, masih ada sejumlah peninggalan sejarah lain seperti bedug, Al Quran bertulis tangan dan mimbar yang konon dibawahnya terdapat makam dari Sultan Amay.

Interior Dalam mesjid dan mimbar yang telah berumur

Puas menengok kedalam mesjid saya melanjutkan perjalanan menuju destinasi berikutnya. Dalam perjalanan saya singgah sejenak di depan Kelenteng yang bersisian dengan Vihara umat Buddha Gorontalo. Desain keduanya relatif modern, agak berbeda dengan sejumlah tempat ibadah sejenis yang pernah saya lihat. Saya tertarik dengan lantunan musik oriental yang menggema dari pengeras suara. Rupanya sejumlah orang tua tengah bersenam di pagi yang relatif mendung ini. Sempat terbesit niat untuk mengambil gamabar namun ada rasa sungkan untuk mengganggu keriaan mereka. Saya melanjutkan menggowes.

Vihara dan Kelenteng terlihat dari belakang.

Tak berapa lama Monumen Nani Wartabone terlihat didepan mata. Tahun 1987 monumen ini didirikan atas prakarsa Drs A Nadjamudin, walikota Gorontalo saat itu, guna mengenang jasa seorang pahlawan nasional  dari Gorontalo, Nani Wartabone. Catatan yang ditorehkan sosok ini tidak main-main. Beliau merupakan proklamator kemerdekaan Gorontalo dari penjajahan Belanda yang memilih menempatkan daerah ini dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini merupakan buntut dari upaya perlawanan rakyat atas rencana Belanda yang hendak membumi-hanguskan tanah Gorontalo pada 28 Desember 1941. Puncaknya pada 23 Januari 1942 dini hari, pihak Belanda berhasil diusir dari Gorontalo. Hingga saat ini tanggal tersebut lebih melekat dalam benak masyarakat Gorontalo dibanding hari ulang tahun Provinsi Gorontalo yang jatuh pada 16 Februari. Kini monumen tersebut berdiri gagah di pelataran Lapangan Taruna Remaja Gorontalo, berhadapan dengan kediaman dinas Gubernur Gorontalo.

Monumen Nani Wartabone menyambut matahari pagi.

Monumen Nani Wartabone merupakan patung sosok Nani Wartabone yang sedang menunjuk ke arah Kantor Pos Kota Gorontalo. Bukan tanpa alasan, mengingat ditempat inilah proklamasi kemerdekaan tersebut dikumandangkan. Letaknya relatif berdekatan dengan lokasi monumen sehingga saya kembali mengayuh sepeda ke lokasi ini. Di halaman kantor pos berdiri sebuah monumen dan prasasti yang mencatat pidato Nani Wartabone dan nama-nama Komite Dua Belas yang terlibat dalam upaya perumusan proklamasi.

Monumen Peringatan proklamasi Gorontalo 23 Januari 1942.

Lama dan Baru. Fixie berpose di depan gedung Kantor Pos Gorontalo.

Hasil Perjuangan. Sebuah Bentor lewat di depan Gedung Nasional yang
merangkap markas LVRI. Tanpa mereka Bentor mungkin tiada. Kaitannya?

Dalam persiapan pulang saya kemudian teringat akan sebuah gedung tua yang terletak di Kelurahan Ipilo, Kecamatan Kota Timur . Dengan energi tersisa saya mengayuhkan pedal ke Gedung Nasional. Deretan angka 1948 yang tertulis dibagian depan agaknya menunjukkan tahun pembangunan gedung ini. Saat ini Gedung Nasional digunakan sebagai markas Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Gorontalo. Sayang sekali saya tak menemukan salah satu diantara mereka. Karena rasa lelah yang mulai melanda, saya memutuskan mengakhiri petualangan. Dalam sela gowesan menuju rumah sempat terpikir ungkapan popular milik Bung Karno 'Jas Mera', jangan sampai melupakan sejarah. Ya, nilai-nilai yang terkandung dalam rangkaian kata-kata singkat ini selalu dalam dan menjadi satu dari selaksa kunci guna meraih esensi sebagai sebuah bangsa yang besar. Bangsa yang besar tak pernah melupakan sejarah, bukan?

Jumat, 10 Februari 2012

Gorontalo : Menjaring Matahari di Torosiaje

00.49 Posted by Arasy Aziz 2 comments
Dalam upaya merajut persahabatan dengan seorang sahabat yang dipisahkan jarak, kami memilih bersua dengan satu dari sekian banyak komunitas Suku Bajo di dunia. Terpisah dari daratan oleh perairan dangkal, mereka berbeda budaya.

Pada 1901 beberapa individu dari Suku Bajo memulai kehidupan baru di perairan dangkal pesisir Popayato, Gorontalo. Komunitas kecil yang berawal dari sekolompok orang yang tinggal di atas perahu ini kemudian berkembang menjadi sebuah perkampungan yang dikenal sebagai Desa Torosiaje. Berawal dari percakapan via sms, saya dan seorang sahabat yang telah terlebih dahulu pulang kampung memutuskan melawat ke desa ini.

Desa Torosiaje terletak di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato. Untuk mencapainya dibutuhkan kesabaran ekstra mengingat waktu tempuh dari Kota Gorontalo yang cukup lama (lebih dari enam jam) menggunakan angkutan mikrolet. Sebuah kondisi yang dapat saja menumbuhkan penat. Tapi kami memilih percaya bahwa semua itu akan dibayar mahal oleh panorama Torosiaje yang memikat.

Di Ujung Kapal, sahabat saya menjemput Bajo.
Dermaga menuju Torosiaje dengan pemandangan hutan bakau di kanan-kiri. 
Pak Saggaf, sang peng-ojek perahu.
Tiba di dermaga, kami disambut oleh salah seorang tukang ojek perahu yang sedari tadi menunggu penumpang. Kami tak sendiri, bersama kami turut sejumlah penduduk yang membawa boks balok es. Ya, ketiadaan alian listrik ke desa ini  membuat sebagian warga yang hendak mengawetkan ikan harus mengambil es dari daratan. Si bapak tadi memberi bonus kecil dengan mengambil rute yang relatif memutar sehingga kami dapat terlebih dahulu mengakrabi perkampungan dari pelbagai sudut. Kesenangan kami kian membuncah saja. Pada akhinya kami diantar ke rumah Pak Tama, salah satu dari dua kepala dusun di Desa Torosiaje guna mengutarakan keinginan kami untuk tinggal semalam di desa ini. Beliau menawarkan kami untuk bermalam di rumahnya, sebuah tawaran menarik yang tak kuasa untuk ditolak. Dari Pak Tama pula kami meperoleh sejumlah cerita menarik tentang kehidupan Suku Bajo di Torosiaje, sembari menikmati jamuan Ikan Baronang Bakar yang kami pesan dari rumah makan miliknya.

Salah satu sudut Torosiaje
Keramba Ikan yang menampung pelihararaan warga.
Bisa dibilang, Suku Bajo merupakan pewaris sejati nilai-nilai dan esensi bahari. Menjalani kehidupan dengan mengarungi samudra, kegiatan sehari-hari mereka sangat bergantung pada laut. Berbeda dengan saudara-saudara mereka di Tilamuta yang telah memilih hidup 'menumpang' di daratan, masyarakat Bajo Torosiaje tetap memilih mepertahankan tradisi nenek moyang mereka dengan tinggal di atas air.  Upaya Suku Bajo dalam menghargai kearifan alam pun masih terasa hingga kini. Sejumlah orang dari Suku Bajo Torosiaje bahu membahu bersama pemerintah menjadi agen penyelamat ekosistem mangrove, dimana Pak Tama merupakan koordinatornya.

Siluet rumah-rumah masyarakat berlatar matahari seujung tombak.

Di dunia, Suku Bajo Torosiaje bukanlah satu-satunya komunitas. Tercatat Suku Bajo membentuk koloni di sejumlah   titik. Menurut Pak Tama, pada 2012 ini akan diadakan Festival Suku Bajo berpusat di Torosiaje yang akan menjadi ajang reuni kultur Bajo dari berbagai belahan bumi. Setiap komunitas suku pelaut ini pada dasarnya memiliki akar budaya yang sama. Ditilik sejarahnya, mereka berasal dari para pelaut ulung Bugis yang memilih meninggalkan daratan. Hal ini dibuktikan pula dengan adanya Pelabuhan Bajoe di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Selain itu dalam tradisi perayaan Maulid Nabi sejumlah kelengkapan Bugis masih digunakan., dimana dalam lawatan kami kali ini rupanya bertepatan dengan agenda tersebut. Saya sendiri sempat menceritakan perihal darah Bugis yang mengalir di tubuh saya, yang kemudian disambut cemoohan jenaka Pak Tama mengingat saya tak bisa berenang dan berbahasa Bugis layaknya orang Bugis pada umumnya. Saya tersipu malu.




Gambaran Sore di perkampungan Bajo.

Dalam percakapan kami dengan Pak Tama tersirat sedikit nada kecewa akan inisiasi pemerintah dalam membangun jembatan penghubung antar rumah yang digalakkan beberapa tahun silam. Hal ini menyebabkan kebiasaan mengunjungi tetangga yang harus dilakukan dengan menggunakan perahu mulai pudar. Lalu lintas perairan Torosiaje kini tak seramai dulu. Pembangunan memang kerap kali berubah layaknya pedang bermata dua, dimana sejumlah aspek harus rela dikorbankan.

Senja dari celah rumah warga Torosiaje.
Jelang senja kami meminta izin untuk meninggalkan rumah guna menjaring matahari. Pengalaman langka menyimak detik-detik matahari terbenam di ufuk Teluk Tomini melalui celah rumah-rumah Suku Bajo memang merupakan salah satu tujuan utama kami menyambangi perkampungan ini. Ketika surya semakin menyusup ke horizon langit, ketika itu pula saya semakin terkagum akan kelihaian sang Maha Indah. Saat-saat syahdu sempat saya rasakan pula ketika irama semenanjung favorit milik Victor Hutabarat, Di Ambang Sore, terngiang di telinga. Paripurna.

Sekelumit Tentang Desa Torosiaje


Baronang Bakar siap disantap.

Transportasi Gunakan angkutan mikrolet jurusan Kota Gorontalo – Popayato dengan tarif Rp 50.000 – Rp 65.000. Untuk mengincar perjalanan yang lebih pagi gunakan angkutan mikrolet “spekulan” jurusan Kota Gorontalo – Marisa bertarif Rp 35.000 kemudian berpindah jurusan Marisa – Popayato bertarif Rp 30.000. Penyeberangan dari dermaga menuju ke perkampungan menggunakan perahu katinting dengan biaya sewa Rp 5.000 dan dapat bertambah apabila anda memutuskan berkeliling dahulu.  Akomodasi Tersedia penginapan yang dikelola warga setempat bertarif Rp 100.000/malam. Konsumsi Sejumlah rumah makan, seperti Rumah Makan Gowa Pratama milik Pak Tama menawarkan paket hidangan Ikan Bakar bertarif mulai dari Rp 25.000. Kontak Bapak Akbar Dg Mile 


some parts of this post inspired from @ImaMuharram's tweet, thanks dude :)