Fiat Lux

Sabtu, 14 Januari 2017

Tentang Rumahku (1)

08.07 Posted by Arasy Aziz , No comments

Pernahkah kamu merasa karib pada detil-detil yang, ganjilnya, baru pertama kali kamu sambangi; terasa seperti rumah sendiri, seakan-akan perjalananmu adalah sebuah kepulangan kedua?

Sensasi itu saya rasakan beberapa bulan silam, di kepulauan Banda.

Suatu waktu, sekadar membiarkan namanya terbersit di benak saja sudah mendirikan bulu-bulu roma. Membayangkan sebuah ziarah kepada muasal sejarah bangsa Indonesia, latar lintas zaman bagi banyak cerita kita.

Awalnya saya pikir, merinding tak lain merupakan efek samping dari kegirang yang meluap-luap. Serupa girang seorang anak pada awal dekade 2000-an yang pada suatu malam diperbolehkan membeli Tamiya, setelah berhari-hari hanya bisa memandang iri temannya beradu balap dari pinggir lintasan. “Besok, ikut Ayah ke pasar.” Girang bukan main, hingga jarak antara satu menit dengan menit yang lain tampak jauh berlipat-lipat. Rasa girang yang meluap-luap itu cairannya tumpah hingga membanjiri tengkuk tempat seluruh bulu roma berkerumun. Bulu roma, bagaimanapun, adalah bulu-bulu yang amat muda. Ketika air tumpah dari atas, tanpa sadar satu persatu akan mulai menari mengira hujan tengah turun.


Dapat dikatakan, saya memang menanti-nanti perjalanan Banda Naira, dan kepulauan Banda secara umum, setelah bertahun membayangkan kebersahajaan kawasan ini justru dari unit folk nelangsa dengan nama serupa. Atau diungkit secuil dalam edaran biografi singkat Bung Hatta di internet (sayang sekali saya belum membaca autobiografinya yang tiga jilid itu).  Ide perjalanan ke Banda Naira barangkali merupakan salah satu yang paling membangkitkan gairah vakansi saya. Sejak dimulai perencanaannya, hingga tubuh saya perlahan meniti tangga kapal penumpang yang sesekali bergoyang di lamun ombak Tual. 

Belakangan, kegirangan berganti dengan perasaan yang lain. Rasa girang tetaplah pemicu perjalanan yang penting. Titik pijak bagi alunan kaki saya, namun campur tangannya berhenti disana. Sementara itu, katalisator koor bulu roma sesungguhnya tengah bersembunyi, menunggu saya di Banda. Mewujud dalam pribadi manusia-manusianya, serta detil-detil yang memanjakan seluruh indera.

***

KM Tidar yang membawa saya perlahan-lahan memasuki perairan pesisir kepulauan Banda. Ratusan ton beratnya, berkelok di selat antara gunung api Banda dan pulau Banda Besar. Air asin berwarna biru kelam, tanda kedalaman, berganti dengan warna-warna toska yang menyegarkan. Jika saja bisa berenang, saya barangkali sudah meloncat dari ketinggian selasar kapal ke laut di bawah sana. Menoleh ke kanan, dermaga pelabuhan Banda Naira tampak semakin dekat.

Dari atas kapal, saya dapat melihat gerombolan orang asing yang tengah mengaso di halaman belakang sebuah bangunan yang tampaknya adalah penginapan. Letaknya persis bersebelahan dengan pelabuhan. Beberapa penumpang yang berkerumun di tepian anjungan melambai-lambai kepada mereka dengan antusias. Mencoba menarik atensi, berbagi fokus dengan tumpukan barang bawaan masing-masing. “Mister! Mister!” Sebagian dari mereka akan turun di pelabuhan Banda Naira sebagaimana saya. Dari kejauhan, sang lawan interaksi tampak tersenyum-senyum tipis saja.

Butuh beberapa menit hingga kapal akhirnya benar-benar sandar di beton dermaga yang menjorok ke laut. Butuh tambahan bebeberapa menit setelahnya hingga kaki saya akhirnya benar-benar menjejak tanah Banda. Saya berjalan sendirian, perlahan-lahan, di tengah kerumunan penumpang kapal yang berlalu menuju gedung pelabuhan. Gelombang ini bertemu dengan gelombang lain, campuran dari kulit angkut dan keluarga penjemput yang berebut masuk ke kapal. Di pundak sebagian mereka, tersemat karung-karung penuh yang menguar aroma yang teramat memanjakan penciuman. Bau legendaris yang menggoda bangsa Eropa untuk menjelajah Samudra Atlantik Selatan dan Hindia berabad silam. Karung-karung pala dan cengkih dinaikkan ke kapal.


Terselip sebiji distraksi di sela gelombang manusia yang setengah bergegas itu,  Tak jauh dari saya, seseorang tengah menjebak diri dalam sujud yang panjang. Tak peduli dengan panas beton yang terbakar matahari dan orang-orang yang beranjak, tak kunjung bangun hingga setidaknya beberapa menit. Saya menebak-nebak, dia adalah perantau yang bertahun-tahun lamanya meninggalkan Banda Naira, tertatih mengumpul seperak dua agar dapat pulang. Barangkali baru saja berkata cukup pada perjudian dengan hidup, di salah satu kota besar tempat singgah KM Tidar. Ketika saya mengembalikan pandangan ke arah depan, beberapa wanita tampak berlari menerobos penjagaan pelabuhan. Dua orang hampir menabrak saya, sebelum menggeser langkah sedikit ke kanan dan kiri. Bersisa angin kibasan tubuh. Di tengah dermaga, belahan-belahan keluarga ini bertemu, melepas haru. Sang priayang masih setengah berlutut menyambut pelukan penjemputnya.

Pemandangan  ultra sinematik. Melihat masing-masing tenggelam dalam syukur, adalah  ramah tamah  pembuka dari Banda Naira yang amat berkesan.

Saya tidak disambut siapa-siapa ketika keluar dari pintu pelabuhan. Mengingat matahari telah tepat di atas kepala, saya memutuskan untuk memulai penelusuran dari desa Lonthoir, pulau Banda Besar. Waktu menjelajah Banda Naira saya sisakan di sore hari, sembari mencari penginapan nantinya. Untuk saat ini, saya perlu menyeberang terlebih dahulu.


Menurut informasi yang saya peroleh dari internet, di Lonthoir-lah kebun-kebun pala tertua di kepulauan Banda masih dibudidayakan dan berproduksi. Kepada penjaga pelabuhan, saya bertanya mengenai cara menyeberang ke sana. Dengan baik ia mengarahkan saya ke dermaga pelabuhan nelayan, beberapa ratus meter di sisi lain Banda Naira. Berjalan kaki melalui pasar kecamatan. Di dermaga telah menunggu beberapa kapal yang akan membawa penumpang ke beragam tujuan di memasing pulau di Banda. Saya memilih kapal menuju Lonthoir, bersama penumpang lain.

Saya menduduki satu bagian bangku di pojokan, mengawasi lambung kapal yang hampir terisi penuh dengan orang-orang yang naik satu persatu.  Di sebelah saya berdiam seorang pria paruh baya dengan mata cokelat buram dan paras serupa Eropa. Tampak mencolok dibanding penumpang lain yang berkulit cokelat gelap. Kepada saya, mereka, termasuk pria Indo tadi, melempar senyum. Salah satu diantaranya membuka percakapan, menanyakan asal saya.

“Saya dari Malang, pak. Barusan turun dari Tidar, naik dari Tual.”

Penumpang yang lain, seorang pria tua berwajah ramah dengan perawakan kecil, menimpali bahwa menantunya rupanya berbagi kapal yang sama dengan saya. Ia menunjuk seorang wanita yang sibuk dengan bayi di ujung lambung kapal, dan memperkenalkan pria di sebelahnya sebagai anaknya. Sang mantu adalah seorang keturunan penduduk asli Banda yang kini bermukim di Banda Eli, ssalah atu ohoi di Maluku Tenggara. Ia mulai menanyakan tujuan saya melanglang ke Banda. Baronda-ronda, dalam bahasa setempat.

“Ingin melihat kebun Pala,” saya katakan.

“Wah, kalo di Lonthoir memang banyak kebun pala,” sang penanya pertama kembali menimpali. “Kalau mau, nanti saya antarkan ke salah satunya.”

Ditengah siang yang seterik ini, tawaran orang ini sungguh menggiurkan. Akan sangat memudahkan bagi saya untuk segera sampai ke tujuan. Di sisi lain, saya tak menyangka ia akan begitu saja menawarkan diri kepada saya yang sesungguhnya asing. Sayangnya, saya teringat bahwa waktu shalat Jumat akan segera tiba.

Tawaran tersebut kemudian terpaksa saya tolak. Pria baik tersebut tampak sedikit kecewa. Sebagai gantinya, ia memberi tahu beberapa lokasi yang layak dikunjungi. “Pokoknya nanti tanya saja ke orang-orang. Nanti mereka kasih tunjuk.” Di dermaga desa Lonthoir, kami semua berpisah jalan. Saya bergegas menuju masjid. Adzan sudah berkumandang di langit.


Keputusan untuk tetap mendirikan sholat Jumat rupanya tak buruk-buruk amat. Pertama-tama, bebauan harum semakin tajam semakin saya mendekati masjid. Kejutan. Tepat disampingnya, terhampar kebun pala meskipun tak benar-benar luas. Di dalamnya berdiri belasan pohon.  Dapat saya rasakan kedua mata saya berbinar-binar. Saya mengamati bebuahan pala yang mekar dari bawah. Dagingnya yang terbelah menampilkan biji berbungkus urat-urat merah. Komoditas mahal, penyedap rasa sekaligus ramuan hangat bernama fuli. Kegiatan ini saya lanjutkan hingga bermenit-menit seusai shalat Jumat ditunaikan.

Cukup puas, saya melanjutkan penjelajahan saya di Lonthoir. Kali ini saya menjajal situs tangga-tangga yang anak pertamanya dimulai beberapa meter dari masjid. Baru setengah jalan, ketinggian tangga dengan kemiringan hampir 70 derajat mulai menguras tenaga saya. Saya berpapasan dengan seorang gadis setempat yang berlalu enteng saja. Melihat saya mengambil nafas, ia tersenyum-senyum sendiri. Saya membalasnya dengan kecut, menahan diri untuk tidak mengatai diri sendiri. Sebagaimana diceritakan Maria di KM Tidar, ada pantangan yang melarang kita mengeluh saat menaiki tangga-tangga. “Teman saya,” ujarnya, “langsung nda bisa bangun dari tempat tidur berhari-hari gara-gara mengeluh. Betulan itu pantangan.”

Saya cukup lega karena akhirnya dapat mencapai puncak tangga-tangga. Kepada dua orang remaja beririsan jalan, saya meminta arah menuju pemakaman Belanda di Banda yang juga kesohor. Mereka melempar telunjuk ke satu arah. “Nanti di sana belok kanan, baru dapat sumur keramat.”

Saya mengikuti arah yang mereka tunjukkan. Berpapasan dengan sumur keramat, kemudian menanjak kembali ke puncak bukit. Sesampainya di sana, saya sedikit terkejut. Alih-alih komplek perkuburan tua, yang saya temui justru barisan nisan pemakaman desa dengan pohon-pohon kamboja segar. Di rumah terdekat, saya kembali bertanya arah kepada seorang lelaki dewasa yang duduk terkantuk-kantuk di teras. Ia bangkit dari kursi plastiknya, menjelaskan sedikit, lalu memanggil anaknya di dalam. “Coba antar dulu ini mas ke Kubur Satu Jengkal”. Kubur Satu Jengkal adalah situs sejarah lain yang rupanya berlokasi di pemakaman tersebut. Namanya menggambarkan secara harfiah ukuran makam yang memang amat kecil. Mitos mengatakan, ukuran kuburan pada mulanya normal dewasa dan menyusut seiring waktu.

Saya mencoba menolak bantuannya, sedikit merasa sungkan karena mengganggu waktu istirahat siang. Namun si anak membalasnya dengan ajakan ramah. Bersamanya saya menelusuri celah-celah petak kuburan hingga ke tengah, lokasi situs berada. Untuk kedua kalinya dalam sehari, saya bertemu keramahan yang tak dibuat-buat.


Setelahnya, destinasi saya bergeser menuju benteng Hollandia, satu-satunya tangsi pertahanan kolonial di Lonthoir. Karena kelelahan, saya memutuskan mampir ke salah satu warung sembari meminta izin menumpang beristirahat. Tenggorokan terlanjur kering setelah beberapa jam berjalan kaki. Dalam sekali dua teguk, sebotol air mineral yang saya beli tandas. Si pemilik warung sibuk mencari kutu di sela lebat rambut anaknya. Kepadanya saya bertanya arah menuju Hollandia. Percakapan berkembang ke arah yang penuh kejutan.

“Saya dari Malang, tapi aslinya dari Gorontalo,” ucap saya kepada sang ibu. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Rita Martinus. Jawabannya membuat saya tertarik lebih jauh.

“Saya punya keluarga di Gorontalo,” sembari tetap menekuni kepala anaknya.

“Tinggal dimana?”

“Di kota. Tapi sekarang sudah di Jakarta. Namanya Norman Kamaru.”

Saya terperanjat. Siapa orang di bawah langit Gorontalo yang tidak mengenal nama ini; ex-anggota Brimob yang terkenal karena ber-lipsync lagu India, belakangan memilih fokus pada dunia tarik suara. Dalam karirnya yang pendek, ia dipuja-puja sebagai wajah Gorontalo. Definisi paripurna dalam versi nestapa atas pameo legendaris Andy Warhol.; dimasa depan, orang-orang akan terkenal dalam 15 menit.

Sudah jadi rahasia umum bahwa ibunda Norman Kamaru berasal dari kepulauan Maluku. Tiba-tiba saja saya terduduk di rumah masa kecilnya. Tiba-tiba saja orang-orang ini terasa terhubung dengan saya.

Badai de javu belum tuntas. Seseorang kemudian menyambangi warung Rita di tengah percakapan kami. Segera saya kenali ia sebagai anak dari pria tua yang bercakap dengan saya di kapal penyeberangan. Ia tersenyum sepintas, lalu masuk ke warung menuntaskan tujuannya. Sebelum berlalu kembali ke rumahnya, ia menawari saya agar mampir. “Saya masih beristirahat, Bang.”  Ia menjawab dengan senyum yang lain, kemudian undur diri.

Beberapa menit kemudian, ayahnya datang tergopoh-gopoh dari belokan jalan. Mukanya tampak berseri-seri, senyum mengembang terekam dari jauh. Ia menyapa saya hangat, kebapakan, menjabat tangan saya erat. Kembali memperkenlkan saya kepada Rita sebagai orang yang berbagi cakap di atas kapal.

“Sudah baronda ke mana saja? Mampir makan dulu di rumah!”

Pada titik ini, saya merasakan sebuah sensasi yang ganjil. Orang-orang Banda memang terkenal akan keramahannya, namun baru kali ini saya dapat menyaksikannya secara langsung. Mereka menghampiri saya seolah-olah  menjenguk tetangga yang baru pulang dari kota. Menyiapkan telinga untuk kisah-kisah yang barangkali dilebih-lebihkan. Tak sungkan untuk mengundang mampir ke rumah, menawarkan kue-kue hangat dan jika perlu tempat menginap. Yang terasa adalah rasa hangat di tengah orang-orang yang seolah telah bersilangan jalan dalam hidup saya bertahun-tahun. Tetiba saja, saya merasa telah lama menghuni desa dan gugus pulau-pulau ini. Lonthoir dan Kepulauan Banda. Tiba-tiba saja, saya merasa tengah berada di bawah atap rumah kedua.

Saya bercakap-cakap cukup lama dengan dua orang tersebut; Rita Martinus dan si bapak bernama Hud Robo. Rupanya, saya akan berbagi kapal dengan orang yang saya sebut belakangan, pun dengan tujuan berbeda. Hud  akan turun di pelabuhan Amahai, Maluku Tengah. Di pulau Seram ia akan berdagang, mengisi hari-hari pengganti rutinitasnya sebagai petani pala serabutan.

Belakangan, adik Rita bergabung dari dalam rumah. Pria ini memperkenalkan dirinya sebagai Fadlun Martinus. Jika tersenyum lebar, geligi Fadlun yang rontok di beberapa bagian turut mengembang. Saya tersadar telah duduk terlalu lama di beranda rumah Rita. Menengok sebentar ke jam digital di smartphone saya, waktu telah menunjukkan pukul 2 siang. Saya beranjak, bergegas pamit kepada tiga orang baik hati yang telah menerima saya.  Satu persatu saya menjabati tangan-tangan mereka yang liat. Kepada Hud Robo, saya berjanji untuk bertemu kembali dengannya besok di atas kapal. Ia sempat menawari saya untuk menginap saja di rumah saudaranya sembari menunggu kapal. Saya memilih untuk tinggal di penginapan saja agar tak merepotkan lebih jauh. Lagipula, ia merencanakan menyeberang kembali ketika hari sudah sore. Pada saat itu, saya harusnya sudah berkeliling Banda Naira.

Badan saya sesungguhnya mulai terasa letih, apalagi matahari semakin menyala menggila. Terasa sejengkal saja di atas kepala. Namun memilih kembali ke Naira sekarang jelas pilihan yang tak bijak. Tinggal satu situs desa Lonthoir yang belum disambangi di daftar saya, benteng Hollandia. Tanggung sekali. Akhirnya saya mulai menyusuri jalan masuk menuju benteng yang terselip di antara rumah warga. Berupa sepetak titian tanah dengan pepohonan di kanan-kirinya. Hollandia sendiri dibangun pada abad ke-17 di atas ketinggian sebuah bukit. Bangunannya menghadap ke selat antara Banda Besar dan gunung api Banda. Dari puncaknya, pengamanan kolonial mengawasi lalu lintas kapal di pelabuhan Banda Naira.


Langkah saya sedikit tertatih-tatih. Semakin lama, salah satu sisi dinding semakin tampak dekat dengan latar puncak gunung api Banda. Mata saya mulai dapat menangkap detil-detil tekstur bangunan. Warna batu andesit yang menyusunnya mulai berubah kecokelatan, dengan lumut menjalar di sana-sini. Sejenak, saya membiarkan tangan saya menjelajah. Agar lebih puas mengamati, saya bergeser semakin ke depan mencari pintu masuk benteng.


Sebelum menemukannya, penorama yang sedari tadi tertutupi dan hanya tampak sepintas-pintas mulai membentuk dalam cakrawala yang lebih luas. Saya terkesiap, darah terasa mendesir berlomba menuju ke atas kepala. Tengkuk saya meremang diserang gelombang gaduh kebangkitan bebuluan roma. Tanpa ampun, saya mengerahkan tenaga untuk berlari memasuki benteng. Di salah satu sisi bagian dalam benteng tersandar seunit tangga kayu guna menjangkau puncak sisa-sisa bastion. Bergegas menaikinya, melempar tas saya sekenanya pada ruang lapang dipuncaknya, lalu menatap bentang alam yang kini terlihat semakin jelas dari ketinggian. Saya tenggelam mematung bermenit-menit, menyisakan bibir semata yang terus bergerak melantun puja-puji kebesaran pencipta semesta. Kombinasi hormonal berganti-ganti dengan cepat, lalu menyisakan haru yang panjang yang terasa di ujung mata.


Inilah klimaks perjalanan saya di Lonthoir. Di hadapan saya terbentang lanskap gunung api Banda yang diitari lautan dangkal kehijauan. Teduh, teramat tenang, serupa giok yang jatuh dari langit.

(Bersambung ke Tentang Rumahku - Part 2)

Sekelumit tentang Desa Lonthoir, Pulau Banda Besar:
Desa Lonthoir merupakan desa tertua di kepulauan Banda, terletak di pulau Banda Besar. Dapat dicapai dengan kapal kecil dari dermaga perikanan Banda Naira. Untuk menyeberang dikenakan tarif Rp 5.000 sekali jalan. Mengelilingi seluruh desa dapat dilakukan dengan berjalan kaki atau menyewa ojek dengan tarif sekitar Rp. 100.000 (dengan rute menjangkau seluruh pulau Banda Besar).


P.S  : Judul “Tentang Rumahku” diambil dari judul album unit folk asal Bali, Dialog Dini Hari. Kawan yang pas menemani waktu sore hari di Banda. 

Rabu, 04 Januari 2017

Di Atas Kapal Kertas

02.58 Posted by Arasy Aziz , 2 comments

Saya gelisah. Saya gelisah sendirian di atas KM Tidar yang bergerak perlahan membelah laut Banda. Sebidang laut yang tak kurang 500.000 km2 luasnya, dengan titik terdalam mencapai 6,5 km. Menoleh ke kanan, lautan biru. Menoleh ke kiri pun, hanya ada jutaan kubik air dalam jarak pandang tak hingga. Jam digital di smartphone saya telah menunjukkan pukul 8 pagi, namun belum ada tanda-tanda kapal akan segera merapat. Belum tampak daratan.

Sekali lagi saya merogoh dompet, mengecek detil-detil perjalanan yang tercantum pada tiket kapal yang terselip di dalamnya. “Sialan,” ujar saya dalam hati, “jam segini harusnya saya sudah sampai,” mengacu pada waktu ketibaan ideal yang tertera di sana.

Umpatan ini bahkan telah meluncur berjam-jam sebelumnya, terus kembali ke selisih bibir saya ulang berulang. Pun tindakan sia-sia mengecek tiket perjalanan. Mengeluarkannya, sebentar membiarkan mata saya meneliti, kemudian memasukkannya kembali. Di atas KM Tidar, tindakan-tindakan sederhana nan repetitif semacam itu pun tetiba jadi bermutu. Sekurang-kurangnya bagi upaya mengusir jenuh. Lebih dari 10 jam telah berlalu sejak kapal meninggalkan pelabuhan Tual tempat saya naik. Kesalahan terbesarnya, saya tak membawa satupun buku untuk dibaca sebagai teman perjalanan.


Bagaimanapun ini adalah kali pertama, setelah belasan tahun saya kembali menumpang kapal Pelni. Dalam selang waktu yang lama itu, saya lebih banyak bepergian dengan moda transportasi yang lain, menawarkan durasi perjalanan yang lebih efisien. Semisal ketika menuju Tual, kota tempat saya bekerja beberapa bulan silam. Dalam situasi normal, perjalanan pulang pergi Malang-Ambon-Tual dapat ditempuh dengan pesawat udara. Total durasi bersih perjalanan kurang dari 3,5 jam.

Namun kali ini sedikit pengorbanan  perlu dilakukan. Jauh hari saya memutuskan mengalihkan budget transportasi udara ke dalam perjalanan dengan kapal laut. Legenda dari sebuah kepulauan terasing di tengah laut Banda telah mengerek sesuatu dari sanubari saya. Mendengar namanya berulang di dalam benak, berkali-kali mendirikan bulu roma. Sebuah perasaan rindu akan tanahnya seumur hidup tak pernah terjejak. Fernweh.

Banda Naira memanggil saya pulang. Kebosanan ini akan segera terbayar beberapa jam lagi.

***

Malam sebelumnya di pelabuhan Tual.

Saya gelisah. Sebuah kegelisahan permulaan yang menjelaskan kegelisahan yang lain. KM Tidar yang hendaknya membawa saya ke Banda Naira tak kunjung datang. Terlambat berjam-jam dari jadwal keberangkatan yang ditetapkan pukul 17. Beruntungnya, kali ini saya gelisah tak sendirian. Larson, tukang ojek kawan saya di Tual, berkali-kali berusaha menenangkan. Ia telah menemani saya sejak siang hari, dan belum beranjak. “Wajar ini. Biasanya kapal memang belum datang jam segini.”

Saya tersenyum padanya, berterima kasih atas upayanya. Diam-diam, tatapan mata saya kembali menaut kepada dermaga pelabuhan. Masih belum ada tanda-tanda kapal merapat.


Kegelisahan saya yang berkali-kali ini agaknya beralasan, mengingat betapa rencana perjalanan saya di Banda Naira terentang pada waktu yang amat terbatas. Kurang dari sehari semalam, terhitung sejak kapal tiba (apabila tepat waktu) di pelabuhan Banda di hari Jumat, hingga waktu keberangkatan kapal Pelni berikutnya yang akan membawa saya ke Ambon pada Sabtu subuh. Di luar itu, tak ada alternatif kendara lain yang mampu bersinergi dengan jadwal pesawat saya di hari Minggu.

Saya sempat berharap pada pilihan kapal cepat Banda-Ambon yang tersedia dua kali seminggu. Salah satunya akan berangkat di hari Minggu dengan estimasi waktu 5 hingga 6 jam. “Tepat sekali!”, cetus saya, sebuah kegembiraan yang terlalu dini. Belakangan saya ketahui, kapal cepat diberangkatkan sekira pukul 10. Artinya, saya akan berkejaran dengan waktu ketika check in. Belum lagi menimbang lokasi pelabuhan tujuan di Tulehu, sebuah kecamatan yang berjarak 1 jam dari kota Ambon. Pilihan ini saya kubur dalam-dalam. Mungkin lain kali.

Saya mulai khawatir tak dapat menjangkau seluruh detil Banda Naira yang jauh bergelayut di dalam imaji. Setidak-tidaknya pada apa-apa yang telah saya sesuaikan dengan waktu yang amat terbatas. Keseluruhan kepulauan, saya sadari sejak semula, tentulah tak akan cukup dijelajahi dalam sehari.

Pukul 9 kurang, suara parau teramat kencang tetiba membelah udara dari laut sebelah utara kota Berulang tiga kali, mengencang dan terasa semakin dekat sumbernya. Suara terompet kapal. Terbit cahaya dari wajah-wajah putus asa calon penumpang yang barangkali telah menunggu jauh lebih lama dari saya. Memutuskan bangun dari duduk panjang, lalu mulai menyiapkan barang bawaan. Sebagian yang lain, termasuk saya dan Larson, memilih mendekat ke celah yang sedikit terbuka di dinding pelabuhan, memberi vista pada lautan yang gelap. “Kapal so datang,” ujar Larson. Dimulai dari haluannya, lalu anjungan tujuh lantai yang terang benderang dan tampak kukuh mencakar langit. Kontras dengan latar langit malam di belakangnya yang pekat. Antusiasme saya akan perjalanan ini segera terisi kembali. Beberapa menit kemudian, seluruh calon penumpang akhirnya dipersilakan untuk naik ke kapal.


Pada momen ini, nuansa di seputar saya tetiba menjadi sentimental. Sebelum masuk ke ruang tunggu, saya berbalik kepada Larson, yang sedari tadi tampak tenang-tenang saja, untuk meyampaikan salam perpisahan. Entah kapan kami berdua dapat bertemu kembali, mengingat perjalanan ke Tual barangkali adalah jenis perjalanan sekali seumur hidup. Melalui lampu pelabuhan yang menerangi wajahnya samar-samar, saya melihat kedua mata Larson memerah. Ia menangis diam-diam.

“Saya menyesal nda bisa ngasih kamu bekal apa-apa,” ujarnya lirih. Saya berusaha meyakinkan ia bahwa bekal yang saya bawa lebih dari cukup. Kami berjabat tangan erat. Sosok di hadapan saya ini, bagaimanapun, telah menjadi kawan setia selama perjalanan saya di Maluku Tenggara. Rutin menjemput saya ke bandara, lalu mengantar ke kantor-kantor tanpa bosan. Kadang-kadang tanpa diduga, ia membawakan saya sekantung jambu air dari pohon belakang rumahnya. Darinya, saya memperoleh sudut pandang yang sederhana, namun layak simak, tentang hidup di kepulauan Kei. Sosok polos yang, bersama keluarganya, lebaran idul adha tahun silam luput menyantap daging kurban. Beberapa bulan terakhir, ia adalah tokoh penting dalam cerita saya.

Usai memberikan ongkos untuk ojeknya hari ini, saya mempersilakan dia untuk pulang terlebih dahulu. Sekali lagi ia mengingatkan agar saya berhati-hati dengan barang bawaan, sebelum berlalu pergi. Di tengah kerumunan yang berdesakan, ia menyempatkan diri untuk berbalik, lalu melambai kembali. Saya membalasnya dengan anggukan kecil dan senyum selebar mungkin. Sebentar kemudian saya  telah melangkah menyambut dermaga. Pintu masuk kapal terbentang beberapa meter di depan sana.

Di muara tangga naik ke KM Tidar, saya mendadak harus berjuang. Ketiadaan sistem antrean yang jelas menciptakan pertempuran kecil-kecilan antara ibu-ibu brutal, manula, kardus-kardus serta barang bawaan yang oversize, dan saya terjebak ditengah-tengahnya. Dorong mendorong terjadi, kadang-kadang dalam tenaga yang cukup membuat nyeri. Butuh usaha ekstra agar tetap dapat bernafas dengan baik, sembari tetap awas atas keselamatan ransel saya. Kalau-kalau ada anak kecil yang terjepit di tengah pun perlu diantisipasi. Situasi kaeos ini bahkan tak dapat ditangani oleh seorang perwira Angkatan Darat yang, ganjilnya, tengah berjaga. Amukannya tenggelam, menjadi tak signifikan di tengah seruan riuh rendah bernada putus asa dalam bahasa lokal. Lima menit kemudian, akhirnya saya berhasil membebaskan diri dari kerumunan. Di pintu kapal, seorang Anak Buah Kapal (ABK) menunggu sembari sesekali mengawasi tumpukan manusia di dermaga. Kepadanya saya bertanya lokasi ruangan tempat saya menginap.


Saya sedikit beruntung karena telah membeli tiket jauh sebelum tanggal keberangkatan, sehingga memperoleh kamar di atas KM Tidar. Terhitung sejak pertengahan tahun 2015, Pelni sejatinya memberlakukan sistem baru dengan menghapus kelas-kelas di atas kapal. Kini, tiada lagi hierarki berbentuk kelas 1, 2, 3 dan Ekonomi melalui penggolongan kamar tidur. Namun, masih ada celah kenyamanan. Beriring sistem kelas tunggal, diperkenalkan mekanisme ticketing baru dengan prinsip first come, first serve. Mereka yang membeli tiket lebih dahulu berkesempatan tidur di ruangan yang dulunya merupakan kamar kelas 1, 2 maupun 3.  Sementara mereka yang membeli tiket belakangan masih harus mengadu diri untuk mencari kasur di kabin ekonomi yang serupa barak. Alasan sesungguhnya di balik pertempuran kecil di dermaga. Apabila tak mendapat tempat, pojok manapun yang tersisa dan tampak luas terpaksa diokupasi untuk sekadar meluruskan badan. Gelaran tikar, tubuh-tubuh manusia yang terlelap tenang di tengah tumpukan barang adalah pemandangan yang jamak di berbagai sudut kapal.

Di kamar, saya berbagi ruang dengan seorang pemuda yang turut naik dari pelabuhan Tual, dengan tujuan Ambon. Beberapa menit kemudian, dua orang lain yang ia sebut adiknya masuk ke ruangan mengisi kasur-kasur yang kosong. Sekalipun, tiket masing-masing menunjukkan kategori yang berbeda. Kedua orang yang menyusul tampak jauh lebih muda. Salah satunya seorang pemuda lain, mengenakan singlet dengan  potongan leher rendah. Yang lainnya adalah seorang gadis dengan paras khas kepulauan. Kami menyempatkan bercakap sebentar, mengajukan pertanyaan retoris tentang tujuan masing-masing.

“Saya turun di Banda Naira.”

Di antara ketiganya, si gadis mengaku pernah menghabiskan seminggu dua di sana, dalam rangka Kuliah Kerja Nyata. Ia mulai bercerita dengan antusias tentang tempat-tempat yang ia kunjungi. Sebagian besar diantaranya telah masuk daftar saya, sebagian yang lain baru pertama kali saya dengar namanya. Tak luput peringatan akan sejumlah hal yang pantang dilakukan selama berkelana di Banda. “Kalo naik tangga-tangga, nda boleh mengeluh.” Tangga-tangga yang ia maksud, mengacu pada situs berbentuk ratusan anak tangga vertikal yang berlokasi di desa Lonthoir, Banda Besar. Gadis itu tak lupa menunjukkan foto-foto dalam beragam pose berlatar tempat-tempat yang ia acu dalam ceritanya. Belakangan saya ketahui namanya Maria (jika saya tak salah ingat). Saya berterima kasih untuk cerita yang penuh semangat dari gadis yang sejatinya berasal dari Timor Leste ini.

Kapal telah jauh lepas sandar. Tidak ada guncangan berarti terasa di dalam kabin, pertanda air laut tenang. Hampir tengah malam, saya memutuskan untuk beristirahat. Saya terbangun cukup dini keesokan paginya, dan mulai melakukan kegiatan yang semalaman saya tunda. Banda Naira masih jauh. Saya mulai mengelilingi isi KM Tidar, dari lambung hingga ujung-ujung geladak.


Kadang-kadang, perasaan nostaligis menyeruak kala saya mulai menangkapi satu persatu detil-detil kapal. Pada kantin-kantin yang menyempil di pojokan. Pada lorong-lorong kapal. Pada orang-orang yang menatap nanar, barangkali terlalu capai untuk tidur sementara kota tujuan masih berjarak berhari-hari. Pada jeda antar lantai dengan lukisan-lukisan besar di dindingnya. Ingatan masa balita menyembur dari salah satu sudut gelap. Pada suatu masa saya pernah tidur bergelar tikar pada sudut yang serupa, pun dalam kapal yang berbeda, tergeletak disela-sela tubuh Papadan Mama.

Sejak era 80-an awal mula operasi, hingga hari ini, agaknya memang tak banyak yang berubah dari Tidar dan kapal-kapal sejenis. Tikar ekonomis yang terserak di lantai kapal pun rasanya memiliki model yang serupa dengan satu yang saya gunakan belasan tahun silam. Terbuat dari anyaman plastik bekas karung dengan alas karton cokelat.  Modernisasi baru benar-benar kasat ketika kaki melangkah ke bagian buritan. Saya mendapati satu unit Indomaret Point berdiri di sana.


Di selasarnya, saya menghabiskan sisa waktu perjalanan dengan memandangi hamparan biru laut Banda yang tertinggal di belakang. Akhirnya, sebuah sudut tenang hanya bagi diri saya sendiri. Memutari mixtape yang telah saya siapkan jauh-jauh hari, hingga pengumuman yang saya tunggu-tunggu akhirnya bergema. Saya bergegas mengalun tubuh ke haluan kapal. Di kejauhan, gunung api Banda yang kesohor mulai tampak. Agung menyembul ditengah-tengah biru samudra. Saya mengecek jam digital di telepon genggam. Hari jelang siang, saya berdoa diam-diam agar masih tersisa cukup waktu untuk mencumbui seisi kota.

“Penumpang yang terhormat, sebentar lagi KM Tidar akan merapat di pelabuhan Banda Naira. Para penumpang yang akan mengakhiri perjalanan di pelabuhan Banda Naira diharapkan untuk mempersiapkan diri.”

Sekelumit tentang KM Tidar:
KM Tidar merupakan kapal penumpang besar yang dikelola oleh PT Pelni. Perjalanan dari Tual ke Banda Naira ditempuh dengan durasi lebih kurang 12 jam. Tiket kapal dapat dibeli di kantor cabang PT Pelni dengan harga Rp. 141.000 plus bea administrasi. Harga tiket termasuk makan tiga kali sehari, tergantung pada rute yang  ditempuh. Kapal tersedia di pelabuhan Tual setiap dua minggu sekali.

P.S:   Judul "Di Atas Kapal Kertas" terinspirasi dari salah satu lagu unit folk nelangsa Banda Naira. Sayang sekali, band keren ini tak berumur panjang. RIP.

Senin, 24 Oktober 2016

Surga Nasi Kuning

01.33 Posted by Arasy Aziz , No comments

Tanpa ragu, saya menganugerahi kota Tual sebagai sepotong surga kecil saya, khususnya dalam urusan makan-memakan. Di dalam sepiring nasi kuning favorit, ada jejak dari seorang wanita rantau yang menempuh perjalanan jauh demi cinta. Di tanah yang lain, olahan tangannya menjadi favorit tetangga-tetangga barunya. 

Satu porsi nasi kuning di salah satu warung di Tual

Sahut-menyahut berkumandang adzan maghrib dari menara-menara masjid kota Tual, penanda bahwa malam telah tiba. Tirai gelap dikerek naik perlahan dari horizon di timur hingga menutupi seluruh kubah langit. Pemandangan awan putih yang memantulkan terik matahari di siang hari mulai berganti gemintang yang terbit satu demi satu. Titik, kemudian titik berpendar yang lain. Polusi cahaya belum benar-benar serius di kota ini. Kecuali di rumah-rumah, penerangan masih teramat minim sehingga kegelapan masih memenuhi jalan-jalan kota ini. Dekorasi langit di atas kepala saya notabene jadi tak punya saingan berarti.

Situasi ini meleluasakan saya untuk mendongak sebagai pengamat yang antusias. Pengalaman yang terasa mewah disbanding kala berhadapan dengan langit di kota-kota di pulau Jawa. Semakin melenakan mengingat tidak mengenakan helm saat berkendara merupakan pemandangan yang lazim di Tual. Berboncengan di atas motor omprengan milik Larson, kami beradu melawan laju angin laut berbau garam. Tidak terlalu kencang, namun meneduhkan kepala.

Saya sendiri baru saja mendarat kembali di Tual lepas perjalanan hampir seharian dari Malang, kota saya bermukim. Melelahkan, mengingat dalam prosesnya melibatkan perjalanan darat dini hari menuju bandar udara Djuanda. Bersambung dengan pesawat langsung ke Ambon, untuk kemudian transit beberapa jam menunggu penerbangan lanjutan ke Tual. Dari Pattimura, saya berganti menumang pesawat kecil dengan baling-baling selama satu jam setengah. Bagian terburuknya, penumpang di sebelah saya memilih tidak mematikan telepon genggam. Di tengah menit-menit persiapan mendarat, gawai tersebut sempat berbunyi tanda telepon masuk. Beruntung tidak terjadi apa-apa hingga kami mendarat sempurna di bandara Karel Satsuitubun, kepulauan Kei. Udara panas khas kepulauan nusa ina langsung terasa.

Waktu menunjukkan lewat pukul setengah tujuh malam ketika saya tiba di pemondokan. Belum tuntas merapikan barang-barang, rasa lapar telah menyergap saya duluan. Saya segera mengajak Larson yang menjemput saya untuk makan bersama. Jauh di kala tubuh saya masih melanglang di udara, saya telah memutuskan hendak makan apa malam ini. 

“Cari nasi kuning, bang!”

Menjelajah berbagai penjuru Indonesia, kita barangkali akan bisa menemukan nasi kuning di mana saja. Tidak ada label “endemik” atau “khas” dari penganan ini. Apalagi di kepulauan Kei, Maluku Tenggara, dimana sawah-sawah musykil untuk digalakkan. Beras di pasar Tual atau Langgur, ibukota Maluku Tenggara, sepenuhnya didatangkan dari Jawa, Sulawesi atau pulau Seram di utara. Bisa ditebak bahwa nasi kuning termasuk olahan yang baru dikenal seiring dengan masuknya beras. Orang-orang Kei telah terlebih dahulu memangan embal sebagai makanan pokok.

Namun ada saja yang membikin beda nasi kuning satu daerah dengan daerah yang lain. Barangkali terletak pada cara ia dihidangkan, dan jejalin interaksi antar manusia yang hidup di seputarnya.

Bagi saya yang kerap menasbihkan diri sebagai penggemar nasi kuning nomor wahid, kepulauan Kei adalah surga dunia. Ia tak hanya unggul dengan pantai-pantai eksotisnya yang selalu menawarkan porsi sunyi yang terukur untuk anjangsana. Di sini, nasi kuning dapat ditemukan tumpah ruah di seluruh pelosok wilayah. Sekalipun, tentu saja, tak gratis. Sepanjang jalan-jalan utama di kota Tual maupun Langgur, lapak-lapak kecil nasi kuning berdiri menunggu pembeli. Dari sekadar tersusun dari satu unit meja kecil, hingga bangunan permanen lengkap dengan kursi bagi tetamu.

Yang juga menarik, nasi kuning-nasi kuning di kepulauan Kei hanya dapat ditemui di malam hari. Ia seolah hadir untuk mengakomodasi kecenderungan orang-orang Kei untuk bersantap di luar rumah.  Larson, kawan saya, mengamini pengamatan saya. Meskipun memiliki banyak saingan, memasing lapak agaknya tak takut merugi karena kebiasaan ini. Lepas maghrib, jalan-jalan dan pedestrian dipenuhi orang-orang yang berderap mencari makan, baik sendiri-sendiri maupun dengan keluarga. Pun tak ditemani orang dewasa, anak-anak kecil mendatangi warung nasi kuing dengan menggenggam lembaran puluhan ribu merupakan pemandangan yang lumrah. Dengan bersemangat, mereka mengutarakan porsi pesanan mereka dalam satuan rupiah kepada mama-mama yang berjualan. Dialog berbalas dengan tangan-tangan cekatan perempuan-perempuan yang meracik nasi kuning beserta lauk tambahannya.

Saya sendiri telah memiliki warung nasi kuning langganan, dikelola oleh seorang ibu separuh baya bernama Hadija bersama anak-anaknya. Meskipun memiliki perawakan, penciri fisik dan cara bertutur yang mirip dengan penduduk setempat, Hadija berasal dari belahan bumi yang sama dengan tempat saya berdomisili saat ini.

“Saya aslinya orang Jawa,” ujarnya.

Hadija tepatnya berasal dari salah satu desa di pelosok Gunung Kidul, Yogyakarta. Kebetulan yang ganjil mengingat alam kepulauan Kei memiliki nuansa yang hampir serupa dengan daerah asalnya; tandus dan berbatu. Struktur tanah Gunung Kidul didominasi oleh batuan gamping, yang notabene merupakan hasil sedimentasi lanjutan dari batuan karang sebagaimana penyusun tanah Kei. Situasi ini, sedikit banyak, memudahkan Hadija menyesuaikan diri dengan alam barunya.
 
Hadija tengah melayani pelanggan-pelanggannya.

Ketibaan Hadija di tanah Kei lepas tiga puluh tahun silam semata-mata untuk merunut kepulangan suaminya. Sejak saat itu, ia menyandang identitas baru sebagai bagian dari orang-orang Kei. Di belakang namanya kini tersemat marga Rhumra. Sebuah marga yang besar di Banda Eli, pulau Kei Besar. Dari namanya, kita bisa menebak muasal keluarga ini. Marga Rhumra memiliki jejak yang jauh pada penguasaan atas tanah pulau Rhun di kepulauan Banda. “Kami adalah keturunan orang Banda yang melarikan diri ke selatan untuk menghindari penjajahan Jepang.” Selain keluarga Rhumra, sebagian besar penjaja nasi kuning di tepian jalan menuju pasar Tual memang memiliki tautan darah yang kental dengan orang-orang Banda. "Saya sepenuhnya orang sini sekarang."

Tiga puluh tahun silam, Hadija kemudian berkenalan dengan apa yang kemudian menjadi sumber penghidupan utamanya hari ini. Untuk pertama kalinya, ia mulai memasak nasi kuning.

Sebagaiamana nasi kuning di negeri-negeri timur nusantara pada umumnya, penciri utama nasi kuning ibu Hadija adalah baluran kunyit yang berani. Ini menjadikan nasi kuning benar-benar “kuning”, menyala-nyala dengan menggoda. Komposisi kunyit yang dilebihkan membuat rasa nasi menjadi lebih tajam dan gurih. Belum lagi jika menghitung santan segar yang diolah di dapur sendiri, diperas dari parutan kelapa yang dipetik di belakang rumah. Dengan lemak kelapa yang bersisa di dalam campurannya, ada perbedaan rasa yang signifikan dibanding nasi berbalur santan instan pabrikan.

Kemewahan terbesar dari nasi kuning di Tual barangkali adalah fillet dari daging ikan yang “hanya mati sekali”. Sebuah anekdot yang secara tepat menggambarkan kesegaran ikan di Tual yang tiada dua. Ikan-ikan tongkol yang baru diangkut dari kapal-kapal nelayan segera berpindah ke dapur milik mama-mama penjual ikan, diolah dengan ragam bumbu dan resep.  

Fillet tongkol dihidangkan beriringan dengan taburan tumis ikan teri kering. Di daerah asal saya, teri adalah jenis ikan musiman yang hanya dapat ditemui pada periode bulan gelap. Sementara di Tual, pasokannya melimpah sepanjang tahun. Membuat saya takjub, mengingat betapa saya dan adik-adik saya kerap bergembira kala perkedel ini terhidang di meja makan keluarga kami.

Agaknya, bukan saya semata yang menjadi pemuja kenikmatan nasi kuning olahan Hadija. Ada tanda air yang terjanjur ia tinggalkan di dalam resepnya, sesuatu yang barangkali tak akan terganti. Sembari melayani pelanggan yang mengerumuni lapaknya, ia mulai berkisah tentang betapa orang-orang merasakan kehilangan ketika ia absen berjualan beberapa hari. Singgasananyadiisi oleh anaknya secara tunggal, sementara sang ibu bepergian ke Ambon menghadiri hajatan keluarga. Selang beberapa hari ketika ia kembali, Hadija harus terlebih dahulu berhadapan dengan pelanggan yang mencecar protes. “Rasanya beda,” tirunya, sembari menyembunyikan rasa bangga tertahan di dalam nada suara.  

Jauh di dalam hati saya mengamini kegelisahan pelanggan-pelanggannya. Namun perut kenyang dan rasa rempah yang tertinggal di lidah menahan saya untuk berkomentar lebih jauh. Saya memilih menikmati pemandangan dihadapan saya; orang-orang Kei yang berkerumun, lauk yang terhidang di dandang-dandang mini, dan setermos besar nasi kuning merona menyala. (*)

Sekelumit tentang Nasi Kuning Ibu Hadija:
Ibu Hadija berjualan di tepi jalan Yos Sudarso, Kota Tual, mulai lepas maghrib hingga pukul 3 dini hari. Satu porsi lengkap nasi kuning dengan fillet ikan tongkol, tumis teri kering, mie goreng, oseng tempe dan telur ayam dijual seharga Rp. 15.000. Selain nasi kuning Tual, racikan nasi kuning a la masyarakat pulau Seram dengan dendeng daging rusa juga patut dicoba.

Minggu, 16 Oktober 2016

Komunitas Terbayang

21.45 Posted by Arasy Aziz , 6 comments

Di tengah siraman terik matahari pukul 11 siang, kelengangan menjadi pemandangan yang lazim di salah satu kantor pemerintahan di Maluku Tenggara. Selain jumlah pegawai yang umumnya dapat dihitung dengan jari, sistem presensi yang ketat juga belum benar-benar berlaku di tempat ini. Masing-masing orang hanya diwajibkan membubuhkan tanda tangan pada selembar kertas dengan daftar nama tercantum di dalamnya. Dua kali sehari pada waktu apel pagi dan sore hari jelang kepulangan ke rumah.

Jam kerja berlaku dari pukul 8 hingga 2 siang, atau 12 pada hari Jumat, tanpa waktu istirahat. Berlangsung selama enam  hari, dari Senin hingga Sabtu.

Apabila tak ada dokumen yang harus digarap atau hal lain yang perlu diurus, pegawai-pegawai ini bisa saja mengeluyur. Memilih kembali ke rumah, menunggui anak di sekolah atau mencari penganan ringan, sebelum kembali ke kantor untuk mengisi absen dan benar-benar pulang. Jika malas beradu dengan sengatan sinar surya dan udara panas khas kepulauan, mereka akan memilih berkumpul di ruang tamu kantor, di depan sebuah televisi. Duduk-duduk bersama, sesekali berceloteh satu sama lain mengomentari gambar-gambar yang bergerak di dalam kotak 21 inci. Siang itu, saya tengah duduk di tengah mereka. Menunggu giliran untuk menghadap salah satu pejabat setempat.

Kanal demi kanal, program demi program yang terus berganti. Berita tentang pemilihan kepala daerah DKI Jakarta memenuhi ruangan ketika saya tiba.

Sebelumnya pada hari- hari yang tak berselisih jauh, calon-calon yang diajukan memasing partai baru saja diumumkan. Persiapan pesta rakyat memunculkan tiga pasang nama yang akhirnya benar-benar memasukkan berkas pendaftaran ke meja Komisi Pemilihan Umum Daerah; Ahok-Djarot sebagai petahana, bersaing dengan Anies-Sandiaga dan Agus-Sylvi. Ada narasi berbau ulasan yang terdengar bertutur dari balik layar, disertai sejumlah prediksi berlandaskan hasil penjajakan berbagai lembaga survey.

Pada adegan berita selanjutnya, nama Ahok kembali muncul, diketengahkan dalam posisinya sebagai seorang gubernur yang menjabat. Yang disorot kali ini adalah kebijakan gusur-menggusur yang terus ia jalankan, terlepas dari kontroversi yang menggelayut di seputarnya. Termasuk, keberaniannya untuk melawan putusan sela peradilan tata usaha negara yang memerintahkan penundaan sementara seluruh aktivitas perataan hunian warga tepian Ciliwung di Bukit Duri. Tak butuh waktu lama bagi rumah-rumah tak beruntung itu menjadi rata digaruk bulldozer. Tidak ada perlawanan berarti, kabarnya, kecuali aksi damai yang digalang warga setempat.

Seluruh pemirsa di ruang tengah kantor itu mematung, agaknya sibuk dengan benak masing-masing, sebelum salah satunya berceletuk memecah kesunyian.

“Ahok ini memang ee. Dia mau dapa ini.” Ada nada seorang pendukung di dalam suaranya, sejenis kekaguman konstituen yang telah yakin dengan pilihannya jauh-jauh hari dan secara swadaya menunjukkannya kepada publik.  Para pegawai lain di ruang yang sama tak tergerak untuk menanggapi. Berita-berita pada jedanya berganti iklan. Salah satu pegawai yang terdekat dari layar berinisiatif untuk memindahkan kanal.

Kini, layar televisi menampilkan wajah yang sangat ikonik. Kehadiran yang identik dengan sebuah produk kapitalisme mutakhir, digadang sebagai investasi paling aman dan menguntungkan. Kini, layar televisi menampilkan Fenny Rose yang tengah berjualan apartemen. Gedung-gedung megah puluhan lantai yang notabene masih berupa purwarupa dan pondasi dasarnya bahkan belum berdiri. Ditawarkan dengan harga yang sesungguhnya membikin dompet mengkerut namun tampak ringan saja oleh cicilan menggiurkan. Kredo-kredo tentang keuntungan yang dijanjikan terus-terusan bersemat. Berbagai fasilitas yang eksistensinya masih tertunda ditambahkan di dalamnya. Kolam renang di puncak atap, hutan mini, kanal-kanal serupa Venesia, hingga akses dekat ke pusat perbelanjaan. Lampu-lampu berkilat dan terang benderang diantara gelap-gelap pekat langit Jakarta. “Senin, harga naik.”

Saya kembali memerhatikan wajah-wajah di sekitar saya. Masing-masing masih mematung, dengan mata yang terpaku di layar. Bedanya, ada mimik yang berubah kecil-kecilan. Dari penyimak khidma,t menjadi wajah-wajah yang separuh terpana. Barangkali terkagum-kagum. Barangkali di dalam senyap, tengah membiarkan imajinasi beradu untuk memiliki salah satu kapling di sana. Dari sebuah kantor di kepulauan Kei, puluhan ribu kilometer jauhnya dari Jakarta.

Imajinasi sesunguhnya adalah perkakas paling tepat guna untuk menjangkau hal-hal yang jauh. Di dalamnya, apa-apa yang tidak lazim dapat terjadi begitu saja di bawah kontrol alam pikir. Televisi dengan segala kemungkinan di dalam kotak kecilnya member stimulasi lebih lanjut terhadap hasrat melanglang itu. Pun kadang-kadang, ia lebih banyak mematikannya.

Namun dalam konteks keindonesiaan, imajinasi menjelma menjadi kata kerja yang asasi. Berpuluh tahun silam, ia adalah modal dasar untuk mengalih bentuk masyarakat remah-remah kolonialisme, menjadi negara yang mandiri. Di dalam zona antaranya, dikenal sebuah bentuk kolektivitas bernama “bangsa”.

Bangsa, oleh Benedict Anderson dirumuskan sebagai “komunitas terbayang”; sebagai sebuah “komunitas politis dan dibayangkan sebagai sesuatu yang bersifat terbatas secara inheren sekaligus berkedaulatan.” Disebut imajiner, karena antara satu anggota dengan anggotanya yang lain hanya dapat membayangkan eksistensi masing-masing. Mereka mengenali sebuah identitas bersama, tanpa benar-benar mengetahui siapa liyan yang meyandang keterangan-keterangan serupa. Secara faktual diri-diri tersebut terpisah oleh ruang dan waktu, namun  memasing merasa cukup terikat pada identitas tersebut, tanpa benar-benar mengetahui pencirinya.

“Bangsa Indonesia” sendiri adalah sebuah kategori yang dirumuskan untuk menyebut orang-orang yang menghuni kepulauan nusantara. Membentang dari Sumatera hingga Nuu Waar. Ada budaya yang amat majemuk disana. Roman budaya manasuka dari orang-orang Batak, Minang, Minahasa, Kei, Betawi, Sunda dan Dayak,. Satu-satunya yang mengikat mereka adalah rasa solidaritas sebagai komune-komune yang pernah tertindas di bawah kolonialisme, meskipun pada kenyataannya bisa jadi berlangsung pada derajat yang berbeda-beda. Belum lagi jika menghitung dan mengelompokkan dengan jeli siapa yang pernah melawan dan siapa-siapa yang justru mengambil keuntungan dari sana. 

Keterbayangan itu, dengan kata lain, mensyarakatkan sebentuk asumsi keseragaman dan kesetaraan nasib. Akhirnya, ia menjadi janji yang perlu diajukan pula, terutama ketika “bangsa” ini beralih bentuk kepada komunitas yang lebih formal. Sebuah “negara”, dengan seluruh komponen dan daya jangkaunya yang dianggap menyeluruh. Pembentukan negara diidealkan mengakhiri daur imajinasi itu, menjadikan segala sesuatu serba kongkrit dan dapat diindera.

Namun, apa yang terjadi di ruang tamu sebuah kantor pemerintahan di Maluku Tenggara bagi saya adalah sebuah pertunjukan bagaimana elemen-elemen imajinasi itu masihlah  jauh dari menemui perwujudannya. Adegan ini, bagi saya, memuat banyak metafor mengenai proses membayangkan yang belum selesai. Alih-alih, justru menjangkau dimensi yang kian beragam dan rumit.

Yang kasat mata ialah perihal daya jangkau pengawasan pemerintah pusat terhadap aparat daerahnya. Melalui berbagai peraturan perundang-undangan, birokrasi Indonesia barangkali telah dirancang seefisien mungkin. Aparat diidealkan sebagai orang-orang yang siap mengabdi demi kepentingan masyarakat. Otonomi daerah digalakkan, dengan kewenangan yang besar dibebankan kepada daerah demi tercapainya tujuan negara. Namun itikad ini agaknya tidak diikuti dengan modal ekonomi dan sosial yang berkecukupan. Pemerintah pusat di ibukota bisa jadi mengklaim reformasi birokrasi tengah berjalan dengan baik, namun kenyataan di daerah kerap kali amatlah timpang. Aparat yang menonton televisi di tengah jam kerja hanyalah sebuah puncak gunung es.

Kita barangkali dapat menyalahkan jarak yang jauh dari pusat pemerintahan sebagai akar permasalahan. Namun bukankan itu semua sudah menjadi risiko ketika memutuskan membentuk sebuah negara yang wilayahnya mencakup kepulauan maha raksasa? Kita bisa jadi menekankan bahwa otonomi  menyebabkan pengawasan kinerja aparat harusnya selesai di level daerah. Namun apabila inefisiensi itu demikian sistematis hingga menjangkau petinggi-petinggi pemerintahan setempat, siapa lagi yang selayaknya kita harapkan untuk menegur?

Para pegawai yang menonton televisi di Maluku Tenggara adalah metafor dari masalah-masalah birokratis di atas yang belum selesai. Apa yang tengah mereka tonton, dan reaksi mereka terhadapnya, menunjukkan pergulatan proses mewujudkan imajinasi Indonesia pada aras yang berbeda.

 Televisi berhasil membuat jarak antara Kepulauan Kei dan Jakarta menjadi tak benar-benar berarti; apa yang terjadi di salah satu sisi seolah-olah menjadi milik sisi yang lain. Masalahnya, Jakarta an sich lebih banyak mengambil porsi pemberitaan, atau lebih tepatnya, melakukan monopoli. Apa yang terjadi disana adalah sebuah realitas yang diinjeksikan ke ruang keluarga, dan diterima secara sukarela. Televisi mengkonstruksikan sebuah dunia ideal, apa yang kemudian menjadi mimpi-mimpi yang tidak sepadan ketika dibicarakan dalam ruang hidup daerah. Mengapa, semisal, orang-orang Kei yang hidup berkalang laut membutuhkan apartemen? Apa pentingnya pemilihan gubernur DKI bagi alam demokrasi di Langgur?

Televisi menciptakan standar hidup dengan bercermin pada kelas menengah Jakarta, ditengah persebaran akses terhadap ekonomi dan sumber daya yang belum merata. Para pegawai yang menonton bersama saya menerima jejalan videografi promosional tentang apartemen di Jakarta, membayangkan kemungkinan perputaran uang diseputarnya. Membiarkan diri alpa menengok kemungkinan peningkatan nilai guna di habitat hidupnya, yang menanti untuk dimanfaatkan bagi kemajuan daerah. Yang tertinggal, kemudian, tetap tertinggal.

Imajinasi di masa lalu boleh jadi berfungsi sebagai perajut jalinan sebuah bangsa. Namun pada hari ini, maknanya telah benar-benar harfiah untuk menggambarkan jurang yang tidak terjangkau antara warga Indonesia kebanyakan. Imajinasi tentang Indonesia justru telah menjauh dari alasan asali kenapa ia dimulai; sebagai wahana untuk mencapai kesetaraan hidup yang layak. Pada hari ini, ketimpangan tersebut justru dipertontonkan secara vulgar lewat hubungan satu arah televisi dan pemirsanya di daerah. Ketimpangan itu justru dirayakan, meskipun dengan malu-malu. Pada akhirnya, yang ditunjukkan secara lugas hanyalah sanggahan di depan kamera televisi. (*)