Fiat Lux

Jumat, 12 Januari 2018

Sekuens Merah

22.37 Posted by Arasy Aziz , , , No comments

Menghabiskan sore dengan berburu foto di Kampung Cina, Bengkulu. Pembenahan yang menarik dan kekinian membuat kawasan tua ini mulai semarak kembali.


Dalam sistem kepercayaan asali orang-orang Tiongkok, kehidupan diyakini tersusun atas lima unsur utama: air, api, kayu, logam, dan tanah. Hubungan kelimanya saling terpaut satu sama lain, bercampur dan beririsan dalam relasi siklikal. Yang satu dapat melemahkan yang lain, atau justru menguatkannya. Masing-masing elemen kemudian direpresentasikan dengan warna yang berbeda-beda. Air dengan hitamnya, api dengan merahnya, kayu dengan birunya, logam dengan hijaunya, dan tanah dengan kuningnya.

Diantara kelimanya, api agaknya paling mencuri perhatian. Ia adalah unsur yang dinamis dalam bentuk antara. Perlambang gairah dan daya hidup, keberuntungan yang hakiki. Jilatan api yang menghangatkan seolah menjadi simbol bagi energi yang direproduksi terus menerus. 2000 tahun silam, orang-orang Tiongkok mulai mengadopsi warna merah sebagai warna kebesarannya. Warna merah dibalurkan ke permukaan berbagai ornamen, ke lampu-lampu, ke dekorasi dinding. Gedung-gedung penting di cat dengan warna merah menyala. Tiongkok hari ini pun masih menggunakan merah sebagai warna kebangsaan.

Hubungan erat dengan warna merah tetap dibawa ke tanah-tanah yang jauh, perantauan-perantauan mereka, termasuk ke nusa antara yang kelak menjadi Indonesia.

Ada banyak argumen yang berkembang mengenai titik mula migrasi orang-orang Tiongkok dengan merahnya, ke Indonesia. Pun demikian dengan alasan dibaliknya. Konon, orang-orang Tiongkok datang pertama kali dengan tujuan untuk menyebarluaskan ajaran agama Buddha. Tarikh kehadiran mereka telah tercatat sejak abad ke-5, oleh nama-nama seperti I Tsing. Pendeta-pendeta yang terkenal itu melakukan pendekatan kepada raja-raja lokal, hingga agama Buddha diadopsi sebagai agama resmi kerajaan.

Banyak pula yang meyakini bahwa mereka datang bergerombol dengan armada Laksamana Cheng Ho yang mengunjungi Jawa pada 1416 M. Ma Huan, juru tulis armada itu mencatat bahwa ketika kapal-kapal berlabuh di pantai utara Jawa, mereka telah disambut oleh kaum mereka sendiri. Orang-orang Tiongkok yang permulaan ini akhirnya bermukim di pesisir, dan terus berlipat ganda.

Keberagaman argumen itu membawa kita pada sebuah simpulan penting: alih-alih dalam satu gelombang besar, orang-orang Tiongkok datang ke Indonesia dalam tahapan demi tahapan yang amat panjang. Melintasi beragam rentang waktu sesuai sejarah perkembangan bangsa ini. Selama periode itu, terjadi pembauran alami antara sang asing dengan penghuni nusa antara. Semisal yang berkelamin laki-laki diantaranya memilih menikah dengan penduduk setempat, menghasilkan keturunan-keturunan dengan label sosial baru; Peranakan Tionghoa.

Namun kolonialisme Eropa menyendat upaya asimilasi itu. Ketika era kolonial Belanda dimulai, diberlakukan hukum perdata baru yang membagi masyarakat nusa antara dalam tiga kelas sosial. Di pucak struktur masyarakat ada orang-orang Eropa. Orang-orang Tionghoa bersama keturunan Timur Tengah ditempatkan di tengah-tengah piramida sosial, sementara masyarakat pribumi didudukkan sebagai kelas terendah. Konstruksi hukum ini sukses besar menarik garis batas antara orang Tionghoa dengan kelas sosial yang lain. Sekalipun tak kasat mata dan seolah hanya mewujud dalam teks, namun batas-batas itu semakin mengisolasi kemungkinan pergerakan sosial sejak dalam bentuk yang paling sederhana, seperti perkawinan.

Penyekatan antar kelas sosial di Hindia Belanda terus dilakukan. Orang-orang Tionghoa dan keturunannya kemudian diberikan previlase sebagai ganti kepatuhan atas pembatasan aktivitas mereka di lapangan politik. Di level penataan kawasan urban, orang-orang Tionghoa semakin terasing dengan tinggal di dalam enclave-enclave yang disediakan kolonial, melahirkan kawasan-kawasan pecinan yang tersebar di seluruh Indonesia. Menghasilkan pemukiman-pemukiman berwarna merah.

Di Bengkulu, encvlave itu jamak dikenal sebagai Kampung Cina.

Letak Kampung Cina di Bengkulu bersebelahan dengan Benteng Marlborough, dan hanya sepelemparan batu dari bibir pantai Panjang. Keduaya dapat diakses dengan berjalan kaki 5 hingga 10 menit. Kampung ini bertumbuh seiring dengan lesakan pertumbuhan orang-orang Tionghoa di Bengkulu pada akhir abad 17. Mereka direkrut secara khusus oleh East Indie Company (EIC), perusahaan dagang inggris, untuk menyokong aktivitas perdagangan lada di Bengkulu. Sebagian besar ditugasi sebagai kuli, dan hanya ada sedikit yang menjalankan aktivitas jual beli.




Warna-warna merah yang dibawa dari Tiongkok daratan segera menjadi unsur dekoratif yang dominan. Menyebar dari klenteng, ke genting dan kusen pintu rumah. Sejalan dengan filosofi dasarnya, warna-warna merah itu memaksa keberuntungan terus menaungi Kampung Cina. Karena kedekatannya dengan Fort Marlborough yang menjadi pusat administrasi kolonial di Bengkulu, kawasan itu segera bertumbuh sebagai poros perputaran uang.  Kampung Cina menjadi pintu ekspor-impor hasil bumi Bengkulu ke luar daerah. Bau lada semakin pekat di tengah transaksi dan pertukaran. Orang-orang Tionghoa perlahan meninggalkan status kuli, dan semakin meramaikan lapangan perniagaan.

Pasca kemerdekaan, Kampung Cina bertahan sebagai pusat perekonomian Bengkulu. Wilayah Kampung Cina semakin semarak dengan toko-toko. Kebijakan Orde Baru yang diskriminatif di bidang politik terhadap orang-orang Tionghoa agaknya memiliki andil terhadap proses pemapanan situasi ini. Perdagangan semakin menjadi profesi stereotip bagi orang-orang Tionghoa.

Namun situasi berubah cepat bagi Kampung Cina pada awal 1980an. Mengutip artikel Aditya Ramadhan, hal ini disebabkan oleh pembangunan sepasang jalan lingkar di seputaran Bengkulu, di sisi barat maupun timur. Keduanya memberikan medan menggiurkan baru bagi calon investor. Toko-toko baru dibuka di sempadannya, masyarakat mulai memperoleh alternatif terhadap kebutuhan dasarnya. Perlahan-lahan, denyut nadi ekonomi bergeser. Kampung Cina ditinggalkan, kehilangan rona merahnya.

Pada hari ini, rona merah telah berganti dominasi warna abu-abu. Satu-satunya aktivitas yang tampak signifikan di Kampung Cina adalah walet-walet yang beterbangan di sore hari. Mereka menghuni rumah-rumah beton yang sengaja dibangun untuk mendulang sarang-sarang mereka. Bentuknya relatif seragam, kotak-kotak dan dingin. Dri kejauhan, rumah-rumah walet tampak mencuat kukuh dari belakang rumah-rumah nelayan di sekelilingnya. Struktur ini menggantikan lunas-lunas lengkung atap rumah berlenggam Tiongkok yang khas.






Adapun manusia-manusia penghuni Kampung Cina tampak lebih menutup diri. Hari masih sore, namun sebagian besar pintu-pintu rumah dan toko ditinggalkan tertutup. Rumah-rumah yang berusia lebih tua dibiarkan tak terurus. Beberapa sudutnya ditumbuhi tanaman gulma dan rumput liar. Pintu-pintu meranggas dan berubah kecokelatan, pada fasenya yang segan hidup, mati pun enggan.

Sore itu, saya dan Fani mengunjungi Kampung Cina. Kami berkendara dari arah pantai Panjang, lalu memasuki salah satu gang di Kampung Cina. Motor kami berhenti di depan salah satu rumah yang hampir rubuh. Menyisakan dinding bata dan tanaman liar yang merayap di hampir semua sudutnya. Pintu dan daun jendela tak lagi ditempatnya. Atapnya hilang tak berbekas, memberikan pandangan leluasa ke langit. Ke lanskap burung-burung walet yang berlalu lalang riuh di udara, menuju peristirahatan artifisialnya.

Saya dan Fani sesekali mengambil gambar, sesekali memerhatikan sisa-sisa kejayaan dalam detil arsitektur Kampung Cina. Suasana sore itu menjadi serba sinematik. Fani mengenakan outfit merah menyala, tampak sebagai satu-satunya yang berpendar-pendar di tengah dominasi abu-abu Kampung Cina. Kehadirannya di tengah-tengah kawasan itu tampak kontras dan ironis.

Namun nuansa muram itu agaknya tak akan berlangsung lebih lama lagi. Secara bertahap, pemerintah kota Bengkulu mulai berusaha mempercantik Kampung Cina, dimulai dari sisinya yang beririsan dengan jalan raya. Rumah-rumah dicat warna-warni, mengikuti tren yang berkembang di kota-kota lain. Trotoar pun diperlebar agar pejalan kaki dapat bergerak lebih leluasa. Di beberapa sisinya dipasang bangku taman cantik untuk rehat sejenak. Kampung Cina mulai menarik perhatian muda-mudi Bengkulu, perlahan-lahan mengembalikan warna merahnya ke dalam bentuknya yang lain. (*)




Sekelumit tentang Kampung Cina, Bengkulu:
Kawasan Kampung Cina terletak di Jl. Panjaitan, Kel. Malabero, Kota Bengkulu. Lokasinya berdekatan dengan Benteng Marlborough. Tidak ada biaya masuk untuk mengunjungi kawasan ini.  Singgah pula ke Kampung Nelayan Marabelo yang terletak berdekatan untuk berbelanja ikan asin dengan berbagai varian.

0 komentar:

Posting Komentar