Fiat Lux

Kamis, 11 Januari 2018

Marlborough, Marlborough

05.49 Posted by Arasy Aziz , , , 4 comments

Purna mengunjungi Makassar, saya melanjutkan liburan dengan perjalanan setengah tak terencana ke Bengkulu, kota asal kekasih saya, Fani. Ia berkali-kali mengatakan bahwa di Bengkulu “ngga ada apa-apanya.” Namun tak butuh waktu lama bagi saya untuk menemukan sisi-sisi menarik kota ini dan kepiluan-kepiluannya yang terpetrifaksi dalam tubuh Benteng Marlborough. Menyebut nama Marlborough dua kali, menggambarkan dua sisi cerita itu.

  
Bandar Udara Soekarno Hatta, pukul 5.38 pagi.

Mata saya masih terbuka setengahnya, terkantuk-kantuk namun berusaha keras agar tidak terlelap. Kadang-kadang diselanya, saya tertawa-tawa sendiri.

Rasa kantuk itu menjadi alarm alamiah agar saya tidur dengan durasi yang sedikit lebih panjang. Malam sebelumnya, saya baru saja tiba dari Makassar setelah perjalanan hampir seminggu, hanya untuk singgah sekejap di asrama. Semata-mata mengganti logistik perjalanan saya dengan lembar-lembar pakaian yang lebih baru dan meninggalkan barang-barang yang relatif tidak diperlukan. Buku-buku baru pesanan saya dari toko buku online yang telah tiba tak lupa saya masukkan ke dalam tas. Bergantian dengan pendahulu mereka yang telah tuntas saya baca.

Saya kemudian tidur jelang pukul satu, dan terbangun kembali jelang pukul empat. Bersiap-siap, lalu mengejar bus Damri paling pagi menuju bandara kembali. Puluhan menit kemudian, saya tiba di pintu keberangkatan terminal 1B, tempat pesawat-pesawat menuju Sumatera datang dan tinggal landas.

Kali ini, saya hendak menuju ke Bengkulu.

Fani tengah berada di sana untuk menghabiskan jatah liburan akhir tahun dari kantornya. Ia sama sekali tak mengetahui rencana kunjungan saya. Yang ia tahu, saya baru saja tiba dari Makassar dengan letih dan bingung dengan cara menghabiskan sisa liburan yang masih berhari-hari. Padahal di detik yang sama, saya sedang menunggu pesawat menuju kotanya.

Membayangkan reaksinya ketika semerta-merta mengetahui bahwa saya berada di kotanya membuat saya tak bisa menahan geli. Agar kejutan semakin rapi, saya mengiriminya pesan teks berisi keluhan demi keluhan tentang Jakarta yang membosankan.

Di pesawat, saya mulai merancang skenario terbaik untuk memberitahukan kedatangan saya. Ada beberapa pilihan, sejatinya. Pertama, mengekor agenda ziarah ke makam Ayahnya dengan diam-diam. Namun pilihan ini saya urungkan, karena muncul tiba-tiba di komplek pemakaman sepertinya kelewat kurang ajar. Pun, saya khawatir dikira mahluk dari dimensi antara, sejenis siluman jadi-jadian. Pilihan lainnya, saya akan duduk manis di depan resepsionis hotel miliknya, menunggu dia pulang. Pilihan ini saya nilai kurang etis, karena tiada satupun orang di sana yang saya kenal. Akhirnya saya memutuskan berfoto saja di depan landmark kota. Pilihan yang tampak paling moderat, aman dan nihil risiko.


Seketika pesawat mendarat di bandara Fatmawati Soekarno, saya bergegas menuju ke Pantai Panjang. Pantai ini bisa jadi merupakan pantai paling terkenal di seantero Bengkulu, membentang lebih dari 7 kilometer dari utara ke selatan. Ia menghadap langsung ke Samudra Hindia tanpa penghalang apapun, menjadikan ombaknya bergulung-gulung dan terlarang untuk dimainkan. Di sana-sini dipancang tanda larangan mandi atau berenang. Sesekali, petugas SAR dengan pakaian oranye menyala akan berpatroli dengan motor-motor trail.

Yang berlalu lalang di tepian pantai siang itu bukan saja petugas-petugas berbaju oranye menyala. Beberapa delman hias disewakan bagi pengunjung yang hendak menyusuri garis pantai namun malas berpeluh-peluh.

Kusir yang belum kebagian penumpang memarkirkan delmannya di dekat bibir pantai, terantuk-antuk dilamun semilir angin pantai dan suara ombak. Setengah tertidur, kemudian terbangun kembali, utamanya oleh deru mesin motor. Kali ini tukang cendol yang membelah kesunyian antar sadarnya, lalu penjual es tebu.


Pantai Panjang siang itu relatif ramai. Sekolah-sekolah tengah meliburkan diri pasca penerimaan rapor. Turis-turis lokal menyemuti kota Bengkulu dari wilayah-wilayah yang lebih pelosok, dari dataran tinggi di Curup atau Lubuklinggau di pedalaman Sumatera Selatan, demi menghirup udara bergaram. Panas yang mencabik tak menghalangi antusiasme mereka. Anak beranak berlalu dalam rombongan-rombongan kecil di bawah terik matahari. Saya pun memilih salah satu sudut yang relatif lengang dan representatif untuk berswafoto, lalu mengirimkan hasilnya lewat aplikasi pesan instan.

Ponsel saya bergetar sedetik dua, saya mendapat pesan balasan dari Fani. Ia kemudian menelepon saya dengan Facetime, menunjukkan wajah manisnya yang selalu kemerah-merahan itu. Kali ini ia merengut, mengomel sebentar, mencuap serapah-serapah, namun berjanji segera menjemput. Diujung saluran yang lain saya tertawa sepuas-puasnya.

Beberapa menit kemudian, ia tiba dihadapan saya. Kami berpelukan sejenak, lalu pulang dengan beriringan. Sepanjang jalan saya tak bisa berhenti menggodanya. Di hotelnya, saya bertemu dengan keluarganya, sebelum undur diri untuk mengisi siang yang tersisa dengan tidur.

##

Sore hari, saya terbangun oleh ketukan pelan di pintu kamar saya. Sayup-sayup, saya dapat mendengar Fani memanggil-manggil nama saya. Saya diminta bangun dengan segera. Ia rupanya mendapat kunjungan kejutan yang lain. Tantenya sekeluarga baru saja tiba dari perjalanan panjang Pekanbaru-Bengkulu, dan mereka hendak mengajak saya berkenalan. Saya bergegas mencuci muka, berganti baju, lalu menemui mereka; Tante Ema, Om Darwan dan kedua anaknya. Kami bercuap-cuap sebentar. Sejurus kemudian saya sudah diajak untuk berkeliling kota. Tujuan utamanya adalah ikon Bengkulu yang lain, Fort Marlborough. Sebelumnya ketika mengatakan hendak ke Bengkulu kepada Fani, benteng ini selalu saya sebut berkali-kali. Keindahannya memang telah tanggung kesohor.

Perjalanan menuju Fort Marlborough adalah perjalanan menelusuri garis Pantai Panjang. Semakin sore, pantai itu semakin padat oleh pengunjung. Jalan yang tadinya lengang kini disemuti oleh aneka rupa penjaja di bahu-bahunya. Sebagian menawarkan makanan, yang lain menawarkan tanda mata khas Bengkulu. Kendaraan lalu lalang dan berhenti seenaknya mencoba parkir, menimbulkan kemacetan hitungan menit. Saya mengamatinya dari jendela mobil yang terus melaju. Sepanjang perjalanan, saya banyak mengobrol dengan Om Darwan yang punya selera humor yang menyenangkan dan cenderung gelap.

Kami tiba pada seksi Pantai Panjang lain, pada sisi dimana tepian jalan bersebelahan langsung dengan pasir pantai. Pada bagian ini, pondok-pondok kecil didirikan menghadap laut lepas, memberi tempat tetirah bagi pelancong yang hendak menghabiskan sore. Sementara sisi jalan yang lain disesaki oleh aneka ragam restoran. Pintu-pintunya yang menghadap laut menjadikannya eksotik, menjanjikan keleluasaan bau garam masuk ke ruangan-ruangan. Mobil kami kemudian berhenti di salah satunya, sebuah restoran bernama Marola. Kami diminta memilih sendiri ikan-ikan yang akan kami makan. Saya, Fani dan adiknya sepakat memilih seekor kakap merah untuk disantap bertiga. Kami memilih duduk lesehan di salah satu saung, dengan pandangan yang memadai ke kaki langit. Saya memerhatikan dekorasi restoran itu. Beberapa pepatah dalam bahasa setempat dicetak besar-besar dan digantung tersebar.

Usai bersantap, kami kembali kepada perjalanan kami, menuju Marlborough yang telah dekat. Jelang benteng itu, hamparan pasir dan samudera segera berganti dengan lapak-lapak ikan asin berbau pekat. Dari kejauhan, struktur bangunan Marlborough mulai kelihatan. Ia berdiri kukuh membelakangi samudra Hindia, di atas sebuah bukit buatan.


Dari atas tempatnya berdiri, sang benteng agaknya telah menyaksikan banyak hal. Cermin dari paranoia terhadap sang liyan, ekor dari kehendak akan penguasaan absolut atas sumber daya alam. Pada mulanya lada, lalu beranjak kepada emas dan batu bara.

Konteks pendirian Marlborough dapat ditarik jauh sejak masuknya kekuasaan Inggris di Bengkulu pada 1628. Inggris menjadi pihak yang terusir dari pulau Jawa, setelah Belanda berhasil memonopoli pasar. Yang disebut belakangan menjalin persekutuan dengan Kerajaan Banten yang menguasai akses-akses perdagangan di selat Sunda dan laut Jawa. Inggris menjadi pihak yang terusir dan perlu mencari markas baru. Setelah mengelana di utara, pilihan akhirnya dijatuhkan kepada sebuah wilayah di pantai barat Sumatera, bernama Bengkulu. Sejak saat itu, Bengkulu resmi menjadi koloni Inggris, menyempil di antara kekuasaan Belanda yang meluas di seluruh nusa antara.

Memilih Bengkulu, yang notabene terisolasi dari wilayah-wilayah sekitarnya, menunjukkan betapa berat keterdesakan yang tengah dialami Inggris. Sejak gegar kolonialisme dimulai, Bengkulu sama sekali luput dari peta laut perdagangan dunia. Membangun pelabuhan-pelabuhan raksasa menjadi sulit oleh deru samudra Hindia yang berhadap-hadapan tanpa pelindung alami. Situasinya amat timpang dengan pantai-pantai di timur yang bersebelahan dengan selat Malaka. Di Malaka, perairan Karimata dan sekitarnya, kapal-kapal terus berlalu-lalang dari hari ke hari.

Namun dengan segala keterbatasan itu, Inggris berhasil mempertahankan kekuasaan dalam kurun 140 tahun. Sebagai penanda kekuasaan itu, Inggris mendirikan benteng pertamanya, Fort York, di muara sungai Serut. Pemilihan lokasi yang buruk menyebabkan penghuninya menjadi korban rentan wabah disentri dan malaria. Fort York pun didera pelapukan akut, sehingga ketika hujan turun, air akan menggenangi ruangan-ruangannya. Pada awal abad 18, administrator kolonial Inggris kemudian mengajukan proposal pembangunan benteng baru, sembari bernegosiasi dengan feodal-feodal setempat demi lokasi yang lebih strategis. Padal 1714, pembangunan Fort Marlborough dimulai. Tak hanya mendirikan benteng, Inggris bahkan menguruk tanah untuk membuat bukit baru agar posisi mereka menjadi lebih tinggi. Lima tahun kemudian, Marlborough mulai dihuni.


Selama ratusan tahun kekuasaan Inggris di Bengkulu, Marlborough menjadi titik pusat bagi jalannya penjajahan di semua dimensi, terutama politik dan ekonomi. Struktur bangunanannya yang disebut-sebut menyerupai kura-kura seolah menjadi sampel metaforis bagi tempat berlindung yang kokoh. Di sekelilingnya digali parit-parit sebagai jebakan. Beberapa pertempuran kecil kerap pecah dan memakan banyak korban. Yang terkenal adalah Thomas Parr dan ajudannya, yang dimakamkan di dekat pintu masuk benteng.

Kekuasaan Inggris atas Marlborough baru berakhir pada 1824 melalui jalan damai. Dengan perjanjian hitam di atas putih, Inggris dan Belanda saling bertukar Bengkulu dan Singapura. Namun pada saat itu, agaknya problem keterisolasian Bengkulu dari dunia disekelilingnya belum benar-benar selesai. Belanda yang datang belakangan pun tampak alpa mengatasi masalah itu. Berbagai potensi sumber daya alam lain ditemukan. Eksplorasi emas dimulai pada 1890, namun relatif nihil memberikan dampak. Marlborough yang masih berdiri, menjadi saksi kegetiran itu.


Bengkulu hari ini masih menjadi provinsi termiskin di Sumatera. Di banyak bagiannya, presentase  penduduk miskin mencapai lebih dari 20 persen. Permasalahan daerah ini demikian kompleks, sebagian besar dilatari oleh problem infrastruktur dan korupsi yang akut. Wilayah Bengkulu tidak menjadi jalur favorit dalam perjalanan lintas Sumatera. Sebagian kerusakan di jalan rayanya bahkan dibiarkan tak diperbaiki. Bahkan untuk mencapai Padang dan Bukittinggi, bus-bus memilih memutar melalui Sumatera Selatan, Jambi, sebelum masuk ke Sumatera Barat. Bengkulu pun mencetak rekor sebagai satu-satunya daerah yang gubernurnya tiga kali beruntun tersangkut kasus korupsi. Dalam percakapan kami sebelumnya, Om Darwan tanpa ragu menyebut Bengkulu sebagai “kota mati”.

Marlborough saya kelilingi sekali lagi, menebak-nebak kemalangan mana lagi yang telah disaksikannya. Cerita-cerita getir dan masalah-masalah yang perlu dipecahkan.

Saya kemudian memutuskan naik ke salah satu puncak bastionnya, dan segera mengingat kembali sisi lain cerita ini. Cinta yang sedang saya kejar. Dari sana, hamparan biru samudera Hindia segera tampak, meluas ke ujung yang entah. Menghempaskan buih di puncak-puncak gelombang. Pemandangan yang sungguh memanjakan mata. Burung-burung walet terbang bergerombol di atas kepala saya, meyeberang dari satu lingkar langit ke lingkar langit yang lain. Saya menengok ke belakang, kepada Fani, kepada keluarganya, orang-orang baru yang memberikan kehangatan di negeri yang jauh. Lalu tersenyum sendiri. Sekurang-kurangnya dalam kosmos yang lebih sederhana, saya telah memberikan suka cita yang lain bagi benteng ini. Melewati malam-malam dingin.


Saya menatap samudra Hindia sekali lagi, menyadari bahwa masih banyak hal yang perlu dilakukan pemimpin-pemimpin kita untuk membangun negeri ini; Sebuah negeri pasca kolonial yang masih terus berbenah mengejar ketertinggalannya. Memastikan bahwa komunitas maha raksasa ini memang layak untuk dibayangkan, sebagai satu kesatuan saudara yang saling bersolidaitas. (*)

Sekelumit tentang Pantai Panjang dan Fort Marlborough:
Pantai Panjang dan Fort Marlborough adalah dua obyek wisata paling terkenal di Bengkulu, dengan letak yang berdekatan. Masuk pantai Panjang tidak dipungut biaya, sementara Fort Marlborough dikenai tiket masuk seharga Rp. 5000. Keduanya dapat diakses dengan kendaraan online yang kini telah beroperasi di Bengkulu.

Restoran Marola merupakan salah satu restoran seafood paling terkenal di Bengkulu. Biasanya harga ikan di sana dihitung per 100 gram. Terletak di Jalan Pariwisata. Untuk tempat menginap, saya merekomendasikan Hotel Bidadari yang terletak di ruas jalan yang sama. Room rate-nya berkisar pada harga Rp. 150.000-Rp. 250.000, dengan keistimewaan akses langsung ke pantai Panjang. Terima kasih kepada Fani sekeluarga yang telah menerima saya dengan sangat baik.  

4 komentar:

  1. Gaya menulisnya seperti menulis novel nih. Rate hotelnya di Hotel Bidadari itu cukup terjangkau ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Leyla. Iya, dan kamar-kamarnya berbentuk bungallow, jadi menyenangkan buat liburan keluarga. Salam.

      Hapus